Meta mengumumkan layanan berlangganan Instagram Plus. Peluncuran ini bersamaan dengan kehadiran Facebook Plus dan WhatsApp Plus di bawah payung Meta One. Lewat layanan Instagram Plus, pelanggannya akan mendapatkan deretan fitur eksklusif.
Saat ini, fitur yang dimaksud meliputi kustomisasi lebih personal hingga dukungan lebih lengkap untuk Stories. Ke depannya, fitur-fitur baru untuk pengguna berbayar akan ditambahkan seiring waktu.
Dengan hadirnya layanan berbayar, mungkinkah jadi akhir dari era medsos ‘gratis selamanya’ atau justru jadi ladang cuan tambahan buat Meta? Meta pun menjawab, keberadaan opsi berlangganan tak membuat Instagram, Facebook, atau WhatsApp gratis dihilangkan.
Sebagaimana diketahui, selama ini layanan media sosial dan platform Meta memang hadir gratis tanpa bayar apa pun. Hal ini membuat timbulnya doktrin di Silicon Valley “kalau pengguna tidak mengeluarkan uang untuk menikmati produk, berarti penggunalah produk dari perusahaan.” Kehadiran layanan Meta One bisa jadi akhir ketergantungan Meta pada bisnis iklan digital.
Kenapa Meta hadirkan layanan berlangganan?
Data Statista mengungkap, hingga kini sebagian besar pendapatan Meta masih berasal dari iklan digital. Pada 2025, pendapatan iklan Meta tembus lebih dari USD 196 miliar. Angka itu setara dengan pertumbuhan 22 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pendapatan iklan Meta di tahun 2026 pun diperkirakan terus bertumbuh.
Namun, CEO Meta Mark Zuckerberg beserta jajarannya di Meta paham betul: ketergantungan pada satu sumber pendapatan bisa berisiko.
Salah satu contohnya, Meta pernah mengalami pukulan besar setelah Apple memperkenalkan fitur App Tracking Transparency pada iPhone pada April 2021. Fitur ini membatasi pelacakan pengguna. Imbasnya, Meta kehilangan sekitar USD 10 miliar potensi pendapatan iklan, dari targeted ads dalam satu tahun.
Kehadiran fitur berbayar setop ketergantungan Meta pada bisnis iklan?
Kehadiran App Tracking Transparency dari Apple bukanlah satu-satunya hal yang membuat Meta berpikir keras mencari ceruk keuntungan dari sumber lain.
Diberlakukannya kebijakan privasi baru dari negara-negara Uni Eropa, salah satunya Digital Markets Act (DMA) makin mempersempit ruang gerak Meta memonetisasi data pengguna tanpa persetujuan eksplisit. Hal ini membuat efektivitas iklan personalisasi bisa menurun.
Belum lagi, pasar iklan begitu fluktuatif karena tergantung inflasi dan kondisi ekonomi makro. Oleh karenanya, Meta ingin memiliki “mesin uang” lain selain pendapatan iklan: yakni lewat layanan berlangganan.
Layanan berbayar yang dimiliki Meta juga cukup beragam, misalnya Meta Verified, langganan bebas iklan di Eropa, AI premium, AI agent pada WhatsApp Business, dan layanan berbayar lainnya di bawah Meta One.
Amunisi untuk perang AI
Seperti diketahui, saat ini perusahaan teknologi berlomba-lomba menciptakan kecerdasan buatannya sendiri. Layanan Meta: Mulai dari Facebook, Instagram, sampai ke WhatsApp sudah terintegrasi dengan Meta AI.
Kendati demikian, investasi di sektor AI membutuhkan dana yang begitu besar. Business Insider melaporkan, pada 2026, capex atau belanja modal Meta diproyeksikan USD 115 hingga 135 miliar, yang utamanya untuk membangun data center AI, chip serta pengembangan model AI.
Itu sebabnya, Meta butuh model monetisasi AI langsung. Zuckerberg sebelumnya sudah mengisyaratkan, Meta AI yang kini gratis akan hadirkan tier premium. Lalu, fitur AI yang lebih canggih bisa dimanfaatkan pengguna berbayar. Selain itu, AI agent WhatsApp Business akan dikenakan biaya berlangganan.
Subscription atau layanan berlangganan pun dinilai jadi jalan keluar yang mengubah investasi AI jadi pendapatan.
Beda langganan Meta dengan platform lainnya?
Fitur berlangganan sebenarnya bukan hal baru di industri media sosial. Sebelumnya, Telegram sudah punya Telegram Premium, X (dahulu Twitter) punya X Premium, YouTube juga punya YouTube Premium.
Telegram Premium menawarkan kemampuan unggah file lebih besar, kecepatan unduh lebih cepat, fitur eksklusif, emoji dan stiker premium, serta batas channel dan grup lebih tinggi.
Dalam hal ini Telegram menjual fungsi tambahan, bukan hanya status sosial. Menurut Financial Times, pendapatan Telegram Premium cukup besar, yakni USD 223 juta. Dari sini mungkin Meta melihat kalau tak sedikit pengguna bersedia membayar untuk menikmati fitur premium yang bermanfaat.
Sementara untuk X Premium, fitur yang dijual meliputi centang biru, prioritas distribusi konten, kemampuan edit unggahan, monetisasi kreator, bebas iklan, serta akses ke Grok AI.
Salah satu perbedaan paling mencolok adalah basis pengguna keseluruhan Meta yang begitu besar. Oleh karenanya, potensi pendapatan Meta dari fitur berlangganan ini juga diperkirakan jauh lebih besar.
Berapa potensi keuntungan Meta dari layanan berlangganan?
Biaya langganan Facebook Plus dan Instagram Plus sekitar USD 3,99 atau setara Rp 71 ribu. Adapun langganan WhatsApp Plus sebesar USD 2.99 atau Rp 54 ribu. Angka-angka ini memang terlihat kecil. Namun yang perlu diingat, Meta merupakan media sosial dengan basis pengguna terbesar di dunia.
Asal tahu saja, jumlah pengguna aktif harian layanan Meta mencapai 3,5 miliar user. Sementara pengguna aktif bulanan Meta tercatat 4 miliar user.
Dengan asumsi hanya 1 persen dari pengguna Meta yang berlangganan paket premium, perusahaan berpotensi meraup cuan sekitar Rp 76 triliun per tahun. Sementara, kalau tingkat adopsi naik menjadi 3 persen, potensi pendapatannya bahkan melonjak hingga Rp 228 triliun per tahun.
Angka ini seolah memperlihatkan kalau layanan berlangganan di bawah Meta One itu bukan cuma pelengkap pendapatan Meta dari sektor iklan, tetapi bisa jadi lini bisnis sendiri. Nilainya pun ditaksir bisa sampai ratusan triliun rupiah per tahunnya.
Pax Insight
Kehadiran layanan berlangganan seperti Instagram Plus, WhatsApp Plus, dan Facebook Plus selain memperkuat pendapatan Meta juga menawarkan benefit bagi konsumen. Misalnya, dengan langganan Instagram Plus, pengguna juga bisa melihat insight dan membuat unggahannya lebih visible.
Alih-alih hanya berjualan fitur pelengkap untuk pengguna, Meta One jadi strategi besar Meta mengamankan masa depan bisnis dari gempuran fitur privasi Apple, kebijakan privasi Uni Eropa, sekaligus mendanai teknologi AI yang butuh banyak gelontoran dana.



