Gawai
Rabu, 8 Juli 2026 19:04 WIB

Harga RAM meroket, HP murah mulai ditinggal produsen

Laporan Omdia sebut RAM kini capai 64 persen biaya produksi HP budget, membuat smartphone di bawah USD 400 diprediksi anjlok 22% tahun ini.
Ilustrasi: Pinterest

Laporan terbaru Omdia mengungkap kalau harga memori kini mencapai 64 persen dari biaya produksi smartphone budget. Kondisi ini pun memaksa produsen untuk menaikkan harga atau meninggalkan segmen tersebut. 

Untuk diketahui, segmen smartphone di bawah USD 400 (sekitar Rp 6,5 juta) merupakan tulang punggung pasar smartphone global, tak terkecuali di Indonesia. Sebab, mayoritas pembelian memang banyak dilakukan di rentang harga ini. 

Kenapa ini penting? 

Ketika produsen mulai meninggalkan segmen ini karena tidak lagi menguntungkan, dampaknya akan langsung dirasakan konsumen. Mulai dari pilihan yang berkurang, harga naik, hingga spesifikasi yang diam-diam diturunkan. 

Laporan Omdia mengungkap seberapa besar porsi memori (RAM) dalam biaya produksi smartphone. Untuk entry level dengan harga di bawah USD 99, biaya memori mencapai 64 persen dari total keseluruhan sebuah produk. 

Sementara untuk smartphone di rentang harga USD 100 hingga 400, biaya memori mencapai 59 persen dari total biaya material. Lalu untuk segmen lebih tinggi, biayanya memang tidak terlalu besar, tapi tetap terdampak. 

Titik kritis industri

Menurut Omdia, produk dengan rentang harga USD 400 akan menjadi titik balik bagi produsen smartphone saat ini. Sebab, mereka akan menghadapi dua pilihan sulit: 

  • Menaikkan harga perangkat di segmen ini
  • Menghapusnya dari lineup sama sekali

Omdia juga memprediksi kalau smartphone dengan harga di bawah USD 400 akan turun 22 persen YoY di tahun ini. Sementara smartphone dengan harga di atas USD 400 akan naik sekitar 5,7 persen. 

"Namun, harga yang lebih tinggi kemungkinan akan menyebabkan penurunan permintaan yang signifikan, karena konsumen kelas bawah sangat sensitif terhadap harga," kata Omdia dalam laporannya. 

Strategi produsen bertahan

Untuk itu, hal yang bisa dilakukan sejumlah produsen adalah menurunkan spesifikasi perangkat untuk mengimbangi biaya RAM yang membengkak. 

Dimulai dengan memilih panel layar yang lebih murah, mengurangi jumlah sensor kamera atau memakai sensor lebih kecil, hingga memakai chipset generasi lama. 

Hal itu sudah pun sudah dilakukan oleh sejumlah produsen. Salah satunya adalah Motorola dengan tetap menggunakan chipset yang sama dari tahun lalu untuk lini Moto G dan Motorola Razr tahun ini. 

Pax insight

Laporan Omdia iini menunjukkan perubahan yang signifikan dalam industri smartphone dalam beberapa tahun terakhir. Dan, dampaknya akan terasa bagi konsumen yang memang memiliki daya beli di rentang harga USD 400. 

Dengan perubahan ini, mereka akan kesulitan untuk mendapatkan perangkat yang memiliki spesifikasi cukup, tapi dengan harga masuk akal. Sebab, biaya untuk memori menyedot hampir separuh dari biaya produksi smartphone di kelas ini. 

Untuk itu, bagi mereka yang berencana membeli perangkat di segmen sekitar USD 100 hingga 400 (Rp 2 sampai 6 juta) juta mempercepat pembelian jadi pilihan masuk akal, ketimbang menunggu. Sebab, situasi ini dilaporkan akan berlangsung cukup lama.