Hibura
Senin, 29 Juni 2026 11:10 WIB

7 Tips hapus jejak digital yang “memalukan”

Jejak digital di masa lalu kerap memalukan dan masih bisa diakses di internet, bagaimana cara menghapusnya?
Ilustrasi

Pernahkah Anda melihat kembali kenangan media sosial dan menemukan ada beberapa unggahan status atau bahkan foto “alay” dari masa lalu? 

Atau, pernahkah Anda iseng Googling nama sendiri dan menemukan hasil mengejutkan: akun medsos jadul atau blog lama yang isinya ternyata memalukan?

Pada era digital, rekam jejak pengguna bukanlah sekadar masa lalu belaka. Jejak digital ini bisa jadi sasaran empuk cyber-stalking, kebocoran data, dan paling parahnya, “diintip” dan jadi bahan penilaian HRD saat Anda melamar pekerjaan. 

Meski menghapus jejak digital secara total 100 persen hampir mustahil, Anda dapat meminimalkannya demi mengamankan privasi. 

Mengapa ini penting?

  • Jejak digital yang terbengkalai (nomor HP, alamat email, sampai nama ibu kandung) yang pernah diunggah di media sosial bisa dimanfaatkan pelaku kejahatan. Data-data ini bisa dieksploitasi untuk phishing, penipuan sosial, sampai cyber-stalking. 
  • Saat ini hampir semua korporasi dan HDR melakukan background check digital ke calon karyawan. Jangan sampai unggahan atau komentar ekstrem di masa lalu yang masih terindeks di mesin pencari jadi batu sandungan karier Anda. 
  • Membiarkan aplikasi pihak ketiga yang sudah tak dipakai terus mengintip dan merekam aktivitas digital yang lalu, bisa menganggu privasi Anda. 

Apa saja tips menghapus jejak digital?

Ada sejumlah tips yang bisa dilakukan untuk menghapus jejak digital Anda di internet, apa saja?

1. Audit diri sendiri melalui mesin pencari

Sebelum mulai menghapus, Anda perlu ketahui data apa saja yang terlanjur jadi konsumsi publik. Caranya adalah dengan mencari tahu, apa saja data-data pribadi Anda yang ada di internet. 

  • Caranya, buka browser dan Googling nama lengkap Anda menggunakan “(nama Anda)”. Tanda kutip ini memaksa Google mencari frasa yang spesifik. 
  • Lakukan pencarian ulang, ditambah dengan kombinasi nama + kota kelahiran, nama + sekolah/ kampus, atau nomor telepon. 
  • Pindah ke tab Google Images untuk memeriksa, foto apa saja yang terindeks dan terikat dengan nama Anda. 

2. Hapus atau deaktivasi akun media sosial lama

Akun media sosial lama bisa jadi “kuburan” digital, apalagi ada banyak akun media sosial jadul yang mungkin populer belasan tahun lalu dan Anda miliki akun di dalamnya. Sebut saja MySpace, Path, Ask.fm, sampai Tumblr yang sudah bertahun-tahun tak dibuka, tapi ternyata masih aktif. 

  • Caranya, masuk ke akun-akun lama tersebut dan cari menu pengaturan privasi, kemudian Hapus Permanen atau Delete Account, bukan sekadar logout atau menonaktifkan sementara (deactive). 
  • Jika Anda lupa password, manfaatkan fitur pemulihan via email lama Anda. Kalau email sudah mati, Anda bisa mencoba menghubungi layanan bantuan platform tersebut dengan menyertakan bukti identitas diri untuk meminta penghapusan. 

3. Bersihkan riwayat data dari Google My Activity

Asal tahu saja, Google merekam hampir tiap gerak gerik digital anda, mulai dari apa yang dicari, video YouTube yang ditonton, sampai riwayat lokasi fisik yang Anda kunjungi via Google Maps selama bertahun-tahun. 

  • Cara membersihkannya adalah dengan mengakses laman resmi Google My Activity (myactivity.google.com) melalui akun Google. 
  • Pilih opsi Hapus aktivitas menurut dan pilih “Semua Saja” atau All time untuk membersihkan riwayat masa lalu. 
  • Anda juga bisa mengaktifkan fitur Auto-delete agar Google secara otomatis menghapus riwayat aktivitas Anda tiap tiga bulan atau 18 bulan sekali secara berkala. 
  • Jangan lupa juga untuk membersihkan cache dan cookies browser. 

