Menjelajahi kedalaman laut sering kali menjadi tantangan, walau air tampak jernih. ScubaPOIs hadir sebagai sistem navigasi eksperimental yang mengandalkan gelombang elektromagnetik dan head-up display (HUD) dalam masker selam untuk menjaga penyelam tetap pada jalur yang tepat, sebagaimana dilansir dari New Atlas. Dengan memanfaatkan teknologi canggih, solusi ini menawarkan panduan real-time tanpa mengandalkan sistem akustik yang bisa mengganggu ekosistem laut. ScubaPOIs diharapkan menjadi terobosan dalam keamanan dan efektivitas aktivitas bawah air.
Di permukaan, sekelompok buoy pintar dipasang pada lokasi penyelaman, masing-masing dilengkapi modul GNSS untuk mengunci posisi geografis. Data posisi ini diubah menjadi sinyal elektromagnetik berfrekuensi khusus yang dapat menembus air hingga kedalaman 100 meter dan jarak horizontal 150 meter. Buoy kemudian memancarkan sinyal tersebut secara bersamaan, menciptakan jaringan titik referensi yang stabil di bawah permukaan laut. Sistem ini memungkinkan penentuan koordinat penyelam secara lebih presisi daripada metode konvensional.
Unit penerima miniatur yang terpasang di masker penyelam menangkap sinyal elektromagnetik dan menghitung kekuatan serta arah sumbernya. Perangkat lunak onboard selanjutnya melakukan triangulasi posisi relatif terhadap buoy pintar. Hasil perhitungan tersebut diproyeksikan ke HUD dalam masker, memandu penyelam menuju Point Of Interest dengan panah arah dan jarak tempuh. Informasi ini tampil secara langsung tanpa menghalangi pandangan alami, sehingga pengalaman selam tetap nyaman dan intuitif.
Keunggulan ScubaPOIs dibanding sistem akustik terletak pada dampak lingkungan yang minimal. Uji coba selama empat bulan pada ikan trout pelangi emas menunjukkan tidak ada efek negatif terhadap kesehatan maupun perilaku mereka. Gelombang elektromagnetik terbukti lebih ramah dibandingkan tekanan suara yang dapat mengganggu satwa laut. Pendekatan ini menjadikan ScubaPOIs pilihan ideal bagi penyelam yang peduli terhadap kelestarian ekosistem bawah laut.
Meski menjanjikan, tantangan teknis masih membayangi pengembangan ScubaPOIs. Dr. Philipp Berglez dari TU Graz menjelaskan bahwa variasi salinitas, suhu, kedalaman, dan konduktivitas air sangat memengaruhi propagasi sinyal. Kalibrasi dinamis diperlukan untuk menyesuaikan parameter transmisi guna mempertahankan jangkauan dan ketahanan sinyal. Tim riset terus mengoptimalkan algoritma triangulasi dan metode kompresi data agar akurasi navigasi tetap tinggi di kondisi paling ekstrem sekalipun.
Potensi aplikasi ScubaPOIs sangat luas. Di sektor wisata bawah laut, sistem ini dapat mengurangi risiko penyelam tersesat dan memudahkan eksplorasi titik selam mutakhir. Dalam ekologi perairan, peneliti dapat memantau habitat dan perilaku satwa laut dengan akurasi tinggi. Bahkan di arkeologi bawah air, teknologi ini menyediakan panduan presisi untuk menelusuri situs sejarah tanpa merusak struktur sensitif.
Dikembangkan melalui proyek pemerintah Austria yang melibatkan tujuh lembaga riset, ScubaPOIs kini memasuki tahap optimalisasi jarak dan daya tahan sinyal. Jika berhasil diimplementasikan, teknologi ini akan merevolusi cara kita menjelajahi dan memahami dunia bawah laut. ScubaPOIs menjanjikan navigasi efisien, ramah lingkungan, dan aman, membuka era baru dalam petualangan selam dan studi ilmiah di lautan global.



