NASA menunda pelaksanaan misi luar angkasa di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) yang semula dijadwalkan pada Kamis. Dilansir dari Engadget, agensi tersebut menyatakan bahwa mereka sedang memantau adanya kekhawatiran medis terhadap salah satu anggota awak yang muncul pada Rabu sore di kompleks orbital. Pada Kamis, NASA menambahkan bahwa opsi untuk mengakhiri misi Crew-11 lebih awal sedang dipertimbangkan.
Menurut NASA, anggota awak yang terdampak dalam kondisi stabil. Laporan dari Space News menyebutkan bahwa Kimiya Yui dari Agensi Eksplorasi Aerospace Jepang (JAXA) terdengar meminta konferensi medis pribadi dengan ahli bedah penerbangan melalui saluran komunikasi terbuka pada Rabu. Namun, permintaan semacam ini merupakan hal rutin di ISS sehingga tidak dapat dipastikan terkait langsung dengan insiden tersebut.
“Masalah ini melibatkan satu anggota awak yang stabil,” tulis NASA. “Melaksanakan misi dengan aman adalah prioritas tertinggi kami, dan kami secara aktif mengevaluasi semua opsi, termasuk kemungkinan pengakhiran lebih awal dari misi Crew-11.”
Crew-11 dijadwalkan tetap berada di ISS hingga paruh kedua Februari. Sementara itu, misi pengganti Crew-12 baru akan diluncurkan paling cepat pada 15 Februari. Jeda waktu ini memberikan ruang untuk menangani situasi medis yang muncul.
Astronot NASA Mike Fincke dan Zena Cardman sebelumnya direncanakan melakukan jalan luar angkasa selama enam setengah jam pada Kamis. Misi tersebut bertujuan memasang kit dan kabel sebagai persiapan untuk panel surya baru yang akan tiba pada misi mendatang. Jalan luar angkasa sendiri merupakan komponen vital dalam operasi ISS.
NASA menegaskan akan memberikan update dalam 24 jam. Keputusan menunda operasi ini menunjukkan komitmen penuh terhadap keselamatan awak. Jalan luar angkasa dikenal sebagai salah satu aktivitas paling berisiko dalam program antariksa, sehingga setiap keputusan harus mempertimbangkan keselamatan anggota awak secara maksimal.
Pax Insight
Langkah NASA menunda jalan luar angkasa demi keselamatan satu anggota awak menegaskan prioritas agensi terhadap kesejahteraan astronot dibandingkan jadwal operasional. Hal ini mencerminkan budaya keselamatan yang matang dalam program antariksa, yang menyadari bahwa risiko di lingkungan ekstrem seperti luar angkasa membutuhkan pendekatan konservatif dan evaluasi medis yang menyeluruh.



