Pasar smartphone global diprediksi akan mengalami perubahan besar, akibat krisis memori yang terus menganggu rantai pasok dan mendorong biaya komponen naik tajam.
Berdasarkan riset terbaru Omdia, pengiriman smartphone disebut akan turun 4 persen Year-on-Year (YoY) di Q2 2026. Disebutkan pula, penurunan paling tajam akan menghantam segmen pasar di bawah USD 400 atau sekitar Rp 7,2 juta.
Apa yang terjadi?
Krisis harga RAM bukan sekadar masalah industri smartphone, tapi dampaknya langsung terasa di konsumen. Hal itu ditunjukkan dengan harga sejumlah smartphone yang naik sejak awal tahun ini.
Bahkan, menurut proyeksi Omdia, harga memori baru akan mulai turun paling cepat paruh kedua 2027. Artinya, situasi ini akan berlangsung setidaknya setahun lagi, dan harga pun tidak akan bisa kembali level sebelum 2025.
"Penurunan volume paling tajam menghantam segmen mass market di bawah USD 400 (sekitar Rp 7,2 juta), di mana pasokan paling terbatas, margin keuntungan paling tipis, dan sensitivtas harga paling tinggi," kata Principal Analyst Omdia Runar Bjorhovde.
Akar masalah
Inti dari seluruh krisis ini adalah biaya komponen, seperti RAM dan storage yang melonjak drastis dan mengubah perhitungan komponen smartphone secara fundamental.
Dengan kenaikan yang terjadi saat ini, biaya untuk komponen RAM dan storage menyumbang lebih dari 60 persen keseluruhan nilai produksi untuk perangkat budget.
Masalah itu tidak hanya di memori saja, tapi bottleneck baru di foundry semikonduktor juga menambah tekanan biaya dari sisi lainnya.
Kondisi ini pun memaksa perusahaan beralih strategi dari volume ke value, dengan mengoptimalkan portofolio dan menaikkan harga retail.
Dalam hal ini, vendor memilih untuk mulai meninggalkan smartphone dengan harga di bawah USD 400, sehingga produksinya diproyeksi anjlok hingga 22 persen YoY. Sementara smartphone di atas USD 400 akan naik 5,7 persen.
Kapan akan kembali normal?
Situasi ini, menurut Research Manager Omdia Le Xuan Chiew, akan berlangsung cukup lama. Ia memprediksi, penurunan harga memori diperkirakan paling cepat dimulai di paruh kedua 2027, tapi harganya tidak akan kembali ke level sebelum 2025.
"Penyesuaian taktis yang dilakukan vendor smartphone bukan sekadar respons jangka pendek, melainkan penyesuaian strategis yang permanen untuk memastikan kelincahan dan keberlanjutan bisnis di tahun-tahun mendatang," katanya.
Kondisi di Indonesia
Kondisi pasar global itu pun sedikit banyak tercermin di situasi pasar smartphone Indonesia. Berdasarkan laporan Counterpoint Research di Q1 2026, pengapalan pasar smartphone di Indonesia turun hingga 9 persen YoY.
Dalam laporan itu disebutkan segmen yang paling terdampak adalah lini smartphone entry level dengan harga di bawah USD 150 atau sekitar Rp 2,7 juta yang turun hingga 19 persen YoY.
Menariknya, meski segmen bawah menunjukkan kondisi pasar yang menurun, segmen atas justru meningkat. Counterpoint mencatat segmen ponsel premium (di atas USD 600) di Indonesia melonjak 30 persen YoY pada Q1 2026, mencatatkan rekor kontribusi tertinggi sebesar 8,3 persen dari total pasar di tengah kelesuan industri.
Pergeseran ini mencerminkan kalau pasar mulai beralih ke perangkat yang lebih premium, meski terjadi kenaikan harga. Dugaan sementara, hal ini dilakukan karena sebagian konsumen memilih perangkat kelas premium dengan harga lebih mahal, tapi dianggap lebih tahan lama.
Sementara di kelas smartphone budget, konsumen lebih memilih untuk menunda pembelian atau beralih ke smartphone bekas. Hal itu diduga terjadi karena segmen ini mengalami kenaikan harga, tapi spesifikasi yang dipakai tak berbeda dari produk sebelumnya.
Pax insight
Krisis memori harus diakui telah berdampak cukup besar pada pasar smartphone di dunia, termasuk di Indonesia. Ini menunjukkan pergeseran yang bisa mengubah lanskap smartphone secara permanen.
Salah satu yang jadi perhatian dari laporan Omdia adalah penurunan smartphone budget dengan harga USD 400. Sebab, vendor memang kesulitan mengimbangi biaya komponen yang terus naik, tapi tetap harus mengimbangi harga jual dan margin keuntungan.
Dampaknya, konsumen pun akan kesulitan mendapatkan perangkat dengan spesifikasi yang terbilang cukup, tapi dibanderol dengan harga masuk akal, mengingat memori menyedot hampir separuh biaya produksi smartphone di kelas ini.
Di sisi lain, laporan Counterpoint menunjukkan kalau segmen budget yang memiliki sensitif terhadap harga mengalami penurunan. Sementara sebagian konsumen memilih perangkat yang lebih mahal, karena dianggap sebagai investasi yang lebih baik.
Untuk itu, bagi mereka yang berencana membeli smartphone di tahun ini, mempercepat pembelian merupakan pilihan yang masuk akal. Sebab, prediksi Omdia menyebut kondisi ini akan terjadi hingga tahun depan, dan tidak akan pernah kembali normal.



