Tahukah Anda tanggal 22 April diperingati sebagai Hari Bumi? Bicara tentang Bumi, sampah jadi salah satu masalah lingkungan terbesar yang dihadapi penduduk Bumi.
Seiring dengan perkembangan teknologi, sampah pun kini beralih dalam bentuk sampah elektronik alias e-waste. Smartphone usang, powerbank rusak, komputer jadul yang tak terpakai, hingga perkembangan artificial intelligence yang turut membanjiri Bumi dengan e-waste.
Seberapa banyak sampah elektronik saat ini?
Laporan terbaru dari PBB melalui Global E-waste Monitor menyebutkan bahwa penduduk bumi kini menghasilkan sekitar 62 juta ton sampah elektronik setiap tahunnya, di tahun 2022. Jumlah ini naik 82 persen dibandingkan 2012.
Masih dari data yang sama, angka tersebut setara dengan 350 kapal pesiar besar sepanjang 125 Km. Lebih panjang dari jarak Jakarta ke Bandung. Selain itu, 62 juta ton sampah juga setara dengan 107.000 pesawat besar dijejerkan.
Kondisi ini makin mengkhawatirkan, pasalnya kecepatan pertumbuhan e-waste global lima kali lebih cepat ketimbang tingkat daur ulangnya. Bahkan PBB juga memproyeksikan kalau tren masih berlanjut, pertumbuhan limbah elektronik global mencapai 82 juta ton pada 2030. Apa penyebabnya?
Tren ganti HP bisa pengaruhi sampah elektronik
Rupanya kontributor utama dari e-waste berasal dari konsumsi perangkat pribadi. Berdasarkan Counterpoint Research, rata-rata siklus penggantian smartphone di negara berkembang antara 2,5 hingga 3,5 tahun.
Serupa, studi Populix “Indonesian Mobile Phone Purchase Behavior” pada 2023 menyebut masyarakat Indonesia ganti ponsel tidak sampai 3 tahun sekali.
Gaya hidup sering “ganti HP” ini turut memicu peningkatan jumlah sampah elektronik. Gadget lawas yang terbengkalai atau dibuang di tempat sampah memicu ancaman pencemaran tanah karena material berbahaya di dalamnya.
Kecerdasan buatan turut menyumbang
Selain seringnya jarak penggantian smartphone, perkembangan artificial intelligence yang begitu cepat turut berpengaruh pada meningkatnya sampah elektronik.
Sebuah studi dari jurnal Nature Computational Science memprediksi bahwa tren AI akan menyumbang tambahan 1,2 hingga 5 juta ton metrik sampah elektronik baru menjelang tahun 2030.
Artikel Pax.id yang lalu menyebutkan, AI bergantung pada perangkat keras berkinerja tinggi, seperti GPU dan server khusus. Komponen usang pun tak bisa memenuhi kinerja yang diinginkan. Mau tak mau, agar AI bisa bekerja lebih cerdas, perangkat perlu diganti tiap 2 sampai 5 tahun sekali.
Pun demikian dengan pembangunan pusat data untuk menunjang kecerdasan buatan, turut mempercepat penumpukan mesin usang yang tak terpakai.
Potensi sampah elektronik
Jika bicara tentang sampah elektronik, sebenarnya masih ada potensi yang bisa digali. Sampah elektronik seperti sampah ponsel bekas ternyata mengandung emas yang lebih banyak ketimbang satu ton bijih emas hasil tambang. Demikian berdasarkan studi Yokohama Metal Co. beberapa tahun silam.
Oleh karenanya, ketika manusia membuang perangkat begitu saja tanpa melakukan daur ulang, sebenarnya, ada sumber daya berharga seperti perak, tembaga, hingga kobalt yang menjadi sia-sia.
Walau begitu, tak bisa dimungkiri kalau limbah elektronik juga mengandung zat beracun yang membahayakan lingkungan dan kesehatan manusia jika hanya diendapkan di tempat pembuangan akhir.
Apa yang bisa dilakukan?
Memperingati Hari Bumi bukan berarti kita harus berhenti menggunakan teknologi atau tak berganti gadget sama sekali. Peduli terhadap Bumi seharusnya menjadikan manusia sebagai pengguna yang lebih bijak. Apa yang dapat dilakukan?
- Reduce: Tanyakan pada diri sendiri apakah ponsel lama Anda masih bisa memenuhi kebutuhan sebelum tergoda promo terbaru?
- Repair: Gunakan jasa servis resmi atau terpercaya untuk memperpanjang usia perangkat, jadi tak selalu harus langsung ganti gadget kalau perangkat rusak.
- Daur Ulang di Tempat Resmi (Recycle): Manfaatkan e-waste drop box dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) atau layanan aplikasi jemput sampah elektronik yang tersedia di kota besar seperti Jakarta dan Depok.
- Bijak memilih perangkat, contohnya refurbished: Membeli perangkat refurbished resmi dapat mengurangi jejak karbon produksi perangkat baru.
Pax Insight
Dalam rangka Hari Bumi, sepatutnya manusia sebagai pengguna teknologi perlu memikirkan kembali bagaimana mereka memperlakukan perangkat bekas yang pernah dipakai, salah satunya smartphone lawas.
Seiring makin cepatnya laju peningkatan volume sampah elektronik, pengguna sejatinya bisa mulai mengelola sampah elektronik dengan lebih bertanggung jawab. Hal ini bisa jadi kado untuk Bumi di era digital.



