AI
Senin, 25 Mei 2026 08:01 WIB

Smartphone AI: proses di perangkat vs cloud, apa beda dan mana yang lebih aman?

Di tengah maraknya adopsi kecerdasan buatan, industri smartphone kini dipaksa merombak strategi mereka untuk menjawab kekhawatiran terbesar pengguna modern, yakni tentang ke mana dan bagaimana data pribadi mereka diproses oleh AI.

Kecerdasan buatan atau AI jadi salah satu nilai jual sebuah smartphone masa kini. Imbasnya, brand pun berlomba-lomba menghadirkan AI paling cerdas untuk membantu pengguna berkreasi hingga bekerja. 

Mulai dari menerjemahkan telepon secara langsung, memanipulasi foto, kini semua bisa dilakukan dengan satu ketukan lewat bantuan AI. Namun yang mungkin tidak disadari -atau bahkan tidak diketahui pengguna- AI membutuhkan data yang diproses. 

Yang patut ditanyakan, disimpan atau dikirim ke mana data pengguna seperti foto, suara, atau dokumen saat AI memprosesnya?

Ternyata, secara garis besar fitur AI di smartphone itu memiliki dua cara kerja, yakni proses di perangkat (on-device AI) dan proses di cloud (cloud-based AI). 

Perbedaan AI on device dan cloud-based

  • On-device AI atau kecerdasan lokal: proses berpikir AI dilakukan 100 persen di smartphone pengguna menggunakan chip khusus Neural Processing Unit. Data pengguna tidak keluar dari perangkat dan AI bisa bekerja tanpa internet (offline). 
  • Cloud-based AI: smartphone pengguna hanya mengirimkan perintah, di mana data dari smartphone dikirim ke server (di luar smartphone) untuk diproses AI yang lebih besar. Hasilnya kemudian dikirim lagi ke smartphone pengguna. Proses ini membutuhkan koneksi internet yang stabil. 

Tabel perbedaan Cloud AI vs On-device AI

Faktor Pembeda

Cloud-Based AI (Berbasis Awan)

On-Device AI (Berbasis Lokal)

Lokasi Pemrosesan

Bergantung penuh pada server jarak jauh (pusat data).

Berjalan langsung di dalam perangkat (HP atau laptop).

Koneksi Internet

Wajib online; membutuhkan koneksi internet yang stabil.

Bisa offline; tidak membutuhkan koneksi internet.

Kecepatan & Performa

Ada potensi delay (jeda) karena data harus dikirim bolak-balik ke server.

Lebih cepat dan responsif karena diproses instan di perangkat.

Biaya Infrastruktur

Lebih mahal karena biaya operasional komputasi di pusat data sangat tinggi.

Lebih hemat biaya dalam jangka panjang bagi perusahaan dan pengguna.

Privasi & Keamanan

Menimbulkan kekhawatiran privasi karena data pengguna harus dikirim ke server luar.

Lebih menjaga privasi karena data sensitif tetap berada di dalam perangkat.

Pada kenyataannya, fitur AI apa saja yang diproses di smartphone dan yang harus dikirim ke server untuk bisa diproses?

On-device AI:

  • Portrait mode/ night mode yang berfungsi mengaburkan latar belakang atau mencerahkan foto secara instan saat memotret. 
  • Object eraser yang berfungsi menghapus pantulan atau objek mengganggu di foto. 
  • Live translation atau transcript, fungsinya untuk menerjemahkan bahasa langsung ketika menelepon atau mengubah rekaman suara menjadi teks secara offline. 

Cloud-based AI:

  • Generative edit yang berfungsi memindahkan objek foto, mengubah ukuran benda, menggambar ulang latar belakang. 
  • Writing tools: mengubah gaya tulisan email, meminta ide teks ke Gemini atau ChatGPT.
  • Summarize meeting notes: yang fungsinya merangkum rekaman rapat berdurasi panjang dengan banyak pembicara. 

Saat privasi jadi perhatian

Salah satu risiko dari pemrosesan data AI di luar perangkat adalah kekhawatiran kebocoran data. Perusahaan teknologi pun memiliki berbagai cara untuk memastikan keamanan. 

