Publik mengeluhkan harga, chipset, charging, baterai, kamera, hingga charger dalam box pada Galaxy A57, A37, dan S26 Series. Namun, setelah dibandingkan dengan hasil pengujian Pax, tidak semua keluhan itu punya bobot teknis yang sama.
Berdasarkan analisis kami menggunakan alat monitoring media dan media sosial untuk periode 7 Desember 2025–7 Juni 2026, percakapan publik mengenai Samsung Galaxy A57 5G, Galaxy A37 5G, dan Galaxy S26 Series terdeteksi dalam 2.897 unggahan media sosial dengan total 18,2 juta views. Di media online, isu ini muncul dalam 2.088 artikel dari 555 outlet.
Secara agregat, Samsung belum berada dalam situasi reputasi yang buruk. Sentimen media sosial masih didominasi positif dan netral: 49% positif, 43% netral, dan 8% negatif. Di berita online, sentimen negatif bahkan hanya 1%.
Namun, angka positif tidak berarti tidak ada problem. Dalam pembacaan Pax, masalah Samsung pada 2026 bukan terletak pada satu kecacatan besar, melainkan pada satu pertanyaan yang terus berulang: apakah harga Galaxy terbaru masih sepadan dengan peningkatan yang ditawarkan?
Kenapa ini penting
Samsung masih punya modal besar di Indonesia, yakni brand kuat, ekosistem matang, One UI yang stabil, layanan purna jual luas, kualitas layar konsisten, dan janji update software panjang.
Namun, konsumen smartphone Indonesia kini makin rasional. Mereka membandingkan chipset, kapasitas baterai, kecepatan charging, hasil kamera, harga promo, hingga isi kotak penjualan. Di kelas menengah, Samsung berhadapan dengan brand yang agresif memberi spesifikasi tinggi. Di kelas flagship, Samsung berhadapan dengan ekspektasi yang jauh lebih kejam.
Karena itu, kritik terhadap Samsung perlu dibaca hati-hati. Tidak semua keluhan publik benar secara teknis. Tapi ketika beberapa kritik yang valid bercampur dengan kritik yang mudah viral, persepsi pasar bisa ikut bergeser.
| Kanal | Volume |
|---|---|
| Unggahan media sosial terdeteksi | 2.897 |
| Total views media sosial | 18.228.106 |
| Total engagement | 289.709 |
| Akun unik | 1.728 |
| Artikel berita online | 2.088 |
| Outlet media | 555 |
Platform yang paling perlu diperhatikan adalah TikTok. Jumlah unggahannya tidak paling besar, hanya 259 post, tetapi total views-nya mencapai 14,8 juta dan sentimen negatifnya tertinggi, yaitu 21%.
Ini penting karena kritik di TikTok sering kali tidak membutuhkan argumen panjang. Satu tabel harga, satu skor AnTuTu, satu komparasi baterai, atau satu kalimat "mahal tapi begini doang" cukup untuk membentuk persepsi.
Tidak semua keluhan sama kuat
Pax menilai keluhan terhadap Samsung harus dibaca dalam tiga lapis. Pertama, apa yang dikeluhkan publik. Ini penting karena menunjukkan persepsi pasar. Kedua, apakah keluhan itu valid secara teknis. Ketiga, apa hasilnya ketika dibandingkan dengan pengujian Pax sendiri.
Keluhan soal tidak adanya charger dalam kotak, misalnya, sering muncul. Namun, secara teknis, ini bukan kelemahan utama produk. Banyak pengguna flagship sudah memiliki adaptor USB-C, dan tren box minimal bukan hal baru di industri smartphone premium.
Tetapi keluhan itu tetap penting secara persepsi. Pada perangkat dengan harga puluhan juta rupiah, absennya charger membuat pengalaman membeli terasa kurang utuh bagi netizen maha benar.
