Lautan menyimpan karbon dioksida 150 kali lebih banyak daripada atmosfer Bumi, dilansir dari New Atlas. Penumpukan karbon ini menyebabkan pengasaman laut yang dapat mengganggu rantai makanan dan mengurangi keanekaragaman hayati.
Ilmuwan dari Akademi Sains Tiongkok dan Universitas Teknologi Elektronik dan Sains Tiongkok di Shenzhen mengembangkan metode Penangkapan Langsung Lautan yang mengubah karbon terlarut menjadi bahan dasar plastik yang dapat terurai secara alami.
Proses ini bekerja dalam tiga tahap. Pertama, listrik digunakan dalam reaktor khusus untuk mengasamkan air laut alami, mengubah karbon terlarut yang tidak terlihat menjadi gas murni yang kemudian dikumpulkan. Sistem lalu mengembalikan kimia alami air sebelum dikembalikan ke laut.
Kedua, gas karbon dioksida yang ditangkap dimasukkan ke reaktor kedua yang berisi katalis berbasis bismut untuk menghasilkan asam format murni dan terkonsentrasi. Asam format menjadi sumber makanan kaya energi untuk mikroba.
Tahap ketiga melibatkan bakteri laut yang telah direkayasa, khususnya Vibrio natriegens, yang diberi makan asam format murni sebagai satu-satunya sumber karbon. Mikroba ini memetabolisme asam format dan menghasilkan asam suksinat secara efisien, yang kemudian digunakan langsung sebagai bahan dasar untuk mensintesis plastik yang dapat terurai secara hayati seperti polibutilena suksinat.
Metode ini bekerja dengan efisiensi 70 persen sambil mengonsumsi energi yang relatif kecil yaitu 3 kWh per kilogram karbon dioksida, dengan biaya sekitar Rp3.565.000 per ton karbon dioksida. Sebagai perbandingan, metode penangkapan langsung lautan lainnya diperkirakan menelan biaya minimal Rp5.781.500 per ton.
Teknologi ini dapat dioptimalkan lebih lanjut dan disesuaikan untuk memproduksi bahan kimia untuk bahan bakar, obat-obatan, dan makanan.