4. Pakai fitur Right to be forgotten di Google

Pernah dengar Right to be forgotten? Ini adalah sebuah konsep hukum digital yang memberikan hak kepada seseorang untuk meminta penyedia layanan internet, seperti mesin pencari Google, medsos, platform medsos, untuk menghapus berbagai informasi, berita, foto, atau masa lalu yang dinilai tidak relevan atau merugikan privasi. 

Contoh kasusnya begini, jika ada blog, situs berita, atau forum internet yang memuat informasi sensitif Anda dan pemilik situs menolak menghapusnya, Anda bisa meminta bantuan platform untuk memutus aksesnya. 

  • Caranya, cari dan buka formulir resmi Google Content Removal Request (Permintaan penghapusan konten dari Google). 
  • Ajukan permohonan dengan menyertakan link yang melanggar privasi Anda
  • Jika disetujui, Google akan menghapus halaman tersebut dari hasil pencarian mereka. Jadi, situsnya mungkin masih ada, tapi karena dihapus, orang lain tidak akan bisa menemukannya lewat Google. 

5. Putus akses aplikasi pihak ketiga

Pernahkah Anda malas buat akun baru di sebuah aplikasi atau game lalu pilih opsi “Sign-in with Google.” Rupanya tiap kali Anda melakukan itu, aplikasi tersebut memegang kunci untuk mengakses sebagian data personal Anda. Ternyata, akses itu tetap terbuka meski aplikasinya sudah dihapus dari HP!

  • Namun, Anda bisa memutus aksesnya. Caranya, buka pengaturan akun utama Google, Facebook, atau Apple ID Anda. 
  • Cari menu Keamanan (Security), lalu pilih aplikasi pihak ketiga dengan akses akun (Connected apps). 
  • Tinjau daftarnya lalu Revoke Access pada semua aplikasi atau game yang sudah tak pernah dipakai lagi. 

6. Hapus data dari situs pengumpul data

Ada perusahaan-perusahaan yang dikenal sebagai Data Brokers alias situs pengumpul data. Tugasnya adalah mengumpulkan data publik dari berbagai sumber internet, mengompilasinya, dan kadang menjual ke pihak lain untuk kebutuhan marketing. 

  • Anda bisa menghapus data tersebut, caranya, jika Anda menemukan nama atau nomor telepon Anda tercantum di situs direktori publik, gulir laman hingga bagian paling bawah. 
  • Carilah tautan tersembunyi seperti opt-out, privacy, atau remove my info. 
  • Isi formulir tersebut untuk meminta penghapusan data Anda dari database publik mereka. 

7. Ganti alamat email utama dan manfaatkan email samaran

Email utama yang mungkin sudah dipakai sejak Anda remaja, kemungkinan besar sudah berkali-kali masuk ke database kebocoran data karena peretasan situs web lain. 

Ternyata Anda bisa menggunakan email samaran (umum dan bisa dilakukan di perangkat Apple dengan fitur Hide My Email) untuk mendaftarkan diri ke layanan digital tertentu. Hal ini bisa mengurangi potensi email Anda dikumpulkan ke direktori publik. 

  • Caranya, pertama Anda bisa cek status keamanan email Anda di situs terpercaya. Misalnya di haveibeenpawned.com. Kalau statusnya merah, artinya email Anda pernah bocor atau ada di daftar data breach. 
  • Mulai membuat email baru yang bersih, khusus untuk urusan perbankan, pekerjaan, dan administrasi penting. 
  • Untuk mendaftar ke aplikasi kasual, belanja online, atau yang kurang penting, manfaatkan fitur email samaran (Seperti milik Apple atau layanan gratis seperti Firefox Relay). Dengan begitu, email Anda tetap aman. 

Pax Insight

Terlepas dari tips-tips di atas, menjaga privasi digital bukan tugas satu kali selesai, melainkan sebuah kebiasaan baru. Terapkan prinsip sederhana ini untuk meminimalisasi jejak digital baru. 

Pikir sebelum unggah dan ingat, jangan pernah memberikan detail-detail diri Anda, mulai dari lokasi, foto tiket pesawat yang dilengkapi barcode, dokumen identitas, sampai ke curhatan personal di ruang publik. 

Sekali sesuatu yang diunggah ke internet, tombol delete hanya menghapusnya dari pandangan Anda, tapi tetap ada di server internet.