Long weekend lalu sebenarnya hari untuk bersantai dan rehat sejenak, sampai saya membaca artikel singkat Ina Fried di Axios berjudul “Samsung to put AI smarts inside all its 2026 smartphones.” Dalam tulisan yang diunggah 15 Januari itu, jurnalis teknologi kawakan tersebut mengutip pernyataan COO Samsung Won-Joon Choi yang mengatakan “We really want to increase accessibility of AI for all people.”
Samsung men-demokratisasi AI usai melihat data internal bahwa fitur Galaxy AI di seri flagship ternyata disukai dan digunakan orang. “Generally when we launch a new feature, we’ll see usage peak right after the launch, and then the usage will continue to dramatically drop,” kata Choi. Samsung menargetkan 800 juta Galaxy Device ber-AI di akhir tahun 2026. Target ini bukan sekadar ambisi teknologi, melainkan pernyataan perang terhadap model diferensiasi lama di industri smartphone. Yang dipertaruhkan Samsung di sini bukan siapa yang punya AI paling pintar, melainkan siapa yang paling dulu menjadikan AI sebagai default expectation, bukan lagi premium attraction. Dalam industri yang selama satu dekade menjual fitur sebagai kejutan, langkah ini menggeser logika komunikasi, dari “lihat apa yang bisa kami lakukan” menjadi “ini sudah seharusnya ada.”
Pikiran saya jadi menyala usai membaca berita tersebut. Pertanyaannya bukan lagi apakah Samsung akan bertahan di Indonesia, melainkan siapa yang dipaksa mengubah strategi karenanya. Saat ini, Samsung dikepung dari kiri, kanan, atas, dan bawah oleh “The Big Four” dari Tiongkok: Xiaomi, Realme, Oppo, dan Vivo? Dari belakang sebenarnya ada juga Transsion, tapi mereka lebih fokus mengisi segmen ultra terjangkau yang telah ditinggalkan Samsung. Pertanyaan ini menjadi relevan karena Indonesia bukan sekadar pasar besar, melainkan pasar yang sangat sensitif terhadap perubahan narasi nilai, bukan hanya harga.
Data Counterpoint Research menunjukkan, Samsung berhasil kembali merebut posisi puncak di Indonesia pada Q3 2025 dengan pangsa pasar 20 persen, disusul Xiaomi (17%), Oppo (16%), Vivo (14%), dan Infinix (12%). Faktor pendorongnya adalah adopsi AI dan koneksi 5G yang kini tersedia di ponsel kelas menengah.
Sebelum Anda protes, saya tahu, data Omdia mengatakan, Samsung menempati posisi kelima dengan pangsa pasar sekitar 15-18%. Perbedaan ini bukanlah anomali karena tergantung metrik pengiriman yang digunakan tiap lembaga (sell-in atau sell-out). Terlepas dari perbedaan metodologi, satu hal konsisten adalah Samsung menang di nilai, Tiongkok menang di tekanan. Dan dalam lanskap media hari ini, tekanan sering kali lebih mudah dikomunikasikan ketimbang nilai. Spesifikasi bisa diringkas, harga bisa dibandingkan, tetapi nilai: keamanan, ekosistem, keberlanjutan, membutuhkan medium yang bersedia memberi waktu dan konteks.
Apakah data ini menunjukkan berakhirnya era “perang spesifikasi” murni dan dimulainya era “perang nilai” yang didorong oleh integrasi AI, ketahanan perangkat, dan keamanan data? Satu kuartal memang bukan vonis, tetapi cukup untuk membaca arah angin.
Jika kita perhatikan tren Q3 2024 dan Q3 2025, terlihat jelas pergeseran vendor dari mengejar pangsa pasar volume (unit share) menuju pangsa pasar nilai (value share). Data menunjukkan, segmen ultra-bawah alias di bawah USD100 atau Rp1,5 juta, yang secara historis menjadi tulang punggung volume bagi Xiaomi dan merek Tiongkok lainnya, menjadi semakin tak stabil. Pasar ini gemuk, tetapi rapuh. Loyalitasnya rendah, dan diferensiasinya nyaris nihil.
