Pemegang saham Tesla telah memberikan persetujuan untuk paket kompensasi CEO Elon Musk yang berpotensi mencapai USD1 triliun (Rp16.580 triliun), sebagai gambaran GDP Indonesia tahun 2024 adalah sebesar USD1,3 triliun (Rp21,7 triliun).
Dengan demikian, hal tersebut menjadikannya paket gaji perusahaan terbesar dalam sejarah, sebagaimana dilansir dari CNBC. Lebih dari 75 persen suara mendukung rencana pembayaran yang belum pernah terjadi ini, yang diumumkan pada pertemuan tahunan perusahaan di Austin, Texas.
Untuk menerima kompensasi penuh, Musk harus mencapai serangkaian target yang sangat ambisius selama dekade berikutnya. Tesla harus meningkatkan nilai pasar dari USD1,4 triliun saat ini menjadi USD8,5 triliun (Rp140.930 triliun). Selain itu, perusahaan harus menjual 20 juta kendaraan, menerapkan 1 juta robotaxi, menjual 1 juta robot humanoid, dan mendapatkan 10 juta pelanggan untuk fitur Full-Self Driving (FSD).
Paket kompensasi ini tidak memberikan gaji tunai kepada Musk. Sebaliknya, ia akan menerima hingga 423,7 juta saham tambahan Tesla yang dibagi dalam 12 segmen, meningkatkan kepemilikannya dari 12 persen menjadi sekitar 25 persen. Setiap segmen akan dibuka ketika Tesla mencapai tonggak tertentu, dimulai dengan kapitalisasi pasar USD2 triliun (Rp 33.160 triliun), kemudian meningkat dalam kelipatan USD500 miliar (Rp 8.290 triliun).
Target keuangan lainnya termasuk mencapai keuntungan tahunan yang disesuaikan mulai dari USD50 miliar (Rp829 triliun) hingga USD400 miliar (Rp6.632 triliun). Pada kuartal ketiga, Tesla melaporkan laba sebelum bunga dan pajak sebesar USD4,2 miliar (Rp69,6 triliun).
Robyn Denholm, ketua Tesla , memperingatkan pemegang saham bahwa Musk mungkin meninggalkan perusahaan jika proposal ditolak. Ia menekankan bahwa Tesla bisa kehilangan "nilai signifikan tanpa Musk".
Beberapa investor besar, termasuk dana kekayaan Norwegia, menentang rencana tersebut karena ukurannya yang luar biasa dan kekhawatiran tentang pengenceran saham. Namun, mayoritas pemegang saham percaya bahwa paket ini akan memotivasi Musk untuk tetap fokus pada Tesla dan mencapai target ambisius yang ditetapkan.
Keputusan ini datang di tengah tantangan bagi Tesla, termasuk penurunan pendapatan dan pangsa pasar yang sebagian dikaitkan dengan kontroversi politik Musk. Namun, pemegang saham tampaknya yakin pada visi jangka panjangnya untuk mengubah Tesla menjadi pemimpin dalam kecerdasan buatan (AI) dan robotika.
Pax Insight
Paket kompensasi Elon Musk senilai USD1 triliun yang disetujui pemegang saham Tesla mencerminkan taruhan besar terhadap visi jangka panjang perusahaan di bidang AI dan robotika. Tanpa gaji tunai, Musk akan menerima hingga 423,7 juta saham tambahan jika Tesla mencapai target ekstrem seperti kapitalisasi pasar USD8,5 triliun, penjualan 20 juta kendaraan, dan implementasi robot humanoid serta robotaxi.
Meskipun menuai kritik dari investor besar karena risiko pengenceran saham, mayoritas pemegang saham percaya bahwa insentif ini akan menjaga fokus Musk dan memperkuat posisi Tesla sebagai pionir teknologi masa depan.



