Sains
Selasa, 3 Februari 2026 16:01 WIB

Teknologi cetak 3D bawah air siap revolusi konstruksi maritim

Peneliti dari Cornell University sedang mengembangkan sistem robotik seberat 2,7 ton yang mampu mencetak struktur beton 3D langsung di dasar laut.
Sumber: New Atlas

Peneliti dari Cornell University sedang mengembangkan sistem robotik seberat 2,7 ton yang mampu mencetak struktur beton 3D langsung di dasar laut. Inovasi ini merupakan terobosan besar untuk menjawab tantangan dari lembaga riset pertahanan Amerika Serikat, DARPA.

Kenapa ini penting: Pembangunan infrastruktur maritim seperti terowongan, pipa minyak, hingga kabel bawah laut selama ini sangat mahal dan berisiko tinggi. Kondisi laut yang ekstrem membuat pekerjaan konstruksi penuh bahaya bagi manusia. Teknologi cetak 3D bawah air menawarkan solusi otomatis yang bisa memangkas biaya logistik sekaligus mengurangi risiko kerja, sebagaimana dilansir dari New Atlas.

Inovasi utama: Tantangan terbesar dalam mencetak beton di bawah air adalah material yang mudah buyar sebelum sempat mengeras. Tim Cornell berhasil mengatasi masalah ini dengan metode pencetakan dua tahap:

  • Injeksi pintar: Bahan kimia pengeras disuntikkan tepat di ujung nozzle printer.
  • Waktu yang tepat: Beton tetap cair saat dipompa, tetapi langsung mengeras begitu keluar di dasar laut sehingga tidak larut oleh air.
  • Sensor real-time: Sensor pada lengan robot memantau kualitas cetakan di air keruh dan otomatis menyesuaikan parameter agar hasil tetap presisi.

Angka penting

  • USD 1,4 juta: Dana hibah yang diberikan untuk mendukung riset ini.
  • 2,7 ton: Berat sistem robot industri yang digunakan untuk mencetak beton di bawah air.

DARPA menetapkan syarat ambisius: sistem ini harus bisa memanfaatkan sedimen dasar laut sebagai bahan campuran beton. Tujuannya adalah mengurangi ketergantungan pada pengiriman material berat dari darat ke lokasi konstruksi di tengah laut. Jika berhasil, teknologi ini akan membuat pembangunan infrastruktur maritim jauh lebih efisien dan berkelanjutan.

Langkah berikutnya: Tim Cornell kini sedang melakukan persiapan akhir untuk kompetisi 3DCP DARPA yang akan digelar bulan depan. Dalam ajang tersebut, mereka akan bersaing dengan tim lain untuk mencetak lengkungan beton di bawah air. Pemenang kompetisi akan diumumkan pada Maret 2026.

Pax insight

Teknologi cetak 3D bawah air ini berpotensi merevolusi cara manusia membangun infrastruktur maritim. Dengan sistem robotik canggih, beton yang langsung mengeras di dasar laut, serta kemampuan memanfaatkan sedimen lokal, solusi ini bisa menjadi jawaban atas tantangan biaya dan keselamatan dalam konstruksi bawah laut.