Sains
Senin, 22 September 2025 17:06 WIB

Lapisan ozon terus pulih berkat kerjasama global

Kabar baik dari langit: lapisan ozon bumi terus pulih dan lubang ozon pada 2024 tercatat lebih kecil dibanding periode 2020-2023.
Ilustrasi

Kabar baik dari langit: lapisan ozon bumi terus pulih dan lubang ozon pada 2024 tercatat lebih kecil dibanding periode 2020-2023. Menurut World Meteorological Organization (WMO), pemulihan ini adalah hasil kerja sama internasional selama puluhan tahun dalam membatasi emisi gas berbahaya melalui Protokol Montreal dan Konvensi Wina.

Pada 16 September 2025, WMO merilis buletin memperingati 40 tahun Konvensi Wina yang menjadi kerangka kerja global untuk mempelajari lapisan ozon. Konvensi ini dilanjutkan dengan Protokol Montreal 1987 yang berhasil menghapuskan 99% produksi dan konsumsi zat perusak ozon seperti chlorofluorocarbons (CFC) yang digunakan dalam kulkas, AC, dan semprotan aerosol.

"Empat puluh tahun lalu, bangsa-bangsa bersatu mengambil langkah pertama melindungi lapisan ozon, dipandu sains, bersatu dalam aksi," kata Sekretaris Jenderal PBB António Guterres. "Konvensi Wina dan Protokol Montreal menjadi pencapaian multilateral bersejarah. Hari ini, lapisan ozon sedang sembuh".

Lubang ozon Antartika 2024 menunjukkan tanda pemulihan awal dengan defisit massa ozon maksimum 46,1 juta ton pada 29 September, berada di bawah rata-rata 1990-2020. Onset deplesi dimulai lebih lambat dari biasanya dengan pemulihan yang relatif cepat setelah mencapai puncak defisit, sebagaimana dilansir dari New Atlas.

"Onset yang tertunda ini telah diidentifikasi sebagai indikasi kuat pemulihan awal lubang ozon Antartika," kata bulletin WMO. Luas maksimum lubang ozon 2024 mencapai 21,9 juta km² di akhir September, menjadikannya lubang terkecil sejak 2020.

Berdasarkan proyeksi WMO, lapisan ozon diperkirakan pulih ke level 1980-an pada 2040 untuk sebagian besar dunia, 2045 untuk Kutun Utara, dan 2066 untuk Kutub Selatan. Faktor meteorologi seperti kekuatan polar vortex dan temperatur stratosfer masih mempengaruhi variasi tahunan, namun tren jangka panjang menunjukkan kemajuan konsisten.

Tanpa Protokol Montreal, deplesi ozon akan terus berlanjut dan menyebabkan jutaan kasus tambahan katarak dan kanker kulit, kerusakan rantai makanan akuatik, dan penurunan produksi pertanian akibat radiasi UV berlebihan.

Amandemen Kigali 2016 memperluas perlindungan dengan menargetkan hydrofluorocarbons (HFC) yang menggantikan CFC. Meski tidak merusak ozon, HFC adalah gas rumah kaca kuat dengan potensi pemanasan hingga 14.800 kali CO₂. Amandemen bertujuan mengurangi produksi HFC 80% dalam 30 tahun dan menghindari 0,5°C pemanasan global hingga akhir abad.

Sejauh ini 164 negara telah meratifikasi Amandemen Kigali, menunjukkan komitmen global berkelanjutan dalam perlindungan atmosfer.