Kebiasaan Gen Z dalam mencari informasi kini mulai berubah. Kalau dulu orang langsung buka Google buat cari jawaban, sekarang banyak anak muda justru “Googling” lewat TikTok. Mereka mencari review, tips, atau rekomendasi dengan mengetik kata kunci di kolom pencarian aplikasi video pendek.
Gen Z lebih suka format visual yang cepat dicerna, yang menyebabkan fenomena ini terjadi. Mereka dapat mendapatkan jawaban langsung melalui video berdurasi 15-60 detik daripada membaca artikel yang panjang. Cara ini dianggap lebih praktis dan terasa lebih jujur karena banyak konten dibuat oleh pengguna biasa, bukan iklan.
Topik yang paling sering dicari di TikTok pun beragam, mulai dari tempat makan, skincare, gadget, sampai info karier. Bahkan, banyak pengguna yang lebih percaya ulasan dari kreator TikTok dibanding situs berita atau forum. Gaya penyampaiannya yang santai dan real bikin konten terasa lebih relatable.
Beberapa kreator konten juga mulai menyesuaikan diri dengan tren ini. Mereka sengaja bikin konten informatif dengan format “searchable”, misalnya “5 tempat makan hidden gen di Jakarta” atau “cara aman belanja online”. Hasilnya, video-video semacam ini sering nongol di hasil pencarian TikTok.
Menariknya, cara riset informasi berubah karena tren ini juga. TikTok kini bukan cuma tempat hiburan, tapi berevolusi menjadi mesin pencari sosial di mana opini publik terbentuk lewat algoritma dan interaksi antar pengguna.
Namun, perubahan ini juga punya tantangan. Informasi yang beredar di TikTok belum tentu akurat atau terverifikasi. Banyak konten viral yang ternyata menyesatkan, apalagi kalau sumbernya nggak jelas. Karena itu, penting buat pengguna tetap kritis dan ngecek ulang fakta dari sumber terpercaya.
Pax Insight
Fenomena TikTok jadi mesin pencari baru mencerminkan perubahan cara Gen Z mengonsumsi informasi di Indonesia. Mereka lebih percaya pengalaman nyata dibanding teks formal, dan lebih suka belajar lewat video yang cepat serta interaktif.
Bagi kreator lokal, ini kesempatan besar buat bikin konten edukatif yang relevan dan kredibel. Tapi di sisi lain, tantangan literasi digital juga makin besar. Anak muda perlu diajarin cara memilah informasi di media sosial biar nggak gampang termakan hoaks yang dikemas menarik.



