Amerika Serikat dan Tiongkok berhasil mencapai kesepakatan kerangka kerja untuk mengalihkan kepemilikan TikTok ke kontrol AS, seperti diumumkan Menteri Keuangan Scott Bessent pada 15 September 2025 di Madrid, sebagaimana dilansir dari Engadget. Presiden Trump dan Presiden Xi Jinping dijadwalkan melakukan pembicaraan telepon Jumat, 20 September untuk menyelesaikan detail akhir kesepakatan yang telah ditunggu-tunggu ini.
Kesepakatan ini muncul menjelang deadline 17 September 2025 yang mewajibkan ByteDance menjual aset AS TikTok atau menghadapi larangan total di Amerika Serikat. Trump telah memperpanjang tenggat waktu sebanyak tiga kali sejak Januari 2025, memberikan ruang negosiasi yang lebih luas setelah Congress mengesahkan Protecting Americans from Foreign Adversary Controlled Applications Act (PAFACA) pada 2024.
"Kami tidak akan membahas syarat komersial kesepakatan. Ini antara dua pihak swasta, tetapi syarat komersial telah disepakati," kata Bessent. Jamieson Greer, Perwakilan Dagang AS, menekankan bahwa mereka "tidak akan memberikan perpanjangan berulang" kecuali untuk menyelesaikan kesepakatan final.
Aspek menarik dari kesepakatan ini adalah jaminan AS bahwa "karakteristik Tiongkok" tertentu dari aplikasi akan tetap dipertahankan. Bessent menjelaskan bahwa Tiongkok menganggap hal ini sebagai "soft power," sementara AS lebih fokus pada keamanan nasional daripada karakteristik budaya aplikasi.
"Mereka tertarik pada karakteristik Tiongkok dari aplikasi yang mereka anggap sebagai soft power. Kami tidak peduli dengan karakteristik Tiongkok. Kami peduli dengan keamanan nasional," kata Bessent. Detail spesifik tentang apa yang dimaksud dengan "karakteristik Tiongkok" belum diungkap.
Bessent mengungkap bahwa delegasi Tiongkok datang dengan "tuntutan yang sangat agresif" terkait pengurangan tarif dan pembatasan teknologi sebagai bagian dari kesepakatan TikTok. AS tegas menolak mengompromikan keamanan nasional demi platform media sosial, dengan Bessent menyatakan "kami tidak bersedia mengorbankan keamanan nasional untuk aplikasi media sosial".
Li Chenggang, negosiator perdagangan utama Tiongkok, menegaskan bahwa Tiongkok tidak akan menyetujui kesepakatan yang merugikan prinsip atau kepentingan perusahaan Tiongkok. Semua kesepakatan akan ditinjau oleh kepemimpinan Tiongkok sebelum finalisasi.



