Kisah
Selasa, 30 Juni 2026 19:08 WIB

Samsung Solve for Tomorrow 2026 bekali 2.600 siswa lewat workshop Design Thinking

Samsung Solve for Tomorrow 2026 membekali 2.600 mahasiswa dan siswa dari 27 provinsi melalui Workshop Design Thinking.
Samsung Solve for Tomorrow (SFT) 2026

Samsung Solve for Tomorrow (SFT) 2026 membekali 2.600 mahasiswa dan siswa terpilih melalui Workshop Design Thinking. Program tahun ini mendapat antusiasme tinggi dengan lebih dari 4.000 pendaftar dari 27 provinsi di Indonesia.

Program ini berusaha menjawab tantangan terbesar di era AI (Artificial Intelligence) saat ini yaitu menghadirkan ide yang mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat. 

Kenapa ini penting? 

Di tengah kemudahan menghasilkan ide berkat AI, tantangan sesungguhnya bergeser ke kemampuan memvalidasi apakah ide tersebut benar-benar menjawab kebutuhan nyata.

Samsung Solve for Tomorrow menjawab kesenjangan ini dengan menanamkan metodologi Design Thinking sebagai fondasi, memastikan generasi muda Indonesia tak hanya melek teknologi, tapi juga mampu berempati dan memahami akar masalah sebelum melompat ke solusi.

"Indonesia memiliki generasi muda dengan potensi yang luar biasa. Tantangan saat ini bukan lagi menghasilkan lebih banyak ide, melainkan memastikan ide tersebut berkembang menjadi solusi yang memberikan dampak nyata," ujar Anggi Paramita, Head of Corporate Marketing, Samsung Electronics Indonesia.

Untuk itu, kemampuan memahami permasalahan menjadi sama pentingnya dengan penguasaan teknologi, dan Design Thinking pun jadi fondasi untuk mengembangkan inovasi berbasis STEM serta AI yang relevan sekaligus berdampak.

Peserta Samsung Solve for Tomorrow 

Workshop ini diikuti peserta dari berbagai SMA dan perguruang tinggi di antaranya: 

  • SMA Negeri 1 Yogyakarta
  • SMA Kolese Gonzaga
  • SMA Negeri 10 Malang
  • Universitas Indonesia
  • Universitas Brawijaya
  • Binus University

Melalui workshop ini, mereka dibimbing untuk memahami akar permasalahan sebelum mengembangkan solusi berbasis STEM dan AI.

Struktur workshop

Program ini hadir dalam bentuk workshop yang terdiri dari empat sesi Design Thinking di antaranya: 

  • Introduction & Empathize: Memahami konteks dan pengguna
  • Define & Ideate: Merumuskan masalah dan mengembangkan ide
  • Prototyping: Membangun purwarupa solusi
  • Testing: Validasi dan pengujian solusi

Pembelajaran ini menjadi bekal bagi peserta untuk menyusun concept paper dalam tiga tema utama yakni Sustainability and Environment, Education, serta Sport and Technology, sebelum melaju ke tahap semifinal dan pengembangan prototipe.

Tercatat, ada 47,83 persen peserta memilih tema Sustainability & Environment sebagai tema concept paper mereka. Ini menunjukkan tingginya kepedulian generasi muda terhadap isu keberlanjutan dan pelestarian lingkungan. 

Mengapa Design Thinking jadi awal? 

Dalam Samsung SFT, proses Design Thinking sangat penting karena membantu peserta untuk tidak langsung melompat ke solusi, melainkan terlebih dahulu memahami konteks permasalahan secara menyeluruh, termasuk siapa yang terdampak, apa kebutuhan utama yang belum terpenuhi, dan mengapa isu tersebut perlu diselesaikan.

Menurut Kusuma Sukma, Partner Coach UD Impact Korea dan AI Innovation Coach Learnly Society yang menjadi trainer program ini, kesalahan yang paling sering terjadi adalah terlalu cepat jatuh cinta pada ide, sebelum benar-benar memahami masalah yang ingin diselesaikan. 

"Banyak anak muda langsung fokus pada bentuk solusi yang terlihat menarik atau canggih, tetapi belum tentu sesuai dengan kebutuhan pengguna. Padahal, inovasi yang kuat selalu dimulai dari masalah yang nyata, penting, dan dirasakan langsung oleh orang yang terdampak," katanya. 

Menggabungkan AI dan empati dalam berinovasi

Menurut Kusuma, di era AI, kemampuan seperti empati, kreativitas, dan problem solving justru menjadi semakin penting. 

AI dapat membantu mempercepat analisis maupun pengembangan ide, tetapi tetap membutuhkan manusia untuk memahami konteks sosial, kebutuhan pengguna, serta dampak yang ingin diwujudkan.

Untuk itu, teknologi dan kemampuan berpikir yang berpusat pada manusia perlu berjalan beriringan agar inovasi yang dihasilkan benar-benar relevan bagi masyarakat.

Workshop ini jadi bekal penting sebelum peserta melangkah ke tahap berikutnya. Setelah menyempurnakan concept paper, 40 tim terbaik akan melaju ke babak semifinal, mengikuti pelatihan AI Amplification, dan sesi mentoring bersama para ahli dari Samsung serta mitra program. 

Pax insight

Pendekatan Samsung Solve for Tomorrow ini harus diakui kian relevan di era AI generatif. Sebab, kemampuan menghasilkan ide kini menjadi komoditas yang murah, sedangkan kemampuan memvalidasi apakah ide tersebut benar-benar dibutuhkan justru menjadi keterampilan langka dan bernilai tinggi. 

Dengan AI yang bisa menghasilkan ratusan ide dalam hitungan detik, fondasi Design Thinking yang ditekankan program ini, mulai dari empati, observasi, dan validasi, bisa menjadi pembeda sesungguhnya antara solusi yang relevan dan sekadar gimmick teknologi.

Selain itu, dominasi tema Sustainability & Environment dengan 47,83 persen pemilih adalah data yang menarik dan mencerminkan kesadaran generasi muda Indonesia terhadap isu lingkungan yang semakin mendesak. 

Ini sejalan dengan tren global yang menyebut Gen Z dan generasi setelahnya menunjukkan tingkat kepedulian lingkungan yang lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya.