Hibura
Rabu, 8 Juli 2026 08:15 WIB

Review Enola Holmes 3: Menghibur meski tak sempurna seluruhnya

Enola Holmes 3 tayang di Netflix, kisahkan tentang detektif perempuan Inggris yang beranjak dewasa dan memutuskan menikah, siapa sangka sang kakak justru diculik di hari pernikahannya.
Millie Bobby Brown sebagai Enola Holmes di sekuel Enola Holmes 3 di Netflix (Foto: Netflix).

Film Enola Holmes 3 di Netflix akhirnya rilis 1 Juli 2026, empat tahun setelah kehadiran sekuel keduanya. Sinopsis Enola Holmes 3, berlatar di Malta sebagai salah satu jajahan Inggris Raya pada tahun 1890-an, dikisahkan Enola Holmes (Millie Bobby Brown) yang mulai dewasa akan menikah usai menerima lamaran kekasihnya, Lord Tewkesburry (Louis Partridge). 

Malta dipilih sebagai tempat pernikahan Enola dan Lord Tewkesburry lantaran histori mendiang ayah Tewkesburry di sana (dikisahkan belakangan di film ini).

Mengambil negara kepulauan Malta sebagai lokasi syuting, latar ini terasa lebih vibrant dibanding dengan dengan dua edisi Enola Holmes sebelumnya berkisah di kota London yang nuansanya lebih serius. 

Tokoh-tokoh lain dari Enola Holmes 1 dan 2 juga turut menyemarakkan sekuel ketiga saat Enola Holmes beranjak dewasa. Mulai dari sang ibu Eudoria Holmes yang diperankan Helena Bonham Carter, Sherlock Holmes oleh Henry Cavill, hingga antagonis Moriarty yang diperankan Sharon Duncan-Brewster. 

Film dimulai dengan adegan Tewkesburry beserta keluarga besar menunggu sang pengantin wanita. Namun yang ditunggu-tunggu ternyata memiliki kegalauan tersendiri: lanjut menikah dan menyandang gelar bangsawan tapi kehilangan nama Holmes atau tetap menjadi detektif terkenal. 

Setelah memutuskan untuk menghadiri pernikahannya, Enola dihentikan oleh Dr Watson (Himesh Patel) di perjalanan. Dr Watson mengabarkan kakak Enola, Sherlock, menghilang diculik. Bagian ini terasa seperti plot yang dibuat-buat mengingat Sherlock adalah detektif paling terkenal di masanya sekaligus punya kemampuan bela diri. 

Keduanya pun langsung buru-buru kembali ke kamar tempat Sherlock menginap untuk berburu petunjuk. Di sini, insting Enola sebagai detektif diuji. Apalagi, ibu Tewkesburry juga diculik. Enola menyimpulkan pelaku penculikan keduanya adalah orang yang sama. Tapi apa motifnya?

Kelebihan: Teknik breaking the fourth wall yang menghibur

Sutradara Philip Barantini pun mengajak penonton terlibat perburuan petunjuk yang ditinggalkan Sherlock, lewat berbagai interaksi dan obrolan langsung Enola dengan penonton melalui teknik bercerita breaking the fourth wall. 

Teknik ini bisa dibilang cerdas dan membuat penceritaan cukup fresh, tidak membosankan tetapi juga tidak terlalu berat, sekaligus lebih mudah dipahami. 

Di tengah perburuan yang mulai seru, Enola justru bertemu dengan musuh utama Sherlock, Moriarty yang rupanya bekerja sama dengan segelintir militer Kerajaan Inggris demi niatnya tersembunyinya, termasuk menculik Sherlock dan Lady Tewkesburry. 

Kekurangan: Penceritaan tentang kolonialisme yang nanggung

Tanpa Enola tahu, Moriarty merancang agar segalanya terjadi di Malta karena satu tujuan: perburuan harta karun yang direbut militer Kerajaan Inggris dari orang-orang Afghanistan dalam pertempuran di Khost. 

