Menelusuri jejak awal kehidupan di Bumi ibarat menyusun teka-teki yang sebagian besar kepingannya sudah hilang. Selama miliaran tahun, kerak bumi terus bergerak, memanas, dan menghancurkan bukti-bukti fisik seperti fosil atau sisa-sisa sel purba. Biasanya, jejak kimiawi kehidupan (biomolekul) hanya bisa bertahan sekitar 1,7 miliar tahun sebelum hancur lebur akibat panas dan tekanan ekstrem. Namun, sebuah terobosan baru mengubah batasan tersebut.
Dilansir dari New Atlas, tim peneliti dari Carnegie Science kini berhasil menemukan jejak kimiawi kehidupan dalam batuan yang berusia 3,3 miliar tahun. Rahasianya bukan pada mata manusia, melainkan pada perpaduan kimia canggih dan kecerdasan buatan (AI).
Para ilmuwan ini menyadari bahwa meskipun molekul kehidupan yang utuh sudah hancur, mereka meninggalkan "pecahan" atau puing-puing dengan pola tertentu. Benda mati atau kimiawi non-organik tidak menyusun molekul dengan cara yang sama seperti makhluk hidup. Untuk memecahkan kode ini, peneliti melatih sistem komputer pintar (AI) menggunakan 406 sampel berbeda. Sampel ini mencakup batuan purba, batu bara, fosil hewan, tanaman modern, hingga meteorit dari luar angkasa dan campuran kimia buatan laboratorium.
Hasilnya sangat mengejutkan. AI tersebut mampu membedakan antara materi yang berasal dari makhluk hidup dan benda mati dengan akurasi mencapai 98 persen. Bahkan, sistem ini bisa mengenali tanda-tanda fotosintesis dengan akurasi 93 persen. Alih-alih hanya memberikan jawaban "ya" atau "tidak", AI ini memberikan skor peluang. Jika skornya di atas 60 persen, maka sampel tersebut dianggap kuat memiliki tanda kehidupan.
Temuan terbesar dari studi ini adalah adanya bukti bahwa fotosintesis, kemampuan organisme mengubah cahaya menjadi energi dan oksigen, mungkin sudah dimulai 800 juta tahun lebih awal dari yang diperkirakan para ilmuwan sebelumnya. Hal ini didasarkan pada analisis batuan berusia 2,52 miliar tahun dari Afrika Selatan.
Robert Hazen, salah satu peneliti dalam studi ini, menyebut kemampuan baru ini sebagai cara membaca "hantu molekul". Meskipun fisik aslinya sudah musnah miliaran tahun lalu, "gema" kimianya masih tertinggal di dalam batu. Dengan bantuan komputer, batuan tertua di Bumi yang dulunya dianggap bisu, kini mulai bisa menceritakan kisah masa lalunya.
Pax Insight
Terobosan ini memiliki implikasi yang jauh lebih luas daripada sekadar sejarah Bumi; ini adalah kunci baru untuk pencarian kehidupan di luar angkasa. Jika kita bisa mendeteksi "hantu" biokimia di batuan Bumi yang sudah hancur lebur dan berusia miliaran tahun, metode yang sama bisa diterapkan pada sampel batuan di Mars. Robot penjelajah di masa depan tidak perlu lagi mencari fosil alien yang utuh dan sempurna; mereka cukup memindai pola pecahan molekul di bebatuan Mars untuk menjawab pertanyaan terbesar umat manusia: apakah kita sendirian di alam semesta?