Sebaliknya, keluhan soal charging speed, posisi chipset, harga, dan hasil kamera/baterai dalam penggunaan nyata jauh lebih layak diuji.
| Rank | Keluhan yang muncul | Model terkait | Penilaian Pax |
|---|---|---|---|
| 1 | Harga naik vs upgrade minimal | A57, A37, S26 Ultra | Keluhan paling kuat karena langsung menyentuh value-for-money |
| 2 | Chipset/spek kalah dari kompetitor seharga | A57, A37 | Valid untuk pembeli spek, tetapi harus dibaca bersama pengalaman nyata, software, dan update panjang |
| 3 | Charging lambat | S26, S26 Ultra | Valid secara teknis, meski S26 Ultra sudah membaik dengan 60W |
| 4 | Baterai kalah besar dari kompetitor | A57, A37 | Tidak otomatis valid; hasil uji Pax menunjukkan daya tahan justru kuat |
| 5 | Tidak ada charger dalam box | S26 Ultra, A37 | Lemah sebagai kritik teknis, kuat sebagai kritik persepsi harga |
| 6 | Kamera low-light mengecewakan | S26, A57, A37 | Perlu dilihat per model; hasil review Pax justru positif untuk A57, A37, dan S26 Ultra |
| 7 | Tidak ada wireless charging/microSD | A57, A37 | Relevan bagi sebagian pengguna, tapi bukan kebutuhan mayoritas |
| 8 | Desain plastik/bezel tebal | A37 | Valid sebatas persepsi premium; bukan masalah fungsional utama |
| 9 | Panel/layar dianggap kurang | A37, S26 | Untuk A37, keluhan layar lemah karena review Pax mencatat layar terang dan nyaman |
| 10 | Kekhawatiran baterai setelah insiden S25 FE | Brand Galaxy | Perlu verifikasi ketat agar tidak berubah menjadi generalisasi liar |
Dalam pembacaan Pax, tiga keluhan paling kuat adalah harga, posisi performa terhadap kompetitor, dan charging speed. Sementara keluhan soal charger, baterai, dan kamera harus ditempatkan lebih proporsional.
Galaxy A57: kritik harga valid, tapi performa dan kamera tidak selemah narasi publik
Galaxy A57 5G sering dikritik karena harga dan value-for-money. Namun, hasil review Pax menunjukkan produk ini tidak bisa begitu saja disebut "kalah spek" atau "upgrade minimal".
Kami sudah menjelaskan dalam review Pax, Galaxy A57 5G membawa desain tertipis dan teringan dalam sejarah Galaxy A Series, dengan bodi 6,9 mm dan bobot 179 gram. Layarnya menggunakan Super AMOLED+ 6,7 inci, refresh rate 120Hz, HDR10+, kecerahan 1.200 nits, serta perlindungan Gorilla Glass Victus+.
Dari sisi kamera, Pax menilai kamera utama 50MP f/1.8 menghasilkan foto jernih, detail tetap terjaga saat cropping atau zoom, warna natural, dan noise rendah di kondisi malam. Kamera ultrawide juga dinilai bekerja baik tanpa distorsi mengganggu, sementara kamera depan 12MP menghasilkan detail wajah dan warna kulit yang natural.
Ini membuat keluhan "kamera A57 mengecewakan" perlu dilunakkan. Kritik kamera hanya valid jika pembandingnya adalah ekspektasi lompatan hardware besar dari generasi sebelumnya. Namun, dari hasil penggunaan Pax, kamera A57 tetap kuat untuk kebutuhan harian, media sosial, dan konten kasual.
Dari sisi performa, Exynos 1680 memang bukan chipset yang paling agresif di atas kertas. Tetapi review Pax mencatat peningkatan nyata. Samsung mengklaim NPU naik 167%, CPU naik 24%, dan GPU naik 75%; hasil pengujian Pax mendekati klaim tersebut. Dalam 3DMark Wild Life, peningkatan grafis tercatat 22%, sementara performa multi-core Geekbench 6 naik 19,12%.
Untuk gaming, Pax menguji Genshin Impact, Where Winds Meet, PUBG, Mobile Legends, dan sejumlah game lain di pengaturan medium dengan target 60fps. Hasilnya, A57 mampu menjaga rata-rata 45–52fps, bahkan masih mencapai sekitar 33fps di pengaturan high. Suhu juga masih nyaman setelah 1 jam gaming, dan baru terasa hangat setelah 2 jam.
