Sains
Kamis, 11 September 2025 19:12 WIB

Rover NASA temukan jejak kehidupan Mars kuno

Belum lama ini NASA mengumumkan bahwa rover Perseverance telah menemukan bukti paling kuat tentang kehidupan purba di Mars.
Ilustrasi Mars

Belum lama ini NASA mengumumkan bahwa rover Perseverance telah menemukan bukti paling kuat tentang kehidupan purba di Mars melalui sampel batuan bernama "Sapphire Canyon" yang dikumpulkan dari formasi batuan "Cheyava Falls" di Kawah Jezero pada Juli 2024, dilansir dari Digitaltrends. Temuan ini diterbitkan dalam jurnal Nature dan menandai momen bersejarah dalam pencarian kehidupan di luar Bumi.

Batuan Cheyava Falls menampilkan pola bintik-bintik seperti macan tutul yang belum pernah terlihat sebelumnya di permukaan Mars. Analisis menggunakan spektrometer SHERLOC dan PIXL mengungkap bahwa bintik-bintik ini mengandung mineral vivianite (besi fosfat) dan greigite (besi sulfida) yang terbentuk melalui reaksi kimia yang melibatkan bahan organik.

"Di Bumi, mineral-mineral ini sering kali merupakan produk sampingan dari metabolisme mikroba yang mengonsumsi bahan organik," kata Joel Hurowitz, ahli geologi planet dari Stony Brook University dan penulis utama penelitian. Kombinasi lumpur, bahan organik, dan mineral yang bereaksi menciptakan tekstur yang sangat mirip dengan jejak mikroba fosil di Bumi.

Formasi Bright Angel tempat sampel ditemukan terdiri dari batuan sedimen lempung dan lanau yang merupakan pengawet terbaik kehidupan mikroba masa lalu. Batuan ini kaya akan karbon organik, sulfur, besi teroksidasi, dan fosfor; kombinasi yang dapat menjadi sumber energi untuk metabolisme mikroba sekitar 3,5 miliar tahun lalu.

Sean Duffy, Administrator NASA sementara, menyatakan bahwa "ini adalah temuan terdekat yang pernah kita capai dalam menemukan kehidupan di Mars." Meski demikian, para ilmuwan menekankan bahwa ini adalah "potensi biosignature" yang memerlukan penelitian lebih lanjut untuk konfirmasi definitif.

Tim peneliti telah mempertimbangkan kemungkinan proses non-biologis yang dapat menciptakan pola serupa, seperti suhu tinggi atau kondisi asam. Namun, analisis menunjukkan bahwa batuan Bright Angel tidak pernah mengalami suhu tinggi yang diperlukan untuk reaksi abiotic tersebut.

"Semua metode yang kami gunakan untuk memeriksa batuan ini menunjukkan bahwa mereka tidak pernah terkena suhu yang cukup untuk menciptakan bintik-bintik macan tutul," kata Michael Tice dari Texas A&M University. "Jika demikian, kita harus serius mempertimbangkan kemungkinan bahwa mereka dibentuk oleh organisme," tambahnya.