Airbus, raksasa penerbangan Eropa, telah menandatangani perjanjian yang inovatif dengan perusahaan robotika Tiongkok UBTech untuk menguji robot humanoid di fasilitas manufaktur pesawat. Kesepakatan ini menandai langkah terobosan dalam mengintegrasikan teknologi robot humanoid ke dalam industri penerbangan komersial yang kompleks dan presisi tinggi.
Dilansir dari Digitaltrends, robot yang akan diuji adalah Walker S2, robot humanoid berukuran penuh yang dikembangkan oleh UBTech. Berdiri setinggi 176 sentimeter dan beratnya 70 kilogram, Walker S2 dirancang khusus untuk aplikasi industri. Robot ini mampu berjalan dengan kecepatan sekitar dua meter per detik dan dilengkapi dengan tangan dan lengan yang gesit dengan 11 derajat kebebasan gerakan. Setiap tangan dapat mengangkat hingga 7,5 kilogram, sementara setiap jari dapat mengendalikan beban satu kilogram.
Fitur paling canggih dari Walker S2 adalah kemampuan untuk mengganti baterainya sendiri secara otomatis, memungkinkan robot bekerja siang malam tanpa gangguan pengisian daya yang berkepanjangan. Robot juga dapat memutar pinggangnya hampir 180 derajat, memungkinkannya memanipulasi komponen kompleks dengan fleksibilitas tinggi. Dilengkapi dengan sistem visi AI dan teknologi pengenalan obyek, Walker S2 dapat beradaptasi dengan berbagai tugas di lini produksi.
Airbus berencana menggunakan Walker S2 untuk tugas-tugas berulang dan intensif dalam manufaktur pesawat, area yang terkenal memerlukan presisi ekstrem, protokol keselamatan ketat, dan performa terpercaya. Robot humanoid menawarkan keuntungan dibanding robot tradisional karena daya adaptasi mereka yang tinggi dan kemampuan menyelesaikan berbagai tugas tanpa perlu retrofit mahal.
UBTech telah berhasil menghasilkan lebih dari seribu unit Walker S2 pada fasilitas manufakturnya di Liuzhou, Tiongkok. Permintaan pasar sangat tinggi, dengan perusahaan menargetkan produksi 10 ribu unit pada tahun 2026. Selain Airbus, Walker S2 juga telah diadopsi oleh produsen otomotif BYD, perusahaan elektronik Foxconn, dan produsen semikonduktor Texas Instruments.
Kesepakatan Airbus dengan UBTech mengikuti tren industri global yang mulai mengakui potensi robot humanoid dalam lingkungan manufaktur yang menuntut. Para ahli memprediksi adopsi masif robot humanoid akan dimulai pada tahun 2028. Kemitraan ini menunjukkan bahwa aerospace manufacturing bukan hanya sekali industri yang mengadopsi teknologi robot humanoid, melainkan sektor di mana inovasi teknologi manufaktur terus berkembang pesat untuk meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas.
Pax Insight
Kerjasama Airbus dengan UBTech menandai pergeseran signifikan dalam manufaktur penerbangan dari otomasi konvensional berbasis robot balok kaku menjadi pendekatan hybrid dengan robot humanoid yang adaptif, mengisyaratkan transformasi industri di mana fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi akan menjadi keunggulan kompetitif utama dalam rantai produksi aerospace yang semakin kompleks.



