Teknologi kecerdasan buatan alias AI yang kerap diakses pengguna dari layar smartphone telah mengubah nasib banyak orang. Selain membuat pengguna internet jadi lebih produktif hingga meningkatkan kreativitas, AI ternyata melahirkan miliarder generasi baru.
Berapa tahun lalu, miliarder sektor teknologi banyak lahir dari perkembangan internet, sebut saja Mark Zuckerberg yang jadi miliarder setelah sukses membuat Facebook yang kini jadi jejaring sosial terbesar di dunia.
Lalu, ada Jeff Bezos yang sempat jadi orang terkaya di dunia berkat bisnis e-commerce Amazon –yang kemudian merambah ke sektor cloud dan lainnya.
Kini, sektor AI yang naik daun, dengan cepat mewujudkan mimpi para inovator muda menjadi miliarder.
Perusahaan-perusahaan AI seperti Anthropic, Scale AI, sampai DeepSeek dikenal luas lantaran produknya banyak dipakai oleh AI users di seluruh dunia. Lantas, siapa sajakah para miliarder baru yang lahir dari era AI ini?
7 miliarder dari sektor AI
-
Dario dan Daniela Amodei (Anthropic)

Dario Amodei dan Daniela Amodei merupakan mantan petinggi OpenAI yang memilih keluar untuk mendirikan Anthropic. Produknya adalah ekosistem chatbot Claude yang kini jadi salah satu chatbot pilihan pengguna.
Kekayaan Dario dan Daniela Amodei masing-masing ditaksir sekitar USD 8 miliar atau setara Rp 142,4 triliun.
Adapun lonjakan kekayaan mereka terjadi setelah Anthropic menyelesaikan putaran pendanaan besar yang mencapai USD 65 miliar. Pendanaan ini membuat valuasi Anthropic meroket menyentuh USD 1 triliun.
Walaupun sudah jadi miliarder, Dario dan Daniela Amodei bersama pendiri Anthropic lainnya berjanji untuk menyumbangkan 80 persen kekayaan mereka untuk amal.
-
Liu Debing
Nama Liu Debing mungkin belum dikenal luas oleh dunia. Liu merupakan pengusaha asal Tiongkok yang kekayaannya menembus USD 9,1 miliar setelah perusahaannya Z.ai sukses melantai di bursa saham Hong Kong (IPO).
Z.ai adalah pengembang model AI open source yang merupakan pesaing OpenAI. Startup ini fokus pada pengembangan Large Language Models (LLM) dan mencatatkan sejarah sebagai startup AI generatif asal Tiongkok pertama yang IPO di bursa saham Hong Kong.
Liu Debing menjadi otak bisnis dan salah satu pendiri dari Z.ai yang kini menjadi salah satu miliarder dengan kekayaan bersih mencapai USD 22,4 miliar per Juni 2026, demikian lapor Bloomberg.
Startup Z.ai didirikan Liu pada Juni 2019 dengan nama Zhipu AI. Tahun demi tahun, di bawah kepemimpinan Liu, Z.ai mendapatkan pendanaan dari raksasa teknologi seperti Alibaba, Tencent, dan Ant. Valuasi pasarnya sampai di angka USD 100 miliar berkat perilisan model AI GLM-5.2.
-
Yan Junjie
Yan Junjie merupakan pendiri, CEO, sekaligus Chairman MiniMax yang sukses jadi miliarder setelah perusahaannya itu IPO di bursa saham Hong Kong pada Januari lalu dengan valuasi pasar menembus USD 6 miliar.
MiniMax merupakan perusahaan AI yang berupaya membawa kecerdasan buatan bagi semua orang. Perusahaan ini fokus mengembangkan model dasar multimodal yang berupa teks, suara, dan video. Produk-produk MiniMax meliputi aplikasi mengobrol berbasis AI, Talkie, serta alat pembuat video AI, Hailuo AI.
MiniMax mendapatkan pendanaan senilai miliaran dolar AS dari Alibaba, Tencent, modal ventura HongShan, serta pembesut game Genshin Impact, MiHoYo.
Yan merupakan peraih gelar Doktor yang fokus pada teknologi kecerdasan buatan dan computer vision. Total kekayaannya per Juni 2026 mencapai USD 3,2 miliar atau setara Rp 54 triliun.
-
Liang Wenfeng
Masih ingat dengan DeepSeek, AI dari Tiongkok yang sempat booming beberapa waktu lalu karena dianggap lebih pintar ketimbang ChatGPT? Nah, Liang Wenfeng merupakan pendiri dari DeepSeek AI.
DeepSeek sukses mengguncang dunia karena model AI-nya memiliki efisiensi tinggi. Hal ini pula yang membuat DeepSeek mematahkan dominasi perusahaan-perusahaan Silicon Valley dalam perlombaan AI dunia.
