Temuan terbaru dari NASA mengungkapkan fakta mengejutkan tentang salah satu bulan milik planet Saturnus, yaitu Titan. Berdasarkan analisis ulang data dari wahana antariksa Cassini tahun 2012, Titan mungkin bukanlah "dunia air" seperti yang selama ini kita kira, melainkan lebih mirip dengan minuman es serut raksasa yang terdiri dari campuran es dan batu, sebagaimana dilansir dari New Atlas.
Selama bertahun-tahun, ilmuwan menduga bahwa di balik permukaan beku Titan terdapat samudra global yang cair sepenuhnya. Dugaan ini muncul karena cara Titan merespons gaya tarik gravitasi Saturnus. Awalnya, Titan terlihat berubah bentuk atau terdistorsi dengan sangat cepat mengikuti tarikan pasang surut Saturnus, seolah-olah isi perutnya adalah cairan yang mudah bergerak.
Namun, model perhitungan baru yang lebih canggih mengubah pandangan tersebut. Tim peneliti menemukan adanya jeda waktu sekitar 15 jam dalam respons Titan terhadap tarikan gravitasi Saturnus. Jeda ini menunjukkan bahwa bagian dalam bulan tersebut tidak sepenuhnya cair seperti air, tetapi juga tidak sepenuhnya padat seperti batu. Sifat fisik ini paling cocok dengan kondisi semi-padat atau bubur es.
Menurut model baru ini, "samudra" di dalam Titan sebenarnya adalah adonan bubur yang terdiri dari jenis es khusus yang tetap beku di bawah tekanan tinggi, bercampur dengan batuan. Menariknya, di dalam adonan bubur es ini terdapat kantong-kantong air hangat dengan suhu sekitar 20 derajat Celcius.
Temuan ini memberikan harapan baru bagi pencarian kehidupan asing. Kantong-kantong air hangat yang terperangkap di dalam bubur es tersebut bisa menjadi tempat yang ideal bagi mikroba purba untuk hidup, asalkan ada mineral yang cukup. Jadi, meskipun Titan mungkin bukan kolam renang raksasa, ia tetap menyimpan potensi misteri kehidupan di dalam lapisan es serutnya.
Pax Insight
Pergeseran teori dari "samudra cair" ke "bubur es" ini mengajarkan kita betapa sulitnya menebak isi perut benda langit hanya dari luarnya saja. Ini mengubah strategi misi masa depan ke Titan secara drastis; robot penjelajah (seperti Dragonfly yang akan datang) mungkin tidak akan menemukan laut terbuka untuk diselami, melainkan harus mengebor lapisan es tebal yang lengket untuk mencari kantong-kantong kehidupan yang tersembunyi. Titan kini bukan lagi sekadar calon Bumi kedua, melainkan laboratorium kimia alam semesta yang jauh lebih kompleks dan berlapis.