Samsung, sebaliknya, tampak memilih mundur dari gelanggang pertarungan berdarah-darah di segmen Rp1 jutaan. Ini bukan kemunduran, melainkan evakuasi terencana dari perang dengan margin yang nyaris tak rasional. Sepanjang 2025, Samsung merestrukturisasi segmen mass prestige di rentang harga Rp3 juta hingga Rp6 juta melalui seri Galaxy A36 dan A56. Perusahaan asal Korea Selatan ini juga menurunkan Galaxy AI dari seri flagship S25 ke seri menengah tersebut.
Walhasil, saat para kompetitornya masih fokus pada besaran megapixel atau vibe camera dan kecepatan pengisian daya, Samsung berbeda sendiri dengan Galaxy AI. Tentu saja karena perbedaan perangkat keras, AI di perangkat A Series tidak secanggih S Series. Ini kalkulasi matang. Samsung sadar, mayoritas konsumen Indonesia tak membutuhkan AI tercanggih, melainkan AI yang terasa relevan dan tak merepotkan. Masalahnya, relevansi adalah konsep yang sulit diukur dengan metrik lama. Ia jarang viral, jarang diklik, dan nyaris tak pernah menjadi judul utama. Strategi komunikasi produk Samsung bergerak ke depan, tetapi infrastruktur perhatian publiknya tertinggal di masa lalu.
“Vibe camera” di sini bukan soal teknis, melainkan soal emosi visual yang bisa langsung dikenali tanpa penjelasan. Ini adalah konsekuensi dari langkah The Big Four yang semuanya menggandeng pabrikan kamera untuk memperkuat citra hasil fotonya: Realme-Ricoh, Xiaomi-Leica, Oppo-Hasselblad, dan Vivo-Zeiss. Kita akan membahas lebih jauh tentang hal ini di bagian berikutnya. Kembali ke pertanyaan dasar tulisan ini, apa dampak kebijakan Samsung dengan menghadirkan AI di seluruh lini produk smartphone-nya terhadap pasar di Tanah Air?
Pertanyaan ini penting karena Samsung menempatkan AI bukan sebagai fitur, melainkan sebagai bahasa baru diferensiasi dan bahasa ini belum tentu dipahami dengan cara yang sama oleh semua orang. Dalam ekosistem informasi yang makin digerakkan pencarian berbasis pertanyaan, bahasa ini harus bisa menjawab, bukan sekadar mengesankan. Jika AI hanya hadir sebagai jargon, ia akan kalah oleh kamera yang bisa langsung “dibuktikan” lewat satu foto.
Berdasarkan data pasar smartphone di Indonesia dalam kurun dua tahun terakhir, pertempuran paling sengit terjadi di segmen menengah (USD200-USD399). Segmen ini adalah “sweet spot” dengan dinamika sangat tinggi. Inilah segmen tempat strategi diuji tanpa ampun: terlalu mahal untuk gagal, terlalu besar untuk diabaikan.
Pada kuartal ketiga tahun 2024, misalnya, Xiaomi berhasil merebut posisi puncak dalam pengiriman, menguasai 19% pangsa pasar. Pertumbuhan Xiaomi didorong peningkatan pengiriman sebesar 5% Year-on-Year (YoY), terutama didorong oleh dominasinya di segmen harga di bawah USD200 (sekitar Rp3 jutaan ke bawah). Di segmen ini, Xiaomi menguasai 25% pangsa pasar, secara efektif membangun tembok pertahanan di pasar massal dari pesaing seperti Samsung. Ini adalah bentuk kekuatan klasik Xiaomi, yakni volume sebagai benteng, bukan sekadar tujuan.
Seri Redmi berfungsi sebagai mesin volume utama. Namun, narasi Xiaomi sebagai sekadar pilihan kaum mendang-mending telah usang. Peluncuran seri Xiaomi 14T menandai momen penting, mendorong pertumbuhan 51% YoY di segmen high-end (USD400–USD599). Artinya, Xiaomi berhasil mengonversi kepemimpinan volumenya menjadi mobilitas ke atas, memanfaatkan posisi "premium terjangkau" untuk mencuri pangsa pasar dari penawaran flagship tingkat bawah Samsung. Di titik ini, Xiaomi tidak lagi sekadar menekan dari bawah, tetapi mulai menyempitkan ruang napas Samsung dari tengah.
