Para ilmuwan telah menemukan cara kreatif untuk membuat nosel pencetakan 3D yang sangat halus: dengan menggunakan jarum penghisap darah nyamuk. Peneliti dari Universitas McGill di Montreal dan Universitas Drexel di Philadelphia telah mengubah alat penghisap darah nyamuk betina menjadi nosel pencetakan 3D yang inovatif, dilansir dari New Atlas.
Jarum nyamuk betina dirancang sangat tipis karena harus bisa menembus sel-sel kulit untuk menjangkau pembuluh darah di bawahnya. Selain itu, jarum nyamuk juga berlubang di dalamnya, kaku, dan lurus. Yang lebih penting lagi, sumbernya: nyamuk betina, murah dan melimpah.
Dengan keuntungan ini dalam pikiran, para peneliti mulai mengonversi alat-alat tersebut menjadi nosel pencetakan 3D. Meskipun nosel pencetakan ultra halus sudah ada, biasanya dibuat dari logam khusus atau kaca yang mahal dan sulit diproduksi.
Untuk penelitian mereka, para peneliti mendapatkan nyamuk Aedes Aegypti betina yang dirawat di laboratorium, menyimpannya di freezer, kemudian merendamnya dalam larutan etanol 80% untuk mensterilkan mereka.
Selanjutnya, sarung pelindung lunak dari setiap jarum nyamuk dilepas dan dibuang. Resin yang dapat dicairkan sinar ultraviolet kemudian diterapkan pada bagian kaku jarum yang sekarang terbuka, dan dikeraskan dengan paparan cahaya UV. Jarum yang dilapisi resin kemudian dipotong dari tubuh nyamuk dengan pisau cukur, membentuk tabung kaku yang indah.
Tabung/nosel tersebut kemudian direkatkan ke ujung dispenser plastik standar, yang digunakan untuk mengeluarkan media cetak dalam printer 3D jenis DIW (direct ink writing).
Pengaturan ini mampu mencetak lapisan setipis 20 mikron, kira-kira setengah lebar dari apa yang dapat ditangani printer 3D komersial saat ini. Beberapa struktur kecil kompleks yang telah dicetak sejauh ini mencakup sarang madu, daun maple, dan bioskafol yang merangkul sel kanker dan sel darah merah.
Yang penting, setiap nosel dapat digunakan kembali berkali-kali sebelum perlu diganti. Ditambah lagi, ketika mereka dibuang, mereka terurai secara hayati.
Pax Insight
Penggunaan jarum nyamuk untuk nosel printer 3D menunjukkan bahwa inovasi manufaktur tingkat lanjut tidak selalu memerlukan bahan mahal sintetis, melainkan dapat memanfaatkan sumber daya biologis yang tersedia dengan efisien sambil menghadirkan solusi berkelanjutan untuk teknologi presisi tinggi.



