Empat tim yang tergabung dari pelajar dan mahasiswa Indonesia berhasil membuktikan bahwa generasi muda mampu menghadirkan solusi inovatif untuk tantangan lingkungan di sekitar mereka. Melalui ajang Samsung Solve for Tomorrow (SFT) 2025 kategori Teknologi untuk Keberlanjutan Lingkungan, keempat tim ini menunjukkan bahwa teknologi berbasis AI dan Internet of Things dapat menjawab permasalahan nyata di bidang pangan, pertanian, dan peternakan.
Samsung Solve for Tomorrow merupakan program berbasis STEM yang mendorong generasi muda untuk menciptakan solusi teknologi guna menjawab tantangan sosial di komunitas mereka. Tahun ini, program yang mengusung kolaborasi antara Samsung dan International Olympic Committee menghadirkan kesempatan bagi para inovator muda untuk berkompetisi hingga tingkat regional dan global.
Mengoptimalkan Gizi Melalui Teknologi Cerdas
Tim HACKIE CHAN dari Universitas Brawijaya meraih posisi terbaik kedua kategori perguruan tinggi dengan inovasi ‘Pantara’, platform digital berbasis Software as a Service yang dirancang khusus untuk memastikan bahan makanan tetap segar, sehingga dapat dipakai oleh UMKM, catering, bahkan dapur MBG untuk menjaga kualitas bahan makanan dengan optimal.

Platform Pantara memanfaatkan teknologi AI dan machine learning yang aplikatif dan mudah dikembangkan untuk mengoptimalkan manajemen bahan pangan segar. Dengan sistem berbasis SaaS, platform ini memungkinkan pemantauan ketersediaan bahan, prediksi kebutuhan, dan pengelolaan distribusi secara real-time, sehingga program yang menyasar jutaan anak, ibu hamil, dan ibu menyusui dapat berjalan lebih efektif.
Deteksi Kontaminan Tanah Melalui Jaringan Jamur
Tim FUNGAES dari SMAN Unggulan M.H. Thamrin keluar sebagai posisi terbaik pertama kategori pelajar dengan inovasi MycoSense, biosensor berbasis miselium jamur untuk mendeteksi pencemaran logam berat di tanah. Ancaman logam berat seperti timbal dan PFAS di tanah pertanian menjadi masalah serius, dengan delapan juta anak di Indonesia terpapar timbal melebihi standar WHO, yang meningkatkan risiko gangguan kognitif hingga kematian.

Solusi MycoSense memanfaatkan kemampuan alami jaringan miselium atau hifa jamur untuk mendeteksi kontaminan berat dengan mengidentifikasi anomali dalam sinyal listrik di ujung hifa saat bertemu dengan bahan kimia dan logam berat. Elektroda sederhana dipasang pada blok miselium dan dihubungkan ke Arduino untuk menangkap sinyal listrik, kemudian data dikirim ke cloud. AI menganalisis sinyal miselium, menentukan lokasi logam berat dalam tanah, dan menampilkannya dalam dashboard interaktif berupa heat map polutan secara real-time. Metode deteksi ini murah, cepat, mudah diakses, dan ramah lingkungan dibandingkan metode konvensional yang mahal dan sulit dijangkau.
Pengolahan Limbah Pertanian Terintegrasi IoT
MAN 2 Malang melalui tim TIMSES meraih posisi terbaik kedua kategori pelajar dengan inovasi EcoZone, teknologi daur ulang limbah cair dari industri pengolahan hasil pertanian. Limbah cair industri pertanian yang mengandung bahan organik, logam berat, dan bahan kimia berbahaya menjadi penyebab utama pencemaran air yang merusak ekosistem dan mengancam kesehatan masyarakat.

EcoZone menghadirkan solusi berbasis kombinasi metode filtrasi, ekstraksi-elektrokoagulasi, ozonasi, dan UV-C yang terintegrasi dengan Internet of Things. Teknologi elektrokoagulasi menggunakan arus listrik untuk membentuk flokulan yang mengikat kontaminan, sementara ozonasi memanfaatkan daya oksidasi tinggi ozon untuk menguraikan senyawa organik dan mensterilkan air. Penambahan UV-C memperkuat proses disinfeksi, dan integrasi IoT memungkinkan pemantauan kualitas air secara otomatis dan real-time. Kombinasi metode ini terbukti efektif menurunkan parameter pencemar seperti COD hingga lebih dari delapan puluh persen, sehingga air hasil pengolahan memenuhi baku mutu untuk dibuang atau didaur ulang.
Peternakan Berkelanjutan Bertenaga Surya
Tim R2045 NEST-X dari Madrasah International TechnoNatura melengkapi tiga besar dengan Kandang H.I.J.A.U, sistem peternakan ayam otomatis yang ramah lingkungan. Peternak ayam konvensional menghadapi tantangan pemberian pakan, minum, desinfektan, dan pembersihan kotoran yang masih manual, sehingga menyita banyak waktu dan tenaga, terutama untuk peternakan skala besar.

Kandang H.I.J.A.U mengintegrasikan sistem otomasi berbasis sensor pintar dan AI untuk memajukan operasi peternakan ayam. Sistem ini memanfaatkan panel surya sebagai sumber energi terbarukan untuk memastikan operasi yang efisien dan berkelanjutan. Sensor cerdas memantau suhu, kelembapan, kualitas udara, dan kebutuhan pakan secara otomatis, sementara teknologi IoT memungkinkan peternak memantau kondisi kandang melalui aplikasi. Penggunaan energi surya mengurangi ketergantungan pada listrik konvensional hingga empat puluh tiga persen, menjadikan peternakan lebih hemat biaya dan ramah lingkungan.
Masa Depan Berkelanjutan di Tangan Generasi Muda
Keempat inovasi ini membuktikan bahwa generasi muda Indonesia memiliki kepekaan terhadap permasalahan lingkungan dan kemampuan untuk menghadirkan solusi berbasis teknologi. Seperti disampaikan Bagus Erlangga, Head of Corporate Marketing Samsung Electronics Indonesia, teknologi yang digerakkan oleh empati dapat menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat. Melalui program Samsung Solve for Tomorrow 2025, harapan untuk masa depan yang lebih berkelanjutan semakin nyata di tangan para inovator muda Indonesia.