Persaingan di segmen volume penjualan ini juga dipepet terus oleh Transsion Holdings (Infinix dan Tecno), yang terus menggempur pasar entry-level. Pasar ini memang gemuk, namun sangat rapuh. Konsumen mudah didikte oleh peningkatan spesifikasi. Oleh karena itu, strategi Xiaomi untuk mendorong ke atas dengan branding Leica adalah solusi jitu untuk memperluas area persaingan. Dengan kata lain, bagi Xiaomi, Leica bukan sekadar peningkatan citra, melainkan tiket untuk keluar dari jebakan margin tipis.
Di sisi lain, Samsung menguasai segmen premium ibarat gelandang serang dalam sepak bola yang bebas bergerak di area pertahanan lawan. Data mengungkapkan kontras yang tajam: meskipun kehilangan pangsa volume di kategori entry-level, Samsung tumbuh 87% YoY di segmen premium (≥USD600), menguasai pangsa pasar sebesar 42%.
Strategi “Nilai di atas Volume” ini terlihat jelas dengan kehadiran Galaxy S24 FE dan seri lipat Galaxy Z (Fold6/Flip6). Samsung rela menyerahkan pasar ultra-low-end kepada Transsion dan Xiaomi, dan mengalihkan fokus pada maksimalisasi Harga Jual Rata-rata (ASP).
Adapun seri Galaxy A, khususnya A55 5G, berfungsi sebagai “perisai profit”, melindungi margin segmen menengah Samsung dari harga agresif The Big Four. Samsung memperkuat posisi A Series dengan melengkapi perangkat ini dengan material premium dan yang terpenting: Galaxy AI. A Series menjadi titik temu paling strategis antara ambisi teknologi dan realitas pasar Indonesia.
Pun demikian di tahun 2025. Saya tak ingin memenuhi artikel ini dengan data untuk menghemat waktu Anda membacanya. Intinya adalah, Samsung secara konsisten memperkuat lini pertahanan di segmen menengah dengan Galaxy A36 dan A56, dan tak banyak menyorot seri Galaxy A06, dan bahkan tak memasukkan Galaxy M terbaru, walaupun keduanya cukup solid di segmen paling bawah berkat konektivitas 5G dan daya tahan baterai yang termasuk terbesar di kelasnya. Mereka punya keunggulan kompetitif dibanding The Big Four yang melampaui besaran spesifikasi, yaitu Knox Vault. Di masa ketika penipuan daring, pencurian data, dan online scam kian marak, Samsung menawarkan benteng pertahanan terkuat.
Lagi-lagi, untuk menghemat waktu Anda, saya tak akan menguraikan lebih jauh tentang Knox Vault. Singkatnya, jika Anda mencari perlindungan keamanan berbasis perangkat keras yang mengisolasi data sensitif, seperti PIN, biometrik, kata sandi, kunci kripto di ruang khusus yang bahkan terpisah dari sistem operasi, Knox Vault adalah pilihan terbaik yang belum bisa ditandingi The Big Four. Namun justru di sinilah tantangan terbesar Samsung dari sisi komunikasi dan media muncul. Bagaimana membuat masyarakat memahami produk mereka lebih dari sekdar spesifikasi dan harga?
Keamanan itu seperti pacar: baru terasa saat hilang. Dan justru karena itu, keamanan hampir selalu kalah di ruang komunikasi yang dibangun untuk mempromosikan hal-hal yang instan, visual, dan mudah dipamerkan. Samsung berada di posisi unik antara menjual sesuatu yang sangat penting, tetapi nyaris tak pernah dicari sebelum terlambat.
Selama lebih dari satu dekade, pasar smartphone Indonesia dibentuk oleh arsitektur media yang sangat spesifik: artikel harga, perbandingan spesifikasi, dan judul bombastis yang menjanjikan “RAM besar, prosesor kencang, skor AnTuTu tertinggi tapi meaningless, kamera besar, harga murah”. Model ini bukan kebetulan, melainkan hasil insentif ekonomi media digital yang mengejar klik dan volume pembaca. Singkatnya, strategi komunikasi Samsung membentur tembok pragmatis yang diterapkan jaringan media terbesar di Indonesia yang seumur-umur hanya mengejar SEO.
