Sains
Sabtu, 3 Januari 2026 17:09 WIB

Protein rambut bisa identifikasi tersangka saat DNA tidak tersedia di TKP

Para peneliti dari Universitas Edith Cowan di Australia Barat telah menemukan metode baru untuk mengidentifikasi manusia melalui analisis protein dalam rambut.
Ilustrasi

Para peneliti dari Universitas Edith Cowan di Australia Barat telah menemukan metode baru untuk mengidentifikasi manusia melalui analisis protein dalam rambut. Teknik ini disebut "proteomic genotyping" dan bisa menjadi andalan dalam investigasi kriminal ketika bukti DNA tidak tersedia atau rusak.

Dilansir dari New Atlas, metode ini bekerja dengan menganalisis protein dalam satu helai rambut untuk menciptakan profil unik setiap orang, mirip seperti sidik jari. Rebecca Tidy, seorang kimiawan dan penulis penelitian ini yang dimuat di jurnal Forensic Science International, menjelaskan bahwa teknik ini sangat berguna ketika DNA sudah terdegradasi atau hilang.

DNA memang sering mengalami kerusakan atau kontaminasi di tempat kejadian perkara. Selain itu, rambut yang ditemukan di lokasi kejadian biasanya rambut yang rontok, bukan yang masih memiliki akar folikel. Rambut rontok tidak mengandung DNA inti yang dapat menunjukkan identitas tertentu. Hanya DNA mitokondria yang tersisa, namun ini hanya bisa menunjukkan garis keturunan ibu, bukan identitas pribadi.

Teknik baru ini menggunakan variasi genetik alami dalam protein, terutama dalam bentuk "Single Amino Acid Polymorphisms" (SAP). SAP terbentuk karena perbedaan kode DNA setiap individu. Ketika protein dipecah menjadi potongan kecil (peptida) yang mengandung perbedaan asam amino spesifik, ini disebut "Genetically Variant Peptide" (GVP).

Para ilmuwan menggunakan spektrometer massa untuk menganalisis potongan protein ini dan menentukan urutan asam aminonya. Dengan memeriksa kelompok GVP ini, mereka dapat menghitung probabilitas kecocokan acak, yang menunjukkan seberapa besar kemungkinan bukti itu berasal dari orang tersebut.

Pax Insight

Penemuan proteomic genotyping menandai revolusi dalam forensik modern yang mengisi celah ketika DNA tidak dapat digunakan. Teknologi ini tidak hanya meningkatkan peluang memecahkan kasus kejahatan yang sulit, tetapi juga membuka kemungkinan identifikasi pada kasus-kasus lama yang belum terpecahkan serta korban bencana alam.