Memporak-porandakan pasar smartphone flagship sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh Xiaomi melalui T Series mereka. Dan di 2025 ini, mereka benar-benar menghancurkan semua perkiraan banyak orang, karena Xiaomi 15T Pro meluncur dengan fitur yang tidak disangka banyak orang.
Salah satu yang paling membuat banyak orang terkesima adalah kehadiran kamera periscope dalam sebuah smartphone di bawah 10 juta, yang memiliki kualitas yang tak kalah dengan smartphone flagship. Tak ketinggalan, mereka juga dengan berani meningkatkan ukuran layarnya, menjadi yang terbesar di semua lini smartphone mereka, setidaknya untuk saat ini.
Bahkan, saking menariknya janji-janji manis dari Xiaomi, saya pun akhirnya memutuskan untuk membeli Xiaomi 15T Pro dari kantong saya sendiri dan menjadikannya daily driver. So, gimana pengalaman jujur menggunakan smartphone yang satu ini? Yuk kita bahas!
Desain Minimalis, Tidak Memaksakan Desain Berlebihan

Dari segi estetika, Xiaomi 15T Pro mengusung desain yang sederhana namun tampak elegan, tanpa harus memaksakan desain yang berlebihan. Rangkanya menggunakan Aluminium Alloy berbentuk datar yang dibalut dalam warna metalik, tersedia dalam tiga varian: Mocha Gold, Gray, dan Black.
Nah di bagian belakang, covernya terbuat dari polycarbonat, dengan finishing yang cukup high-end yang halus untuk disentuh serta dapat dengan efektif menahan noda sidik jari. Jadi, saya tidak perlu sering-sering mengelap bagian belakang perangkat ini.
Body-nya tidak dibuat melengkung, yang dimana saya sangat apresiasi. Memang, tidak semua orang merasa nyaman menggunakan perangkat yang tidak memiliki layar dan body melengkung. Namun Xiaomi dengan sempurna berhasil membuat walaupun tidak melengkung, frame bagian sampingnya nyaman untuk digunakan.
Perangkat ini juga mengantongi sertifikasi IP68, memastikannya tahan debu dan air hingga kedalaman 3 meter dengan waktu maksimal 30 menit.

Di bagian kiri terdapat tombol volume dan power, yang memiliki sensasi klik yang cukup terasa premium. Di bagian bawah terdapat port USB Type-C, speaker, dan slot SIM card. Sedangkan di bagian kiri dan atas tidak terdapat apa-apa.

Beralih ke bagian belakang, Xiaomi 15T Pro hadir dengan desain housing kamera yang berbentuk persegi dengan lengkungan di setiap sudut. Housing kamera ini tidak terlalu besar, dan ditambah ukuran perangkat yang besar, jadi tidak terlalu mengganggu.
Di dalam housing tersebut terdapat empat kamera, dimana akan kami bahas di segmen tersendiri. Sedangkan flash-nya berada di luar housing kamera.
Layar Lebar, Hiburan Maksimal!

Sebagai pengguna Xiaomi 12, beralih ke Xiaomi 15T Pro yang memiliki ukuran layar 6,83 inci, rasanya agak sedikit butuh penyesuaian. Ya, saya memiliki tangan yang besar, namun sejujurnya lebih nyaman menggunakan smartphone berukuran layar kecil agar bisa dioperasikan dengan satu tangan.
Tapi, memiliki layar besar ternyata memberikan keuntungan bagi saya, terutama disaat harus membaca dokumen atau membaca komik online. Dan dengan layarnya yang datar, membuat saya merasa tidak ada bagian tepi dokumen yang tak terbaca.
Panelnya sudah menggunakan panel AMOLED dengan 1,5K (2712 x 1220 piksel), mampu mencapai tingkat kecerahan puncak 3.200 nits, serta mendukung Dolby Vision dan HDR10+. Layarnya juga sudah mendukung refresh rate adaptif 144Hz, yang memberikan pengalaman smooth saat bermain game, apa lagi yang sudah mendukung refresh rate tinggi.
Untuk perlindungan layar, mereka menggunakan Corning Gorilla Glass 7i. Perlindungan layar ini bisa dibilang setara dengan beberapa smartphone flagship. Tapi menurut pengalaman saya, lebih baik gunakan screen protector agar tidak menyesal di kemudian hari.
Nah, untuk suaranya sendiri, karena sudah menggunakan speaker stereo, meski ditempatkan di bagian earpiece, saya cukup terkesan dengan suara yang dihasilkan. Mendengar musik terasa smooth, dengan bass dan treble yang seimbang, tidak ada yang saling berebut ingin lebih terdengar satu sama lain.
Bukan hanya untuk mendengar musik, speakernya juga memiliki performa yang sangat baik saat diajak menonton video. Suara vokal yang dihasilkan sangat jelas, dan dapat menseparasi vokal dan suara lain dengan cukup baik.
Performa Oke, Tapi Sayang Masih Panas