Strategi komunikasi Samsung membentur tembok pragmatis yang diterapkan jaringan media terbesar di Indonesia yang seumur-umur hanya mengejar SEO.
Samsung menawarkan nilai, tetapi nilai itu hidup di ruang media yang tidak dirancang untuk membicarakannya. Mesin pencari, algoritma distribusi, dan kebiasaan redaksi lebih memihak konten harga ketimbang konten edukasi. Konsumen datang, memindai angka, lalu pergi. Tidak ada ruang untuk membangun pemahaman, apalagi kepercayaan. Dalam situasi seperti ini, kegagalan bukan terletak pada pesan yang salah, melainkan pada konteks yang keliru. Nilai tidak kalah karena tidak penting, tetapi karena ia tidak ditemukan di saat orang mencarinya.
Bagi Samsung, tantangannya di tahun-tahun ke depan bukan sekadar memperluas adopsi AI atau memperkuat Knox, melainkan merekayasa ulang jalur edukasi publik. Mengubah momen “cek harga” menjadi momen “cek keamanan”. Menginterupsi pencarian spesifikasi dengan pertanyaan yang lebih mendasar: seberapa aman perangkat ini menyimpan hidup digital Anda?
Ini relevan dengan perubahan perilaku yang justru sudah lebih dulu terjadi di luar radar media tradisional. Bagi generasi muda Indonesia, pencarian tidak lagi dimulai dari kolom Google, melainkan dari kolom pencarian TikTok dan Instagram. Di ruang inilah nilai yang selama ini kalah oleh spesifikasi justru punya peluang hidup. Bukan karena pesannya berubah, tetapi karena konteksnya akhirnya tepat. Dengan kata lain, Samsung harus meluangkan umur untuk memikirkan strategi yang tepat untuk memenangkan social search.
Samsung harus meluangkan umur untuk memikirkan strategi yang tepat untuk memenangkan social search.
Di titik inilah strategi PR dan media tidak lagi bisa bersifat konvensional. Press release saja tak lagi cukup, bukan karena salah, tetapi karena ia berbicara di ruang yang semakin jarang menjadi titik awal pencarian, walaupun belum bisa ditinggalkan sepenuhnya.
Kampanye tidak bisa hanya berbicara ke audiens nasional dengan bahasa generik. Yang dibutuhkan adalah penetrasi hiper-lokal, seperti narasi keamanan dan AI yang diturunkan ke konteks sehari-hari, berdasarkan kelompok demografi yang disasar. Bukan menjual fitur, melainkan menjual ketenangan. Dan ketenangan tidak bisa dikomunikasikan dengan teriakan. Ia membutuhkan repetisi yang tenang, bukti yang konsisten, dan kehadiran di ruang-ruang kecil tempat orang mencari jawaban, bukan janji.
Jika Samsung gagal menjawab tantangan ini, maka keunggulan Knox dan Galaxy AI akan tetap menjadi nilai rasional yang kalah oleh keputusan emosional. Tetapi jika berhasil, mereka berpotensi melakukan sesuatu yang jarang terjadi di pasar ini: mengubah struktur permintaan, bukan sekadar berebut di dalamnya.
Kembali ke vibe camera
Saya sebenarnya meminjam istilah ini dari vibe coding. Barangkali memang tidak terlalu tepat, tetapi intinya adalah bahwa The Big Four kini melabeli smartphone mereka dengan pemain besar di industri fotografi: Realme-Ricoh, Xiaomi-Leica, Oppo-Hasselblad, dan Vivo-Zeiss. Apakah ini sekadar gimmick? Tidak.
Kemitraan antara Realme dan Ricoh Imaging, yang diumumkan secara resmi pada akhir 2025, adalah fenomena paling menarik di pasar saat ini. Berbeda dengan kompetitor yang mengejar estetika studio atau fine art, Realme secara cerdas memposisikan dirinya pada niche yang sangat spesifik namun relevan dengan demografi muda Indonesia: Street Photography atau fotografi jalanan. Ini langkah yang berani karena street photography bukan arus utama, tetapi justru karena itu ia punya daya tarik identitas yang kuat.
