Regulator Tiongkok membuka penyelidikan antimonopoli terhadap raksasa semikonduktor Amerika Serikat, Qualcomm, terkait akuisisi Autotalks yang diselesaikan pada Juni 2025. State Administration for Market Regulation (SAMR) menuduh Qualcomm melanggar undang-undang antimonopoli Tiongkok dengan tidak mengungkapkan detail tertentu dari kesepakatan tersebut, dilansir dari Engadget.
Penyelidikan ini muncul di tengah ketegangan perdagangan yang memanas antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Saham Qualcomm turun lebih dari 5 persen setelah pengumuman penyelidikan, terutama setelah Presiden Trump mengancam akan menaikkan tarif terhadap Tiongkok dan membatalkan pertemuan yang dijadwalkan dengan Presiden Xi Jinping.
SAMR mengungkapkan bahwa mereka telah memberitahu Qualcomm secara tertulis pada 12 Maret 2024 untuk mengajukan konsentrasi untuk ditinjau dan tidak melanjutkan transaksi sampai mendapat persetujuan. Qualcomm menyatakan dalam surat dua hari kemudian bahwa mereka akan meninggalkan transaksi, namun tetap menyelesaikan akuisisi pada Juni 2025 tanpa pengajuan atau komunikasi dengan regulator.
Autotalks, perusahaan yang didirikan di Kfar Netter dan didukung investor termasuk Samsung Catalyst, Hyundai, Liberty, dan Foxconn, mengembangkan chip komunikasi kendaraan-ke-kendaraan yang mengirimkan data kecepatan, lokasi, dan pengereman antar mobil untuk membantu mencegah tabrakan. Meskipun menjanjikan dengan investasi Rp2,3 triliun (USD150 juta), perusahaan kesulitan mencapai daya tarik komersial yang berarti.
Qualcomm awalnya mengumumkan rencana mengakuisisi Autotalks pada 2023 dengan valuasi Rp5,4-6,2 triliun(USD 350-400 juta), namun meninggalkan tawaran tahun berikutnya setelah penundaan dalam memperoleh izin regulasi. Perusahaan kemudian menghidupkan kembali kesepakatan, menyelesaikan pembelian dengan nilai di bawah Rp1,55 triliun (USD100 juta).
Qualcomm berpotensi menghadapi denda hingga Rp10,9 miliar (USD702.000) karena tidak meminta persetujuan sebelumnya atas kesepakatan Autotalks.



