Sains
Selasa, 14 Juli 2026 16:03 WIB

Matahari buatan Tiongkok lulus uji teknis, siap hasilkan listrik di 2030

Dua magnet superkonduktor untuk proyek Matahari buatan Tiongkok berhasil lolos uji teknis dan uji parameter.
Proyek Matahari buatan dari Tiongkok

Matahari buatan Tiongkok dilaporkan berhasil melewati uji teknis dan uji parameter, menandai lokalisasi keseluruhan inti proyek ini. Sebagai informasi, Matahari buatan ini merupakan fusi nuklir eksperimental yang memanfaatkan dua magnet superkonduktor. 

Dengan keberhasilan ini, pembangunan fusi nuklir eksperimental itu diprediksi akan rampung pada akhir 2027. Sementara demonstrasi untu menunjukkan hasil listrik dari hasil fusi nuklir ditargetkan akal dilakukan pada 2030. 

Keberhasilan uji teknis fusi nuklir eksperimental ini telah dikonfirmasi oleh tim riset Institute of Plasma Physics dari Chinese Academy of Sciences. 

Kenapa ini penting? 

Fusi nuklir digadang-gadang akan menjadi sumber energi masa depan. Kalau berhasil dikomersialisasi, fusi nuklir menjanjikan energi yang hampir tak terbatas, bersih, dan aman. 

Berbeda dari fisi nuklir, yang dipakai PLTN saat ini, fusi nuklir tidak menghasilkan limbah radioaktif jangka panjang dan tidak berisiko mengalami meltdown. 

Dalam hal ini, Tiongkok menjadi negara paling agresif yang mengembangkan teknologi tersebut, dan pencapaian dengan pemakaian magnet superkonduktor ini menghilangkan salah satu hambatan teknis terbesar menuju fusi nuklir yang lebih praktis. 

Apa itu Matahari buatan Tiongkok? 

Proyek ini secara resmi bernama EAST (Experimental Advanced Superconducting Tokamak). Proyek ini dijuluki matahari buatan karena berusaha mereplikasi proses yang terjadi di inti matahari. Cara kerjanya terbilang sederhana: 

  • Hidrogen dipanaskan hingga ratusan juta derajat celcius.
  • Kemudian, gas itu berubah menjadi plasma, materi super panas yang tidak bisa ditampung wadah biasa.
  • Lalu, magnet superkonduktor itu menggantung plasma di tengah ruang hampar agar tidak menyentuh dinding.
  • Selanjutnya, proses fusi terjadi dan bisa melepaskan energi luar biasa besar.
  • Energi panas itu lalu ditangkap dan dikonversi menjadi listrik. 

Untuk itu, penggunaan magnet superkonduktor yang kuat dan stabil diperlukan, untuk memungkinkan seluruh proses fusi terjadi. Karenanya, keberhasilan menguji kemampuan magnet tersebut jadi fondasi dalam pengembangan proyek ini selanjutnya. 

Meski berhasil mencatat capaian yang signifikan, Wakil Direktur ASIPP Qin Jinggang, mengingatkan masih ada tantangan lain yang perlu dihadapi yakni memastikan magnet stabil dalam kondisi ekstrem serta proses memasang magnet ke perangkat fusi. 

Pax insight

Keberhasilan uji magnet superkonduktor milik Tiongkok ini layak jadi perhatian, karena ini menunjukkan seberapa serius negara tersebut mengembangkan teknologi yang sempat dianggap mustahil. 

Dengan keberhasilan ini, Tiongkok setidaknya mampu membuat fondasi untuk pengembangan proyek matahari buatan ini selanjutnya. Meski harus diakui, perjalanan dalam pengembangan ini masih panjang. 

Untuk itu, ke depannya, Tiongkok harus mampu mengatasi tantangan lain agar proyek ini benar-benar bisa rampung pada akhir 2027, dan siap untuk didemonstrasikan sekitar 2030.