Keluhan baterai juga perlu dibaca ulang. Di atas kertas, baterai 5.000mAh terlihat kalah dari kompetitor yang mulai membawa 6.000–7.000mAh. Namun, dalam pengujian Pax, A57 mampu bertahan untuk menonton video hingga 23 jam. Dalam penggunaan normal dari jam 7 pagi, baterai masih tersisa sekitar 17% pada jam 11 malam.
Jadi, kritik terhadap A57 paling kuat bukan pada kamera, baterai, atau performa harian. Kritik paling kuat tetap pada posisi harga. A57 adalah produk yang matang dan solid, tetapi berada di rentang harga yang membuatnya harus terus dibandingkan dengan kompetitor yang menawarkan spek lebih agresif.
Galaxy A37: matang, aman, tapi memang bukan untuk pemburu performa
Galaxy A37 5G adalah contoh paling jelas mengapa keluhan publik perlu diuji dengan data review. Di media sosial, A37 mudah diserang karena memakai Exynos 1480, chipset yang bukan generasi paling baru. Review Pax juga mengakui hal ini. Exynos 1480 adalah chipset rilisan 2024 dan sudah digunakan di Galaxy A55 5G. Artinya, kritik bahwa chipset ini terasa tidak segar memang punya dasar.
Namun, bukan berarti performanya buruk. Dalam pengujian Pax, Galaxy A37 mencatat skor Geekbench 1.133 single-core dan 3.365 multi-core. Sebagai perbandingan, Galaxy A36 mencatat sekitar 982 single-core dan 2.810 multi-core. Di AnTuTu, A37 mencetak skor 1.017.169. Untuk 3DMark, skornya mencapai 932 di Wild Life Extreme Unlimited dan 3.920 di Wild Life Unlimited.
Dalam gaming, Pax menguji PUBG Mobile dan Garena Delta Force. Keduanya berjalan lancar dan minim lag di pengaturan medium. PUBG Mobile di grafis seimbang menghasilkan rata-rata sekitar 40–50fps. Suhu juga tidak naik signifikan dalam 30–45 menit pertama, meski terasa lebih hangat setelah dipakai lebih lama.
Artinya, A37 memang bukan HP gaming paling agresif di kelasnya. Tetapi untuk penggunaan harian, media sosial, streaming, fotografi kasual, dan game populer di setting wajar, performanya masih solid.
Dari sisi layar, ada koreksi penting. Keluhan bahwa A37 punya layar kurang terang tidak kuat jika dibandingkan dengan hasil review Pax. A37 memakai panel Super AMOLED 6,7 inci 120Hz dengan kecerahan puncak 1.900 nits, dan Pax menilai layar ini masih bisa diandalkan di luar ruangan dengan sinar matahari terang.
Baterainya juga bukan titik lemah utama. Dengan baterai 5.000mAh, A37 mencatat daya tahan 14 jam 53 menit dalam PCMark Work 3.0 battery life. Ini memperkuat bahwa kapasitas baterai tidak bisa dinilai hanya dari angka mAh.
Kamera A37 juga lebih kuat dari persepsi publik. Pax mencatat kamera utama 50MP tampil sangat baik, dengan hasil natural, tajam, detail, serta low-light yang masih apik. Namun, kritik tetap ada. Kemampuan bagus itu terutama terasa di kamera utama, sementara ultrawide dan macro terasa biasa saja. Konfigurasi kamera belakang juga tidak banyak berubah dari Galaxy A36, sehingga peningkatannya terasa minim bagi yang berharap lompatan besar.
Kesimpulan Pax terhadap A37 cukup jelas. Ini HP kelas menengah yang aman dibeli, dengan layar bagus, Gorilla Glass Victus+, IP68, baterai bisa diandalkan, dan jaminan software panjang. Namun, di harga Rp6 jutaan, A37 tidak hadir dengan kemampuan paling menonjol di performa atau kamera dibanding pesaing sekelas.