Ricoh, dengan seri GR-nya yang legendaris, memiliki status kultus di kalangan fotografer karena portabilitas dan kejujuran visualnya. Realme GT 8 Pro, produk perdana dari kolaborasi ini, dirancang untuk menjawab keresahan generasi Z terhadap foto-foto smartphone yang “terlalu sempurna” akibat pemrosesan AI yang berlebihan. Slogan “Snap by No Rules” bukan sekadar jargon, melainkan antitesis terhadap fotografi komputasional yang kaku. Mudah terbaca bahwa Realme sedang mencoba strategi blue ocean di tengah pasar yang merah oleh kompetisi spesifikasi.
Kolaborasi yang diklaim telah berjalan selama empat tahun di laboratorium R&D bersama ini, menghasilkan integrasi perangkat keras dan lunak yang mendalam. Realme GT 8 Pro memperkenalkan inovasi modul kamera yang dapat diganti (switchable camera bump). Ini adalah upaya berani untuk membawa modularitas ke pasar mainstream Indonesia. Tantangannya, mode modular akan terasa ribet bagi kebanyakan pengguna.
Dari sisi optik, lensa utama perangkat ini dirancang untuk memenuhi “Standar Optik Ricoh GR”. Ini melibatkan penggunaan struktur lensa 7P dengan lapisan anti-glare ultra-rendah refleksi yang mampu mencapai transmisi cahaya hingga 97%. Di jalanan Jakarta yang penuh dengan polusi cahaya lampu neon dan kontras ekstrem, kemampuan lensa untuk menekan ghosting dan mempertahankan ketajaman mikro (micro-contrast) adalah keunggulan teknis yang signifikan. Ini memungkinkan pengguna menangkap tekstur aspal yang basah atau detail wajah di malam hari dengan kejernihan yang mendekati kamera kompak premium.
Nilai jual utama bagi pasar Indonesia, yang sangat peduli dengan estetika feed media sosial, adalah kehadiran lima profil warna klasik Ricoh GR, yaitu Positive Film: Saturasi tinggi dan kontras yang tajam, meniru tampilan slide film yang hidup. Kedua, Negative Film yang memberikan nuansa retro dan nostalgia. Ketiga, High Contrast B&W untuk memberikan karakter dramatis yang sulit ditiru filter Instagram standar. Terakhir, profil Standard dan Monotone untuk reproduksi warna yang autentik dan gradasi abu-abu yang kaya.
Realme diperkirakan akan membanderol GT 8 Pro di kisaran Rp10-12 juta yang membuatnya langsung berhadap-hadapan dengan Xiaomi 15atau Vivo X200. Jika strategi ini berhasil, Realme bukan hanya menjual kamera, tetapi membajak selera visual satu generasi.
Sementara itu, Vivo-Zeiss sudah lama memperkuat citra sebagai maestro foto studio. Keunggulan absolut Vivo terletak pada lapisan lensa Zeiss T*yang secara drastis mengurangi flare dan ghosting saat memotret sumber cahaya kuat. Di negara tropis seperti Indonesia dengan matahari yang terik, atau dalam kondisi malam hari dengan banyak lampu motor dan reklame, lapisan T* memberikan keuntungan visual yang nyata: gambar yang bersih dengan kontras yang terjaga.
Vivo juga memperkuat seri X sebagai produk flagship dengan melengkapinya dengan lensa telefoto Zeiss APO (Apochromatic). Lensa ini mengoreksi aberasi kromatik (pinggiran ungu/hijau pada objek kontras tinggi) dengan menyatukan berbagai panjang gelombang cahaya pada satu titik fokus. Hasilnya adalah foto zoom jarak jauh yang memiliki kejernihan dan akurasi warna yang setara dengan kamera utama, sebuah fitur krusial bagi konsumen Indonesia yang gemar memotret konser atau pemandangan alam.
