Komisi Komunikasi Federal Amerika Serikat (FCC) resmi memberikan izin kepada Logos Space Services untuk meluncurkan lebih dari 4.000 satelit internet pita lebar (broadband) ke orbit Bumi rendah (LEO). Langkah ini menjadikan Logos sebagai penantang baru bagi dominasi Starlink milik Elon Musk.
Kenapa ini penting: Pasar internet satelit kini semakin ramai. Logos bukan pemain sembarangan; perusahaan ini dipimpin oleh Milo Medin, mantan manajer proyek NASA sekaligus mantan wakil presiden layanan nirkabel Google. Fokus utama mereka adalah segmen penting: pelanggan pemerintah dan perusahaan global yang membutuhkan koneksi stabil dan aman, sebagaimana dilansir dari Engadget.
Rincian rencana:
- Timeline: Logos menargetkan peluncuran satelit pertamanya pada tahun 2027.
- Aturan FCC: Sesuai mandat, perusahaan harus meluncurkan setidaknya separuh dari jumlah satelit yang disetujui dalam tujuh tahun ke depan. Jika tidak, lisensi mereka bisa dicabut sebelum mencapai target penuh pada 2035.
Tantangan besar:
Logos harus menghadapi dominasi Starlink yang sudah sangat kuat.
- 9.600 satelit: Jumlah satelit aktif Starlink saat ini, mendominasi sebagian besar dari total sekitar 14.000 satelit yang ada di orbit.
- 100.000 satelit: Estimasi Badan Antariksa Eropa (ESA) mengenai jumlah satelit yang akan memenuhi orbit pada tahun 2030. Angka ini menunjukkan betapa padatnya ruang angkasa dalam waktu dekat.
Pax insight
Sementara SpaceX terus mengajukan izin ekspansi besar-besaran, bahkan sampai 1 juta satelit, meski kemungkinan FCC hanya menyetujui ribuan, Logos hadir sebagai alternatif baru. Dengan dukungan tokoh veteran industri, mereka berusaha memecah monopoli internet luar angkasa yang selama ini dikuasai Starlink.
Langkah ini menandai persaingan baru dalam industri satelit global. Jika Logos berhasil memenuhi target peluncuran dan menjaga kualitas layanan, mereka bisa menjadi pemain penting yang memberi pilihan lebih luas bagi pemerintah maupun perusahaan. Di sisi lain, meningkatnya jumlah satelit juga menimbulkan tantangan baru, seperti risiko tabrakan di orbit dan kebutuhan regulasi yang lebih ketat.