Harta jarahan tersebut diam-diam diangkut dari Afghanistan menuju Malta menggunakan kapal bertuliskan The Wrath of Adeline 1863, dengan rencana untuk diakui sebagai upeti dari Malta untuk Kerajaan Inggris.

Kisah pertempuran fiksi yang terinspirasi dari Perang Anglo-Afghan ini seolah ingin memberi gambaran kepada penonton tentang rumit dan rakusnya gurita kolonialisme Inggris. 

Sayangnya, potensi kritik sejarah yang kuat ini terasa mentah. Sutradara Barantini sebenarnya punya kesempatan emas untuk mengeksplorasi lebih jauh bagaimana Malta dijadikan titik transit penjarahan, termasuk memperlihatkan bagaimana militer Kerajaan Inggris memandang dan memperlakukan masyarakat asli Malta sebagai bawahan mereka. 

Namun, penceritaannya yang singkat dan terburu-buru membuat narasi kolonialisme ini menyusut. Alih-alih menjadi kritik sosial yang mendalam, urusan penjarahan di era kolonialisme ini akhirnya hanya berfungsi sebagai pelengkap kisah (atau sekadar plot device) demi memuluskan misi Enola Holmes menyelamatkan nyawa Sherlock dan calon ibu mertuanya.

Kisah penculikan Lady Tewkesburry juga sebenarnya tak begitu berdampak ke upaya perburuan harta karun Khost. Harusnya cukup dengan menculik Sherlock, Moriarty bisa memberi “motivasi” ke Enola untuk membantunya menemukan harta jarahan tersebut. 

Performa pemain: Karisma Millie Bobby Brown dan singgungan standar ganda

Terlepas itu, upaya Millie Bobby Brown menghidupkan karakter Enola di sekuel ini cukup sukses. Karakter Enola sebagai perempuan mandiri yang keluar dari pakem perempuan Inggris lainnya: jago berkelahi, cerdas, namun emosional dibawakan Brown dengan apik. 

Sementara dengan screentime-nya cukup pendek, Henry Cavill mampu memerankan Sherlock dengan baik. Cavill memperlihatkan sisi logis, egois dan penuh sarkas dari Sherlock, namun di sisi lain detektif narsis ini juga punya sisi lembut saat berhadapan dengan adiknya. 

Soal akting, Helena Bonham Carter yang memerankan Eudoria Holmes tak perlu diragukan. Begitu pula dengan Sharon Duncan-Brewster yang membawa tokoh Moriarty next level: cerdas dan penuh muslihat, tapi juga mengerikan.

Salah satu hal yang mungkin luput dari perhatian adalah bagaimana Moriarty justru mengungkap bagaimana Enola dan Sherlock ternyata memiliki argumen standar-ganda. 

Menurut Moriarty, ia dan Eudoria sama-sama merupakan kriminal: Ibu Enola merupakan pelaku pengeboman demi hak-hak perempuan dan Moriarty memeras kaum elit. Namun tindakan Eudoria dianggap sebagai “kebenaran” oleh anak-anaknya. Sementara, tindakan Moriarty dianggap kriminal dan kejam serta layak dihukum penjara.

Verdict dan skor akhir Enola Holmes 3

Enola Holmes 3 adalah paket hiburan yang menyenangkan, penuh warna, dan ramah penonton, tetapi sayangnya kurang memiliki kedalaman narasi. 

Pindah latar ke Malta dan akting solid para pemainnya adalah penyelamat utama film ini. Meski plot penculikannya terasa agak dipaksakan -rasanya seperti mengorbankan logika karakter Sherlock demi membuat Enola bersinar- dan kritik sejarahnya yang nanggung, film ini tetap sukses mempertahankan formula fun yang menjadi ciri khas waralaba Enola Holmes. 

Pada akhirnya, Enola Holmes 3 di Netflix layak ditonton untuk mengisi waktu luang, walau bukan yang terbaik dari triloginya. 

Skor: 6.5/10