Tak cukup sampai di situ, Vivo juga memboyong fitur-fitur seperti Zeiss Multifocal Portrait yang memungkinkan pengguna beralih antara focal length klasik 24mm, 35mm, 50mm, 85mm, dan 100mm ke segmen menengah melalui seri V.
Di sisi lain, Oppo, melalui kemitraannya dengan Hasselblad, mengambil jalur yang berbeda: kalibrasi warna. Fokus mereka bukan pada filter yang mencolok atau efek dramatis, melainkan pada Hasselblad Natural Color Solution (HNCS). Tujuannya adalah menghasilkan warna yang paling mendekati persepsi mata manusia, namun dengan sentuhan “medium format” yang khas, seperti gradasi tonal yang halus dan skin tone yang akurat.
Pendekatan ini juga punya segmennya sendiri di Indonesia, terutama di fotografi gaya hidup (lifestyle) dan travel. Sistem kamera HyperTone yang dikembangkan bersama menjanjikan rentang dinamis (dynamic range) yang luas tanpa membuat gambar terlihat “datar” atau seperti HDR yang berlebihan.
Xiaomi juga tak mau ketinggalan pesta. Akhir tahun 2025 lalu, mereka kembali menggandeng Leica untuk menghadirkan sensor lebih besar di bodi smartphone yang tipis. Xiaomi menawarkan dua pilihan menggiurkan, yakni Leica Authentic yang menghasilkan gambar dengan vignetting (sudut gelap) alami, kontras tinggi, dan saturasi yang tidak berlebihan. Kedua, Leica Vibrant yang lebih modern, cerah, dan berwarna-warni, disesuaikan untuk konsumsi media sosial masa kini.
Samsung menjual kecerdasan
Di tengah kepungan aliansi China-Eropa/Jepang ini, Samsung tetap teguh dengan strategi mandirinya. Tak ada logo pabrikan mana pun di Galaxy S25 Ultra. Samsung mengandalkan integrasi vertikal penuh: mereka membuat sensornya sendiri (ISOCELL), layarnya sendiri (AMOLED), dan mengembangkan algoritmanya sendiri. Pilihan ini bukan sekadar soal kemandirian teknologi, melainkan sikap ideologis. Samsung menolak meminjam legitimasi dari merek lain untuk membangun kepercayaan penggunanya.
Alih-alih menjual “kaca” atau “lapisan lensa”, Samsung menjual “Kecerdasan”. Fitur Galaxy AI seperti Generative Edit, Instant Slow-mo, dan Nightography menjadi ujung tombak pemasaran. Data pasar menunjukkan, konsumen Indonesia sangat responsif terhadap fitur “Nightography” pada model seperti Galaxy A55 5G, yang dianggap memberikan nilai flagship di harga mid-range. Namun di sinilah paradoks sekaligus tantangan untuk Samsung dan perangkat PR dan marketing-nya. Kecerdasan adalah nilai yang kuat, tetapi sulit dipamerkan secara instan. Berbeda dengan logo Leica atau Hasselblad yang langsung terbaca dalam satu pandangan. Di era ketika perhatian bergerak secepat guliran jempol, nilai yang tidak bisa “dibaca” dalam tiga detik pertama akan selalu berada pada posisi defensif. Tantangan Samsung bukan membangun kecerdasan, tetapi membuat kecerdasan itu terbaca tanpa harus dijelaskan.
Kekuatan terbesar Samsung di Indonesia bukan hanya pada kamera, tetapi pada ekosistem dan kepercayaan. Namun, bukan berarti Samsung tak sadar adanya ancaman dari The Big Four. Saya meyakini, di tahun 2026 ini, Samsung akan memperbesar sensor kamera di S Series. Sebab, pemrosesan AI saja pasti tidak cukup untuk melawan para kompetitornya. Ini taruhan besar bahwa konsumen lebih percaya pada algoritma daripada warisan optik.
