Penggunaan gadget secara obsesif pada anak-anak sering kali bukan sekadar soal kedisiplinan teknologi. Lebih dari itu, hal ini bisa menjadi tanda adanya masalah emosional yang lebih dalam, seperti stres akademik, kecemasan, atau konflik keluarga.
Kenapa ini penting: Memahami hal ini mengubah cara kita mencari solusi. Menyita perangkat atau melakukan “detoks digital” tidak akan efektif jika akar masalahnya (ketidakmampuan anak mengelola emosi atau rasa tidak aman) tidak diselesaikan.
Studi kasus: Situasi di Singapura menjadi contoh nyata. Mulai Januari 2026, Kementerian Pendidikan Singapura melarang total penggunaan ponsel selama jam sekolah, termasuk saat istirahat. Kebijakan ini muncul setelah fenomena siswa yang “berjalan seperti zombie” tanpa interaksi sosial, sebagaimana dilansir dari Hardwarezone.
Pandangan ahli
- Dr. Melvyn Zhang (IMH) dan psikoterapis Adelyn Tan menilai layar menjadi “pelarian cepat” bagi anak-anak yang tidak memiliki keterampilan regulasi emosi atau merasa tidak aman dalam hubungan sosial.
- Andrea Chan (TOUCH) menambahkan bahwa kebosanan sering menjadi pemicu utama. Anak-anak menggunakan gadget untuk mengatasi “rasa gatal” ketidaknyamanan yang belum siap mereka hadapi.
Data mengkhawatirkan
Studi lokal di Singapura terhadap pemuda usia 15–21 tahun menunjukkan:
- Sekitar 50% memiliki pola penggunaan ponsel yang bermasalah.
- Gejala yang muncul berkaitan langsung dengan kesehatan mental yang buruk, kecemasan saat tidak memegang ponsel (withdrawal), serta keluhan fisik seperti nyeri leher dan pergelangan tangan.
Perbedaan pola berdasarkan gender
- Anak laki-laki: Lebih banyak melarikan diri ke game, mencari anonimitas dan koneksi sosial yang tidak mereka dapatkan di dunia nyata.
- Anak perempuan: Lebih terikat pada media sosial, yang justru memicu stres tambahan terkait citra tubuh, perbandingan sosial, dan risiko perundungan siber.
Pax insight
Solusi untuk masalah “kecanduan layar” bukanlah perang melawan perangkat itu sendiri, melainkan pendekatan holistik yang berfokus pada kebutuhan emosional anak. Selama rasa sakit, kecemasan, atau kekosongan batin tidak diatasi, anak akan terus mencari layar sebagai “obat penenang digital” mereka. Dengan kata lain, waktu layar berlebihan hanyalah gejala; akar masalahnya ada pada kebutuhan emosional yang belum terpenuhi.