Seperti biasa, varian T dari Xiaomi selalu menggunakan prosesor dari MediaTek. Untuk Xiaomi 15T Pro, mereka menggunakan MediaTek Dimensity 9400+. Ya, prosesor ini sudah menggunakan teknologi fabrikasi 3nm, yang digadang-gadang memiliki efisiensi yang sangat baik.
Tapi, seperti biasa, kita tidak bisa memungkiri saat kita menggunakan performa sebuah chipset 100%, maka konsekuensinya adalah panas. Dan ini terjadi di Xiaomi 15T Pro yang saya gunakan. Tapi, ini bukan sebuah hal yang sepenuhnya buruk.
Perlu diingat, Dimensity 9400+ hadir dengan konfigurasi Mono-Core 3,63 GHz Cortex-X925, Tri-Core 3,3 GHz Cortex-X4, dan Quad-Core 2,4 GHz Cortex-A720. Yap, memang performa dari chipset ini tak main-main.
Xiaomi 15T Pro hadir dengan pilihan RAM 12GB LPDDR5X dan penyimpanan internal 512GB dan 1TB berteknologi UFS 4.1. Untuk menjaga suhu tetap stabil selama penggunaan intensif, disematkan sistem pendingin Xiaomi 3D IceLoop.
Sistem pendinginan ini berhasil menyebar panas dengan baik, sehingga meski terasa panas di bagian belakang, tapi panas ini tersebar di semua body belakang, sehingga panas dapat terantisipasi dengan lebih baik. Setidaknya ini berlaku saat kalian bermain game.
Untuk pengalaman menggunakan kamera, saya sempat menguji melakukan perekaman video di resolusi 4K selama beberapa jam. Di 15 menit pertama, smartphone ini sudah terasa cukup panas. Tapi, setelah menguji lebih dari 1 jam, tidak ada overheat yang memaksa saya untuk harus menurunkan resolusi perekaman.
Ah, sedangkan untuk hasil benchmark sendiri, smartphone ini berhasil mendapatkan skor AnTuTu mencapai 2.466.311 poin, serta skor Geekbench 6.5.0 sebesar 2.742 poin (Single-Core) dan 8.003 poin (Multi-Core).
Sedangkan untuk pengujian Solar Bay Extreme Stress Test, hasil best loop score ada di angka 786 poin, dengan skor terendah 661 poin. Stabilitas ada di 84,1% dengan suhu selama pengujian maksimal di 37 derajat Celcius.
Beralih ke pengalaman gaming, saya menguji beberapa game berat seperti PUBG, Genshin Impact, dan berbagai game lainnya. Untuk PUBG, saya mengujinya di pengaturan grafis tertinggi rata kanan dan hasilnya tidak ada lag sama sekali.
Sedangkan untuk Genshin Impact, saya tidak ragu menjalankan game ini di pengaturan grafis Highest dan frame rate 60fps. Semuanya lancar tanpa ada lag yang sangat mengganggu.
Dan yang cukup membuat saya terkesan adalah responsivitas layarnya, terutama saat bermain game FPS. Layarnya memiliki touch sampling rate hingga 480Hz, bahkan instant hingga 2.560Hz, memberikan pengalaman navigasi dan gaming yang responsif.
Ada satu lagi nih yang membuat saya dapat menerima ukuran Xiaomi 15T Pro yang besar, yakni baterainya. Ukuran baterainya memang hanya 5.500 mAh, dimana smartphone lain dengan ukuran yang relatif lebih kecil bisa menyematkan baterai hingga 7.000mAh. Tapi untungnya, daya tahan baterai perangkat ini tidak mengecewakan sama sekali.
Melalui pengujian pemutaran video YouTube Full HD secara non-stop, saya menemukan bahwa membutuhkan waktu 21 jam 12 menit untuk menguras daya baterai perangkat ini dari 100% hingga 5%. Ya, hampir satu haru penuh!
Dalam penggunaan sehari-hari, rata-rata waktu Screen on Time mencapai 10 jam 33 menit. Meski tak seharian penuh, smartphone yang satu ini bisa menemani saya seharian meski harus menjelajah liputan seharian.
Sedangkan untuk pengisian daya, dalam paket penjualan terdapat charger 90W HyperCharge. Selama pengujian, charger ini mampu mengisi daya dari 9% ke 100% dalam waktu 41 menit. Perangkat ini juga mendukung Wireless Charging, serta Reverse Wired dan Reverse Wireless Charging yang memungkinkannya berfungsi sebagai powerbank.
Jadi Salah Satu Smartphone Pertama yang Dapat HyperOS 3
Xiaomi 15T Pro menggunakan sistem HyperOS 2 berbasis Android 15, out of the box. OS ini memang agak sedikit usang, mengingat sudah banyak perangkat lain yang menggunakan Android 16 di perangkat mereka.
Meski demikian, perangkat ini dilengkapi serangkaian fitur berbasis AI, termasuk AI Speech Recognition untuk transkripsi suara, AI Erase untuk menghapus objek mengganggu pada foto, dan AI Bokeh untuk efek latar belakang yang artistik.
Fitur Circle to Search memungkinkan pengguna mendapatkan informasi hanya dengan melingkari konten di layar. Sebagai asisten virtual, Google Gemini dapat menjawab berbagai pertanyaan.
Tapi nih, tapi, Xiaomi menjanjikan 15T Pro sebagai salah satu smartphone pertama yang akan mengadopsi HyperOS 3 secara global. Meski di beberapa negara sudah mendapatkan pembaruan ini, sayangnya di perangkat yang sedang saya pegang saat ini, masih belum ada tanda-tanda update nih. Kita nantikan saja tanggal mainnya.
Terakhir, di bagian konektivitas, smartphone ini juga memiliki fitur NFC dan sensor Inframerah, yang memungkinkan perangkat berfungsi sebagai remote control multifungsi. Jadi, kalian bisa menggunakan QRIS Tap untuk menggunakan transportasi umum!
Main Attraction : Kamera yang Memukau

