Industri fusi nuklir menghadapi tantangan besar dalam memperoleh bahan bakar tritium, isotop hidrogen langka dan mahal. Saat ini, cadangan tritium global hanya sekitar 25 kilogram, cukup untuk menyuplai energi satu juta rumah selama setahun, namun tidak cukup untuk menopang pengembangan reaktor fusi komersial skala besar. Harga tritium mencapai sekitar 33 juta dolar AS per kilogram, membuatnya menjadi hambatan utama menuju revolusi energi bersih.
Terence Tarnowsky, fisikawan dari Los Alamos National Laboratory (LANL), mengusulkan solusi inovatif: memanfaatkan limbah radioaktif dari reaktor fisi sebagai sumber tritium, sebagaimana dilansir dari New Atlas. Alih-alih membuang uranium dan plutonium bekas, limbah ini akan dikemas dalam garam lithium cair dan ditembak dengan partikel berenergi tinggi dari akselerator linier superconducting. Proses yang dikenal sebagai spallasi ini memecah inti atom, menghasilkan neutron yang kemudian bereaksi dengan lithium membentuk tritium.
Keuntungan utama metode ini adalah keamanannya. Sistem bersifat subkritis, artinya reaksi nuklir hanya terjadi saat akselerator diaktifkan, sehingga risiko kecelakaan dapat dikendalikan dengan lebih baik. Selain itu, proses ini dinilai sangat efisien: menurut simulasi Tarnowsky, sebuah fasilitas berkapasitas satu gigawatt dapat memproduksi tritium yang cukup untuk memenuhi kebutuhan 800.000 rumah dalam setahun, sepuluh kali lipat dari tritium yang dihasilkan oleh reaktor fusi sejenis.
Metode ini bukanlah ide baru, konsep spallasi telah dipelajari sejak beberapa dekade lalu, tetapi perkembangan teknologi akselerator dan pemrosesan limbah terkini membuatnya lebih praktis dan ekonomis. Jika berhasil diimplementasikan, pabrik tritium berbasis limbah fisi ini tidak hanya menyediakan bahan bakar fusi, tetapi juga membantu mengurangi volume limbah radioaktif yang perlu disimpan jangka panjang.
Tarnowsky mempresentasikan hasil penelitiannya pada pertemuan musim gugur American Chemical Society, menegaskan bahwa “transisi energi adalah investasi besar, dan setiap upaya untuk mempermudahnya harus dicoba.” Dengan memadukan pengelolaan limbah nuklir dan produksi bahan bakar fusi, pendekatan ini berpotensi mendorong percepatan adopsi fusi nuklir, sumber energi hampir tak terbatas dan ramah lingkungan.
Langkah selanjutnya adalah studi kelayakan skala untuk menguji desain dan biaya operasional. Jika fase ini sukses, fasilitas tritium dari limbah fisi bisa segera dibangun, membuka jalan bagi era baru energi bersih berdasarkan fusi nuklir.