Dengan kata lain, keluhan terhadap A37 paling valid bukan "HP ini jelek", melainkan "HP ini matang, tapi tidak agresif".
S26 Ultra: kritik charging valid, tapi klaim "tidak flagship" tidak adil
Untuk Galaxy S26 Ultra, kritik publik banyak bergerak di tiga titik, yaitu harga, charging, dan charger dalam box. Review Pax sendiri menempatkan S26 Ultra sebagai smartphone flagship sesungguhnya di 2026, dengan kekuatan pada performa, kamera, baterai, keamanan, AI, dan pengalaman profesional. Namun, Pax juga mencatat satu kekurangan penting, yaitu pengisian daya masih tertinggal meski sudah 60W.
S26 Ultra memakai Snapdragon 8 Elite Gen 5 for Galaxy. Dalam pengujian Pax, unit RAM 12GB/512GB mencetak skor AnTuTu v10 2.627.986, AnTuTu v11 3.892.165, Geekbench 6 single-core 3.313, dan multi-core 8.609. Untuk 3DMark Wild Life Extreme, skornya 6.472, sementara PCMark Work 3.0 mencapai 21.153.
Pax juga mencatat peningkatan performa sekitar 10–13% dibanding generasi sebelumnya. Untuk game berat seperti Genshin Impact, Where Winds Meet, PUBG, dan lainnya, S26 Ultra dapat berjalan sangat lancar di pengaturan grafis “rata kanan”, dengan sistem pendingin yang tetap nyaman setelah gaming nonstop hingga 1,5 jam.
Dari sisi baterai, S26 Ultra mencatat 20 jam 21 menit di PCMark Battery Test. Dalam penggunaan harian dari jam 8 pagi hingga 10 malam, baterai masih tersisa sekitar 29% setelah dipakai mengetik berita, scrolling media sosial, mengambil video, menonton video, dan mengedit video.
Untuk charging, S26 Ultra sudah naik ke 60W wired dengan PD3.0. Dalam pengujian Pax, pengisian dari sekitar 5% ke 75% membutuhkan 30–35 menit, sementara pengisian penuh membutuhkan waktu kurang dari 1 jam. Wireless charging juga sudah mendukung Qi 2.2 hingga 25W.
Di sektor kamera, keluhan low-light terhadap S26 Ultra juga tidak sepenuhnya sejalan dengan hasil review Pax. Pax mencatat Nightography S26 Ultra meningkat, dengan hasil foto malam yang minim noise, warna natural, dan detail tajam. Video juga dinilai minim noise dan blooming, dengan detail tajam dan warna natural.
Dengan demikian, S26 Ultra tetap terlihat sebagai flagship yang sangat kuat. Namun, pada harga Rp24 juta hingga Rp32 juta, kelemahan kecil seperti charger, charging speed, atau S Pen yang tidak banyak berubah akan terasa lebih besar di mata konsumen.
TikTok membuat kritik teknis jadi brutal
Samsung punya masalah komunikasi yang tidak sederhana. Banyak keunggulan Samsung—software panjang, ekosistem, keamanan, layar, IP rating, optimasi kamera, dan pengalaman harian—membutuhkan penjelasan. Sementara kritik kompetitor bisa muncul dalam angka yang sangat sederhana: watt charging, kapasitas baterai, skor benchmark, harga, dan chipset.
Di TikTok, penjelasan panjang sering kalah dari visual komparasi satu layar. Itulah mengapa narasi "Samsung mahal tapi speknya kalah" bisa menyebar cepat, meski tidak selalu akurat secara teknis. Data review Pax menunjukkan beberapa keluhan publik memang terlalu menyederhanakan produk Samsung. Namun, dalam "ekonomi perhatian" media sosial, penyederhanaan sering lebih menang daripada nuansa.
Apa artinya bagi calon pembeli?