Rupanya, jauh sebelum membangun LLM, Liang mendirikan perusahaan yang memanfaatkan algoritma matematika dan AI untuk perdagangan saham otomatis. Keuntungan dari perusahaan bernama High-Flyer itu ia alokasikan untuk memborong chip GPU dari Nvidia sejak 2009. Selanjutnya, ia mendirikan lab AI mandiri yang menghasilkan DeepSeek AI.
Menurut data Forbes, per Juni 2006 kekayaan Liang Wenfeng menyentuh USD 11,5 miliar atau setara Rp 204,7 triliun. Lonjakan harta ini berkat kepemilikan mayoritas saham DeepSeek. Apalagi, DeepSeek sukses mendapatkan pendaan seri A senilai lebih dari USD 59,2 miliar.
-
Edwin Chen
Pendiri Surge AI Edwin Chen memiliki kekayaan sebesar USD 18 miliar atau setara Rp 320,4 triliun per Juni 2026. Hartanya meroket setelah Surge AI membukukan pendapatan tahunan USD 1,2 miliar, tanpa pernah mendapatkan sepeser pun dana dari investor luar.
Chen dikenal merupakan jenius low-key, alias menghindar dari sorotan publik. Alih-alih mejeng di Silicon Valley, kabarnya Chen menjalankan perusahaan dari sebuah apartemen di Manhattan, New York.
Chen dulunya adalah seorang engineer machine learning sekaligus data scientist yang pernah bekerja mengembangkan algoritma rekomendasi di Google, Facebook, Twitter, hingga Dropbox. Surge lahir karena Chen kesulitan menemukan data yang akurat untuk melatih model AI.
Lalu, tahun 2020 Surge hadir dengan modal dari tabungan pribadi Chen. Surge berbeda dengan perusahaan pesaingnya lantaran berfokus pada pelatihan data yang kompleks dan mendalam.
Kualitas data premium yang dihadirkan Surge untuk melatih AI membuatnya jadi mitra terpercaya di balik pelatihan model-model AI canggih dunia saat ini. Mulai dari ChatGPT, Claude, Gemini, Microsoft, hingga Mistral.
-
Alexandr Wang

Alexandr Wang merupakan miliarder dengan kekayaan mencapai USD 3,2 - 3,6 miliar atau setara Rp 57-64 triliun menurut Forbes.
Namanya meroket setelah ia dinobatkan sebagai miliarder mandiri termuda saat usianya baru 24 tahun, yakni saat perusahaannya diakuisisi oleh Mark Zuckerberg. Wang merupakan salah satu pendiri Scale AI, perusahaan yang bergerak di industri pelabelan data untuk kecerdasan buatan.
Scale AI didirikan pada 2016, saat Wang baru berusia 19 tahun. Ia dropout dari salah satu sekolah teknik paling bergengsi di dunia, Massachusetts Institute of Technology alias MIT.
Startup yang didirikan Wang bersama dengan Lucy Guo ini bertujuan untuk memecahkan masalah vital pada AI yakni melabeli tumpukan data mentah agar bisa dibaca oleh mesin.
Usai 49 persen saham Scale AI dibeli Meta Platforms, Wang bergabung dengan Meta dan menjabat sebagai Chief AI Officer dan memimpin divisi Meta Superintelligence Labs.
-
Lucy Guo
Kekayaan Lucy Guo, mitra Alexandr Wang dalam mendirikan Scale AI, mencapai USD 1,3 - 1,5 miliar (setara Rp 23 - 26 triliun) per Juni 2026, menurut Forbes. Pencapaian ini sekaligus membuatnya jadi salah satu miliarder wanita mandiri termuda di dunia.
Sebagian besar harta tersebut terkumpul dari kepemilikan sekitar 5 persen saham pasif Scale AI yang ia pertahankan. Nilai saham tersebut melonjak setelah Meta Platforms mengakuisisi 49 persen kepemilikan Scale, pertengahan 2025.
Sebelum mendirikan Scale AI, bekas mahasiswa MIT dan Carnegie Mellon University (CMU) ini belajar coding secara otodidak. Ia memutuskan keluar dari kuliah setelah memenangkan program beasiswa Thiel Fellowship, program dari Peter Thiel yang memberikan USD 100.000, dengan syarat: keluar dari sekolah untuk membangun bisnis.
Selanjutnya, Guo pernah jadi desainer wanita pertama di Snapchat. Ia juga pernah magang di Facebook. Pada 2016, bersama Wang, Lucy Guo membangun Scale AI.
Ia berperan mendesain produk, antarmuka, dan mengatur operasional pelabelan data AI. Sayangnya, karena perselisihan dengan Wang, Lucy Guo dipecat pada 2018. Keputusan mempertahankan 5 persen saham itulah yang menjadikannya miliarder.
Pada 2022, ia meluncurkan platform monetisasi konten digital bernama Passes, yang kemudian mendapatkan pendanaan eksternal sekitar USD 66 juta dari investor di Silicon Valley.