Samsung misalnya, memastikan bahwa data yang dikirim diklaim tetap diamankan dan tidak dipakai sembarangan untuk pelatihan model AI tanpa izin pengguna. 

Perusahaan mengkombinasikan pemrosesan AI langsung di perangkat dengan perlindungan berbasis Samsung Knox dan Knox Vault untuk menjaga data sensitif pengguna tetap aman. 

Pada sisi lain, Apple yang memiliki fitur Apple Intelligence, memandang privasi sebagai inti dari layanan ini. Perusahaan menggunakan pendekatan hybrid antara on-device AI dan cloud AI. 

Menurut Apple, sebagian besar proses AI dijalankan langsung di iPhone, iPad, atau Mac. Untuk tugas yang lebih kompleks, Apple memakai sistem Private Cloud Compute. Sistem ini diklaim hanya memproses data relevan dan tidak menyimpan atau memberi akses data tersebut kepada Apple. 

Perusahaan juga membuka sistem keamanan cloud AI-nya untuk dapat diaudit peneliti independen sebagai bagian dari upaya membangun transparansi dan kepercayaan pengguna.  

Selain dua raksasa teknologi di atas, untuk mencegah kebocoran, perusahaan teknologi mengklaim menerapkan anonimitas dari data-data yang dikirim ke cloud. Jadi, server hanya tahu ada tugas memproses foto tanpa mengetahui siapa pemiliknya. 
 
Selain itu, ada juga klaim, ketika AI selesai memproses foto atau teks dan mengirimkan kembali ke perangkat pengguna, data di server langsung dihapus permanen. 

Namun demi keamanan, hindari memasukkan dokumen keamanan, data kantor yang rahasia, atau password ke pemrosesan AI berbasis cloud. 

Pemrosesan cloud-based AI jadi opsional

Kalau bicara smartphone AI, Samsung bisa jadi salah satu brand yang masif mengadopsi teknologi ini di perangkatnya melalui Galaxy AI. 

Menggunakan pendekatan hybrid (on-device dan cloud-based AI), contohnya fitur edit foto seperti kemampuan menghapus objek berjalan di lokal. Sementara, fitur manipulasi yang lebih berat seperti Generative Edit secara default akan dijalankan dengan bantuan Google Cloud. 

Samsung pun memberikan kontrol pada pengguna melalui menu Setting di smartphone Galaxy. Melalui menu Setting > Advanced Intelligence > pilih “Process Data Only on Device.”

Ketika opsi ini diaktifkan, smartphone akan mengunci semua fitur AI agar hanya berjalan di perangkat. Dengan begitu privasi akan aman 100 persen, karena tidak ada data yang dikirim ke server. 

Kendati begitu, imbasnya adalah beberapa fitur generatif AI yang berat tidak bisa dijalankan dengan maksimal. 

Tren industri beralih ke pemrosesan AI di perangkat

Kabar baiknya, sebagaimana dikutip dari Cnet, tren industri kini tengah bergerak menjauhi ketergantungan mutlak pada cloud. Pemrosesan lokal alias on-device AI pun diprediksi akan menjadi hal penting bagi smartphone AI di masa depan. 

Sejumlah analis menilai, ada tiga alasan kenapa perusahaan akan bergerak ke arah on-device AI:

  • Respon instan: nantinya on-device AI memungkinkan performa lebih cepat, karena smartphone tak perlu mengirim data bolak-balik ke server. Semua keputusan tentang pemprosesan AI pun bisa dilakukan dalam milidetik. 
  • Efisiensi: perusahaan teknologi berpikir, memproses AI di perangkat akan mengurangi ketergantuan pada komputasi cloud yang sangat mahal. 
  • Privasi: risiko kebocoran data bisa ditekan karena data tetap berada di smartphone. 

Pax Insight

Penggunaan AI di smartphone ternyata seperti pedang dua sisi. Memudahkan, tetapi juga punya celah privasi, jika pemrosesan dilakukan di server cloud.

Untuk itulah, pengguna peralu memeriksa pengaturan AI di smartphone. Jika memang ada, aktifkan opsi pemrosesan on-device, jika kamu sering mengolah data sensitif. Lalu, manfaatkan cloud AI jika benar-benar memerlukannya.