Gawai
Senin, 30 Maret 2026 11:09 WIB

Austria bakal larang anak di bawah 14 tahun akses medsos

Austria siap mengikuti jejak sejumlah negara lain yang akan melarang penggunaan akses media sosial oleh anak.

Austria dilaporkan akan masuk dalam daftar negara yang melarang penggunaan media sosial bagi anak-anak. Dilaporkan, pemerintah negara tersebut saat ini sedang menyusun regulasi yang akan mengatur soal pelarangan tersebut. 

Kenapa ini penting? 

Langkah pemerintah Austria ini memperkuat tren global sejumlah negara yang mengatur pelarangan media sosial untuk anak-anak. Khusus di Austria sendiri, batas usia yang diajukan untuk bisa mengakses media sosial adalah 14 tahun. 

Rencananya, draf hukum tentang regulasi ini akan selesai pada akhir Juni 2026. Menurut Wakil Kanselier Andreas Babler, kebijakan ini juga mencakup peningkatan literasi media dan aturan main yang lebih ketat bagi pemilik platform. 

Langkah Austria atur pelarangan media sosial untuk anak-anak

Dasar: Menurut Wakil Kanselir Andreas Babler, dunia digital tidak boleh menjadi wilayah tanpa hukum. Karenanya, negara memiliki kewajiban moral untuk melakukan intervensi sebelum merusak kesehatan mental generasi muda. 

Reformasi pendidikan: Larangan ini sepaket dengan reformasi sekolah menengah yang menambah jam pelajaran kecerdasan buatan dan demokrasi, tapi memangkas pelajaran bahasa Latin. 

Kritik: Oposisi pemerintah Austria menyebut kebijakan ini sebagai sensor yang melanggar hak informasi anak muda

Mekanisme: Menggunakan sistem verifikasi usia tingka Uni Eropa jika memang sudah siap atau opsi mengembangkan sistem verifikasi nasional secara mandiri

Pax insight

Langkah Austria ini mengikuti jejak sejumlah negara lain, seperti Australia, termasuk Indonesia yang sudah menerapkannya lewat PP Tunas. Saat ini, tinggal menunggu waktu apakah detail teknis verifikasi yang diatur bisa rampung sesuai jadwal. 

Selain itu, langkah ini menunjukkan kalau pemerintah di sejumlah negera telah melihat media sosial bukan sekadar platform hiburan semata, tapi bisa menjadi komoditas berbahaya bagi anak-anak jika tidak diregulasi.