Oracle menghadapi tekanan pasar yang signifikan ketika investor meragukan strategi investasi AI dan komitmen utangnya yang masif. Dilansir dari Ars Technica, saham perusahaan telah jatuh lebih dari 33 persen dari puncaknya pada September, menciptakan kekhawatiran di seluruh sektor teknologi.
Pergolakan dimulai ketika pihak pasar menyadari biaya sebenarnya dari membangun infrastruktur untuk mendukung operasi AI dalam skala besar. Komitmen Oracle sebesar USD 300 miliar (Rp 4,97 triliun) untuk OpenAI menjadi fokus utama kekhawatiran investor. Dengan tingkat bunga yang tetap tinggi dan berkemungkinan tetap seperti itu, beban utang ini menjadi semakin memberat bagi perusahaan.
Masalah keuangan Oracle semakin buruk ketika arus kas bebas perusahaan berubah negatif hingga mendekati USD 6 miliar (Rp 99,3 triliun). Ini merupakan perubahan drastis dari posisi finansial sebelumnya yang lebih sehat. Analis bahkan tidak mengharapkan arus kas bebas Oracle akan kembali ke tingkat yang pernah dinikmatinya pada masa mendatang.
Kekhawatiran tidak hanya berasal dari investor ekuitas biasa. Pasar kredit juga menjadi waspada terhadap risiko Oracle. Credit default swap (CDS) perusahaan melebar menjadi sekitar 80 basis poin, tingkat terparah sejak akhir 2022 dan awal 2023, saat Federal Reserve agresif menaikkan suku bunga.
Laporan terbaru mengungkapkan bahwa margin keuntungan kotor bisnis cloud AI Oracle sangat tipis. Dengan menyewakan server bertenaga chip Nvidia senilai USD 900 juta (Rp 14,9 triliun) dalam tiga bulan terakhir, perusahaan hanya menghasilkan keuntungan USD 125 juta (Rp 2 triliun), atau margin 14 persen. Angka ini jauh lebih rendah dari banyak bisnis ritel non-teknologi biasa.
Penjualan dari bisnis server cloud AI Oracle memang hampir tiga kali lipat dalam setahun terakhir, namun margin keuntungan kotor berfluktuasi antara kurang dari 10 persen hingga sedikit di atas 20 persen, dengan rata-rata sekitar 16 persen.
Penurunan saham Oracle ini mencerminkan kenyataan yang lebih luas di Wall Street: euforia AI awal baru saja menghadapi pemeriksaan realitas tentang biaya sebenarnya. Investor sekarang mulai mempertanyakan apakah pengeluaran besar-besaran ini akan benar-benar menghasilkan laba yang menguntungkan dalam waktu dekat.



