Konferensi Southeast Asia U.S. Agricultural Cooperators menegaskan bahwa data, teknologi, dan inovasi petani menjadi kunci memperkuat perdagangan pangan regional. Lebih dari 400 pemimpin pertanian dan pemangku kepentingan dari 20 negara berkumpul untuk membahas cara membangun rantai pasok yang tangguh, andal, dan berkelanjutan demi ketahanan pangan jangka panjang.
Selama tiga hari, forum menghadirkan pertemuan bisnis, pidato utama, diskusi panel, dan sesi ahli dengan fokus pada logistik, akses pasar, regulasi, dan keberlanjutan. Peserta mengeksplorasi peluang peningkatan ekspor kedelai, jagung, dan produk turunannya untuk mendukung sektor pangan dan pakan yang tumbuh cepat di Asia Tenggara.
Asia Tenggara mencatat permintaan kedelai dan bungkil kedelai yang tinggi, mencerminkan kebutuhan protein dan pakan yang meningkat seiring kelas menengah yang berkembang. Indonesia menonjol sebagai importir utama kedelai Amerika untuk kebutuhan pangan, didorong oleh budaya kuliner yang kuat seperti tempe dan tahu serta permintaan industri pakan yang terus bertambah.
Para pemimpin USSEC menekankan bahwa kolaborasi jangka panjang antara produsen Amerika dan mitra regional harus dibangun di atas transparansi, kepercayaan, dan inovasi. Data lapangan dan teknologi pertanian membantu petani meningkatkan efisiensi, menurunkan jejak karbon, dan menjaga kualitas pasokan. Kelebihan kedelai Amerika yang disebutkan termasuk jejak karbon rendah serta komitmen petani untuk kualitas dan pasokan berkelanjutan.
Konferensi ini juga menyoroti prioritas pasar Asia Tenggara: keamanan pangan, keterlacakan produk, dan konsistensi mutu. Pertemuan lintas sektor, dari produsen hingga pembuat kebijakan, ditujukan untuk membuka nilai tambah bersama dan memastikan pasokan yang dapat diandalkan.
Dengan memperkuat kemitraan, memanfaatkan teknologi, dan menjaga dialog antar-pemangku kepentingan, AS dan negara-negara Asia Tenggara bermaksud menjadikan perdagangan kedelai sebagai pilar ketahanan pangan dan pertumbuhan ekonomi kawasan.