Untuk calon pembeli Galaxy A57, kritik harga layak dipertimbangkan. Namun, jangan mengabaikan hasil review Pax atau media lain, walupun media konon sudah tidak terlalu penting untuk PR Samsung Indonesia. Berdasarkan pengujian kami: kameranya kuat, gaming masih nyaman, thermal terjaga, baterai tahan lama, dan fitur AI makin relevan. A57 bukan pilihan terbaik untuk pemburu spek garis keras, tetapi sangat masuk akal untuk pengguna yang mencari HP tipis, matang, stylish, dan tahan dipakai lama.
Untuk calon pembeli Galaxy A37, pertanyaannya adalah prioritas. Jika mengejar performa gaming tertinggi di harga Rp6 jutaan, ada kompetitor yang lebih agresif. Tetapi jika prioritasnya layar bagus, IP68, Gorilla Glass Victus+, One UI, baterai seharian, dan update panjang, A37 tetap menjadi pilihan aman.
Untuk calon pembeli S26 Ultra, kritik charging harus diakui, tetapi tidak boleh mengaburkan gambaran besar. S26 Ultra punya performa flagship, kamera kuat, baterai tahan lama, fitur keamanan unik, AI, S Pen, dan pengalaman produktivitas yang tidak mudah dibandingkan hanya lewat tabel spek. Namun, di harga setinggi itu, Samsung memang tidak punya banyak ruang untuk kompromi.
Pax Insight
Samsung tidak sedang runtuh sebagai brand smartphone di Indonesia. Data sentimen menunjukkan posisinya masih kuat. Namun, Samsung sedang menghadapi pertanyaan yang lebih sulit: apakah harga Galaxy 2026 masih terasa sepadan? Dengan kata lain, Samsung berhadapan dengan persepsi publik yang lazimnya dijawab oleh pengujian media.
Setelah dibandingkan dengan hasil review Pax, beberapa keluhan publik ternyata terlalu dangkal. Keluhan baterai A57 dan A37, misalnya, tidak sepenuhnya kuat karena hasil uji Pax menunjukkan daya tahan yang baik. Keluhan kamera juga perlu dipisahkan per model; A57, A37, dan S26 Ultra justru menunjukkan hasil kamera yang solid dalam pengujian Pax. Keluhan layar A37 bahkan lemah karena panelnya terang, nyaman, dan masih usable di luar ruangan.
Namun, ada kritik yang tetap valid. Harga A57 dan A37 membuat value-for-money Samsung lebih mudah dipersoalkan. Chipset A37 memang tidak terasa segar. Charging S26 Ultra memang sudah membaik, tetapi masih konservatif dibanding sejumlah kompetitor. Dan absennya charger, meski lemah sebagai kritik teknis, tetap kuat sebagai simbol pengalaman premium yang terasa kurang lengkap.
Masalah Samsung pada 2026 bukan karena semua kritik publik benar. Masalahnya, beberapa kritik yang benar bercampur dengan kritik yang mudah viral.
Di media sosial, dua hal itu sering tidak dibedakan. Tugas media teknologi adalah memisahkan keluhan yang substansial dari noise. Dalam kasus Samsung, jawabannya menjadi lebih jelas: charger bukan masalah utama. Baterai dan kamera juga tidak selemah yang ramai dibicarakan. Masalah utamanya tetap value-for-money. Persepsi.
Catatan metodologi
Analisis ini menggabungkan laporan monitoring media dan media sosial periode 7 Desember 2025–7 Juni 2026 dengan hasil review internal Pax terhadap Samsung Galaxy A57 5G, Samsung Galaxy A37 5G, dan Samsung Galaxy S26 Ultra.
Data mencakup sampel percakapan yang berhasil terdeteksi dari media sosial, berita online, review teknologi, dan sumber web publik. Platform yang dianalisis mencakup X/Twitter, YouTube, TikTok, Instagram, Facebook, Threads, dan Bluesky.
Marketplace seperti Tokopedia dan Shopee, grup privat WhatsApp/Telegram, serta sejumlah forum tidak tercakup langsung. Karena itu, data ini tidak mewakili seluruh percakapan konsumen Indonesia, melainkan sampel percakapan yang berhasil dideteksi dan dianalisis.



