Hibura
Kamis, 11 Desember 2025 14:09 WIB

Indonesia perlu percepat investasi digital

Indonesia didorong untuk mempercepat investasi digital terarah agar dapat masuk ke jajaran negara digital terdepan di Asia Pasifik.

Indonesia didorong untuk mempercepat investasi digital terarah agar dapat masuk ke jajaran negara digital terdepan di Asia Pasifik. Seruan ini disampaikan GSMA dalam Digital Nation Summit Jakarta 2025, dengan menekankan pentingnya pembangunan spektrum 5G, fibre backhaul, serta pusat data siap AI. Laporan GSMA Digital Nations 2025 dan ASEAN Consumer Scam 2025 menyoroti peluang sekaligus tantangan yang dihadapi Indonesia dalam transformasi digital.

Survei GSMA Intelligence terhadap lebih dari 580 perusahaan ASEAN menunjukkan bahwa perusahaan di Indonesia berencana mengalokasikan rata-rata 10 persen pendapatan untuk transformasi digital antara 2025 hingga 2030. Angka ini melampaui rata-rata ASEAN maupun global.

Dua pertiga responden menempatkan kecerdasan buatan sebagai prioritas utama, sementara lebih dari separuh menilai IoT berbasis 5G sebagai faktor penting pertumbuhan. Gelombang investasi 5G berikutnya diperkirakan dapat menambah US$41 miliar terhadap PDB nasional hingga 2030.

Meski peluang besar terbuka, Indonesia masih menghadapi sejumlah hambatan. Keterlambatan alokasi spektrum mid-band, cakupan pedesaan yang belum merata, serta kapasitas pusat data yang terbatas berisiko memperlambat momentum. Laporan juga menyoroti tingginya angka penipuan digital.

Sebanyak 45 persen orang dewasa Indonesia pernah menjadi korban penipuan, dengan 68 persen di antaranya mengalami kerugian finansial. Mayoritas serangan dilakukan melalui pesan OTT dan panggilan suara. Namun, 81 persen masyarakat mendukung operator untuk berbagi sinyal jaringan minimal pada momen berisiko tinggi, membuka peluang penerapan API anti-fraud GSMA Open Gateway.

GSMA menekankan beberapa langkah strategis yang perlu dilakukan Indonesia. Pertama, menetapkan target terukur untuk cakupan 4G/5G di pedesaan dan memperkuat backhaul fibre. Kedua, memanfaatkan skema pembiayaan berbasis keberlanjutan untuk mempercepat pembangunan pusat data. Ketiga, mengonfirmasi linimasa multi-band spektrum dengan mekanisme penetapan yang mendorong investasi jangka panjang. Keempat, memperluas penggunaan API anti-fraud di sektor finansial dan digital. Terakhir, menyelaraskan aturan aliran data, keamanan siber, dan perdagangan digital untuk menurunkan biaya kepatuhan sekaligus memperluas pasar bagi inovator lokal.

Pax Insight

Dengan populasi besar, energi kewirausahaan, dan generasi muda yang terhubung, Indonesia memiliki peluang kuat untuk memimpin transformasi digital di Asia Pasifik. Namun, percepatan investasi terarah pada spektrum, infrastruktur, dan pusat data siap AI, serta penguatan perlindungan konsumen terhadap penipuan, menjadi kunci agar Indonesia dapat melangkah lebih percaya diri menuju status negara digital terdepan.