Sains
Rabu, 3 Desember 2025 18:11 WIB

Panel surya luar angkasa siap diproduksi di orbit tahun 2027

Ledakan bisnis penerbangan komersial ke luar angkasa memicu kebutuhan energi yang makin besar.
Sumber: Dcubed

Ledakan bisnis penerbangan komersial ke luar angkasa memicu kebutuhan energi yang makin besar. Hampir semua satelit dan wahana di orbit mengandalkan panel surya. Masalahnya, panel surya konvensional berat, makan tempat, dan butuh mekanisme lipat-buka yang rumit. Semua itu menambah biaya dan mengurangi ruang muatan roket.

Dilansir dari New Atlas, perusahaan Jerman Dcubed menawarkan pendekatan berbeda lewat sistem baru bernama ARAQYS. Alih-alih mengirim panel surya jadi dari Bumi lalu dibentangkan di orbit, ARAQYS justru membuat struktur panelnya langsung di luar angkasa. Targetnya ambisius: demonstrasi panel surya 2 kW buatan orbit pada 2027.

Kuncinya ada pada “selimut surya” ultratipis yang digulung rapat saat peluncuran. Begitu satelit tiba di orbit, selimut ini digelar seperti karpet panjang penangkap cahaya Matahari. Di saat yang sama, sistem pencetak 3D khusus mulai “mencetak” rangka kaku di belakang selimut tersebut. Resin yang dipakai langsung mengeras berkat radiasi UV keras di ruang angkasa, sehingga berubah jadi struktur kokoh tanpa perlu oven atau proses rumit lain.

Dcubed sudah menyiapkan serangkaian uji coba bertahap. Tahun ini, mereka menargetkan konstruksi boom sepanjang 60 sentimeter di orbit, disusul versi 1 meter, sebelum akhirnya demo sistem pembangkit 2 kW pada 2027. Setelah itu, produk komersial diharapkan siap dipakai berbagai misi, dari satelit komunikasi, konstelasi pemrosesan data, hingga “space tug” atau kapal tunda di orbit.

Keuntungan pendekatan ini besar. Tanpa mekanisme lipat-buka yang berat, roket bisa mengirim lebih banyak muatan ilmiah atau komersial, bukan hanya struktur penopang panel. Dcubed mengklaim biaya per kilowatt daya bisa turun beberapa kali lipat dibanding desain tradisional, karena yang dikirim hanya bahan mentah ringan dan sistem pencetaknya.

CEO Dcubed, Dr. Thomas Sinn, menyebut ARAQYS sebagai langkah nyata menuju pembangkitan listrik skala besar langsung di orbit, impian yang sudah ia kejar sejak terlibat studi tenaga surya berbasis ruang angkasa di NASA lebih dari 15 tahun lalu.

Pax Insight

Jika berhasil, ARAQYS bisa mengubah cara industri memandang “massa mati” pada satelit. Bukannya mengangkut struktur besar dari Bumi, masa depan bisa beralih ke konsep: kirim bahan ringan, bangun infrastrukturnya di orbit. Ini bukan hanya menghemat biaya peluncuran, tetapi juga membuka jalan ke proyek lebih gila, seperti pembangkit listrik surya raksasa di ruang angkasa yang suatu hari mungkin mengirim energi kembali ke Bumi.