Sains
Selasa, 30 September 2025 15:19 WIB

Peneliti: Remaja langgar aturan tidur tapi tetap pulas

Selama ini, tiga aturan utama kebersihan tidur untuk remaja adalah menghindari layar, aktivitas fisik, dan makanan dalam satu jam sebelum tidur.
Ilustrasi

Penelitian terbaru dari University of Otago, Selandia Baru, menunjukkan fakta mengejutkan bahwa aturan "tidak boleh layar, tidak boleh olahraga, tidak boleh ngemil" sebelum tidur untuk remaja ternyata tidak berpengaruh besar terhadap kualitas istirahat mereka. Hampir semua remaja melanggar aturan ini namun tetap bisa tidur dengan baik, dilansir dari New Atlas.

Selama ini, tiga aturan utama kebersihan tidur untuk remaja adalah menghindari layar, aktivitas fisik, dan makanan dalam satu jam sebelum tidur. Alasannya, penggunaan layar dapat mengganggu hormon melatonin dan ritme sirkadian, olahraga membuat tubuh terlalu waspada, sedangkan makan, terutama yang mengandung kafein atau gula, dapat mengganggu proses tertidur.

"Tidur sangat penting bagi remaja untuk berkembang dan berfungsi optimal, tetapi sangat sedikit penelitian yang melihat perilaku sebelum tidur menggunakan alat ukur objektif seperti kamera," kata Chao Gu, peneliti utama dan mahasiswa PhD di Departemen Kedokteran universitas tersebut.

Penelitian selama delapan malam melibatkan 83 anak berusia 11-15 tahun (37% Maori, 42% perempuan) yang dipantau menggunakan kamera tubuh dan kamera tetap di kamar tidur. Aktivitas fisik sedang hingga berat dan penggunaan layar di tempat tidur diidentifikasi dari rekaman kamera, sementara alat pengukur di pergelangan tangan melacak waktu tertidur, durasi, dan kualitas tidur.

Hasilnya mengejutkan: 99% peserta menggunakan layar sebelum tidur hampir setiap malam dengan rata-rata 32 menit. Penggunaan layar tidak berpengaruh signifikan pada total waktu atau kualitas tidur, meski anak-anak butuh 23 menit lebih lama untuk tertidur di malam-malam mereka menggunakan layar.

Hanya 22% anak melakukan olahraga sedang hingga berat sebelum tidur dalam waktu singkat dan jarang. Di malam-malam mereka berolahraga, anak-anak justru mendapat 34 menit tidur tambahan, meski tidak terkait dengan ukuran tidur lainnya. Sementara 63% anak makan camilan sebelum tidur, tidak ditemukan hubungan signifikan antara makan atau minum, termasuk produk berkafein, bergula, atau berlemak, dengan hasil tidur apapun.

"Tidak banyak remaja yang mengikuti pedoman tidur saat ini, tetapi mereka yang melakukannya mengalami sedikit perbedaan dalam tidur mereka," kata Gu. Temuan ini menunjukkan bahwa saran kebersihan tidur saat ini mungkin terlalu ketat. Dalam praktiknya, perilaku-perilaku tersebut memiliki dampak kecil pada berapa lama atau seberapa baik anak-anak tidur.

Temuan ini memberikan harapan bagi keluarga yang kesulitan menerapkan aturan tidur yang ketat, menunjukkan bahwa pendekatan yang lebih fleksibel mungkin sama efektifnya dalam memastikan remaja mendapat istirahat berkualitas.