Pertarungan persepsi dan gengsi
Di Indonesia, merek kamera pada bodi belakang smartphone berfungsi sebagai sinyal status. Rasanya kita sepakat, bukanlah suatu kebetulan jika para pengguna iPhone 17 paling gemar melakukan mirror selfie. Memiliki logo “Leica” atau “Hasselblad” memberikan validasi instan bahwa pengguna adalah seseorang yang menghargai kualitas. Bukan kata saya, tetapi riset menunjukkan, “Brand Image” memiliki korelasi positif yang signifikan terhadap keputusan pembelian smartphone di Indonesia. Konsumen tak hanya membeli alat komunikasi, namun juga membeli identitas. Dan identitas, seperti kita tahu, jarang dibeli dengan rasionalitas.
Meskipun teknologinya canggih, tantangan terbesar bagi The Big Four adalah edukasi. Tidak semua konsumen Indonesia memahami apa itu “Chromatic Aberration” atau mengapa lapisan “T*” itu penting. Oleh karena itu, pemasaran sering kali disederhanakan menjadi jargon seperti “Anti-Glare”, “Portrait Master”, atau “Cinematic”.
Pertanyaannya, sampai kapan kita akan suka dengan permainan warna ini? Menurut saya, setelah fotografi diam mencapai titik jenuh, kolaborasi akan beralih ke videografi. Kita akan melihat lebih banyak fitur seperti LUTs (Look Up Tables) warna bioskop, perekaman LOG, dan stabilisasi tingkat lanjut yang dikembangkan bersama mitra kamera. Memang, perekaman LOG ini sudah ada, namun pemanfaatannya masih sangat terbatas kepada pengguna semi-profesional atau profesional.
Di tengah hiruk-pikuk spesifikasi dan logo kamera di punggung ponsel, Samsung agaknya seperti pemain yang sengaja berbicara lebih pelan. Mereka tak menawarkan kemungkinan tak terbatas, melainkan batas yang jelas: tentang keamanan, ekosistem, dan kendali. Apakah konsumen Indonesia akan memilih kebebasan visual ala Tiongkok atau ketertiban algoritmik ala Korea masih menjadi pertanyaan terbuka. Namun satu hal sudah pasti, pertarungan ini tak lagi dimenangkan oleh siapa yang paling keras menjanjikan, melainkan oleh siapa yang paling dipercaya untuk menepatinya.
Dan sekali lagi, pekerjaan rumah untuk seluruh perangkat PR dan marketing smartphone hari ini bukan hanya apa pesan yang disampaikan kepada masyarakat, melainkan di mana dan bagaimana orang menemukannya. Perubahan kebiasaan orang dalam mencari informasi membuat PR smartphone tidak lagi cukup bertumpu pada link berita karena perhatian makin lama makin terkunci di TikTok dan Instagram.
Konsekuensinya sederhana tapi kejam. Narasi yang rapi di artikel panjang sering tak pernah terlihat oleh Gen Z kecuali narasi itu diterjemahkan ke format video vertikal. TikTok dan Instagram bukan sekadar panggung hiburan, tetapi mesin pencari. Dan orang orang tidak lagi bertanya "spesifikasi apa", melainkan "kamera malamnya gimana", “panas nggak pas gaming”, “bisa buat kerja nggak”.
PR yang menang adalah PR yang menyediakan jawaban, bukan PR yang sekadar menyebarkan klaim. Ini juga mengubah cara mengukur keberhasilan. Di industri ini, kita terlalu lama merayakan metrik yang nyaman, seperti reach teoretis, kliping banyak, atau angka "nilai publisitas" yang terdengar besar. Padahal, yang dicari pasar adalah bukti yang bisa diverifikasi. Untuk semua vendor, godaannya sama: mesin sindikasi dan listicle harga memang mudah memperbanyak jejak, tetapi sering memperdangkal makna. Sementara konten pendek yang jujur, spesifik, dan bisa ditemukan ulang, yang disimpan, dibagikan, dan dijadikan rujukan, justru membangun modal kepercayaan.
Di titik ini, strategi mengutamakan nama besar, media besar, tak lagi cukup. PR perlu memantik percakapan pengguna nyata, komunitas beragam: gamer, pecinta konser, street photographer, pelaku UMKM dan lain-lain yang punya bahasa sendiri. Bagi merek mana pun, pertarungan 2026 bukan hanya soal siapa paling sering muncul, melainkan siapa paling sering dicari, dan paling dipercaya ketika ditemukan.