Seperti yang sudah saya ungkap di awal, konfigurasi kamera Xiaomi 15T Pro menjadi nilai jual utama. Hadir dengan konfigurasi tiga kamera belakang yang berkolaborasi dengan Leica, hasil foto yang saya ambil terasa sangat menyenangkan.
Konfigurasi kamera utamanya yang ada di belakang terdiri dari kamera utama 50 MP bersensor Light Fusion 900, kamera ultrawide 50 MP, dan kamera telefoto periskop 50 MP. Kolaborasi dengan Leica menghadirkan gaya efek foto seperti Leica Authentic dan Leica Vibrant, yang meningkatkan warna dan shadow untuk hasil yang khas.
Menurut saya pribadi, dari ketiga kamera ini, yang paling spesial adalah kamera telephoto periscope 5x optical zoom-nya. Ini merupakan kamera yang tepat untuk orang introvert seperti saya. Jadi, saya tidak perlu terlalu dekat dengan objek yang ingin saya foto, terlebih lagi kalau objeknya manusia.
Hasil fotonya sangat memukau, memiliki sentuhan warna Leica yang khas, pas banget buat kalian yang gak pengen edit foto hanya untuk diunggah ke media sosial. Detail yang dihasilkan cukup baik, meski ada yang harus sedikit saya komplain.
Untuk penggunaan kamera utama, saat berada di zoom 2x, terutama saat merekam video, entah kenapa hasilnya kurang detail. Hal ini menjadi dilema tersendiri untuk saya, karena untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan ego saya, saya terpaksa memilih untuk menggunakan kamera utama tanpa zoom (baik di focal length 23mm, 25mm, dan 35mm) dan di crop di proses editing atau menggunakan lensa periscope 5x yang mengharuskan saya lebih menjauh lagi dari objek dan tangan harus sangat steady.
Mode Portrait di perangkat ini juga menawarkan beberapa opsi zoom, seperti 1x, 2x, 5x dan memungkinkan hasil bokeh yang rapi dengan berbagai bentuk latar belakang seperti Radiate, Octagon, dan Heart. Sementara itu, kamera depan 32 MP menghasilkan foto selfie dengan detail wajah yang tajam, lengkap dengan mode Portrait.
Sedangkan berbicara soal kamera periscope, pembesaran 10x Hybrid Zoom masih menghasilkan foto yang tajam. Untuk pembesaran ekstrem, hasil foto diklaim masih optimal hingga 20x atau 30x Zoom. Dari pada penasaran, berikut ini hasil foto yang kami ambil menggunakan Xiaomi 15T Pro :


Beralih ke video, smartphone ini mampu merekam video beresolusi tinggi, termasuk 8K 30fps dan 4K 120fps. Khusus untuk resolusi 4K 120fps dan Full HD (1080p) 60fps, hasil video terasa stabil saat perekaman dilakukan dalam kondisi bergerak.
Fitur penstabil ShootSteady tersedia untuk mengunci resolusi Full HD (1080p) 30fps, menghasilkan video yang lebih stabil.
Pax Insight
Dengan harga mulai dari Rp9,999 juta, Xiaomi 15T Pro memang pantas disebut sebagai flagship killer, terutama di bagian kamera. Meski memang bukan smartphone dengan kamera periscope termurah, namun hadirnya kamera periscope 5x yang sangat detail membuat perangkat ini memukau di mata saya.
Performanya juga tidak dapat dianggap enteng, enak dipakai bahkan untuk power user seperti saya. Layarnya juga lebar, memiliki warna yang tajam, membuat semua kegiatan yang saya lakukan nyaman. Dan tentu saja baterainya yang irit membuat perangkat ini dapat menemani saya seharian.



