Kisah
Jumat, 5 Juni 2026 08:15 WIB

Sepak terjang Grab di Indonesia, apa benar mau hengkang?

Grab diisukan akan hengkang dari bisnisnya di Indonesia setelah 12 tahun mengaspal. Seperti apa sepak terjangnya di Tanah Air?

Rumor akan hengkangnya Grab dari pasar Indonesia berhembus beberapa hari terakhir. Meski begitu, lewat pernyataan, Grab berkomitmen tetap bertahan di Tanah Air. 

Hal ini menjadi sinyal positif tentang kepastian mata pencaharian jutaan mitra pengemudi dan pebisnis UMKM yang selama ini masuk dalam ekosistem Grab. 

Grab sendiri menyebutkan telah berkiprah selama lebih dari 10 tahun sekaligus memberikan kontribusi besar bagi pasar Indonesia. Klaim Grab menyebut, pihaknya menguasai sekitar 50 persen pangsa pasar di sektor industri ride-hailing dan online delivery secara nasional. 

Tak hanya itu, Grab klaim telah menciptakan 4,6 juta peluang kerja bagi masyarakat lokal. Lantas, bagaimana sepak terjang Grab selama berbisnis di Indonesia? Simak dalam rangkuman yang disajikan tim Pax.id berikut ini. 

Kapan pertama kali Grab mengaspal di Indonesia?

Grab pertama kali menjejakkan kaki di Indonesia pada Juni 2014, dengan nama GrabTaxi. Perusahaan asal Singapura ini masuk sebagai pemain asing dan menghadapi tantangan berat, salah satunya dominasi Gojek. 

Selain itu, GrabTaxi juga harus bersaing dengan Uber, raksasa global yang waktu itu tengah “bakar uang” di pasar Indonesia. 

Pada Juli 2014, Grab memperkenalkan GrabCar: layanan taksi online menggunakan mobil pelat hitam. Tak cukup dengan GrabCar, pada akhir 2014, Grab meluncurkan layanan ojek online GrabBike sebagai pesaing Gojek.

Pada November 2015, Grab menghadirkan layanan kurir instan untuk pengiriman dokumen atau barang menggunakan motor: GrabExpress yang bertahan sampai sekarang. 

Fitur apa saja yang ada di Grab?

Dua tahun setelah mengaspal di Indonesia, layanan Grab makin berkembang. Mei 2016, Grab mulai masuk ke layanan pesan-antar makanan melalui GrabFood yang kini jadi salah satu layanan paling banyak dipakai pengguna.

Layanan ini bermula dari ujicoba di beberapa area Jakarta, hingga saat ini menjadi salah satu motor pendapatan terbesar buat Grab. 

Grab juga ekspansi bisnis ke layanan tebengan mobil untuk rute komuter jarak jauh lewat GrabHitch di tahun 2016. Meski begitu, GrabHitch ini disetop, dan Grab mengalihkan fokus hanya di layanan-layanan utama. 

Pada 2018, Grab juga ekspansi ke layanan penyewaan mobil lengkap dengan sopirnya dengan hitungan jam. Layanan bernama GrabRent ini menyasar turis dan kebutuhan bisnis. 

Seiring waktu, untuk meningkatkan keselamatan baik mitra pengemudi maupun konsumen, Grab menghadirkan fitur keamanan seperti Share My Ride, Tombol Darurat (SOS), verifikasi wajah driver, hingga penyamaran nomor telepon. 

Kapan Grab akuisisi operasional Uber dan apa dampaknya?

Kalau bicara bisnis Grab, salah satu hal yang tak boleh dilewatkan adalah akuisisi operasional Uber di Asia Tenggara. Pencaplokan Uber oleh Grab untuk pasar Asia Tenggara ini terjadi pada Maret 2018, termasuk di Indonesia. 

Aksi korporasi ini jadi hal bersejarah karena mulai dari saat itu, persaingan bisnis layanan transportasi online di Indonesia menyisakan dua rivalitas besar: Grab dan Gojek. 

Lewat akuisisi bisnis Uber di Asia Tenggara, pengemudi dan pelanggan Uber otomatis bermigrasi ke Grab. 

Kapan OVO terintegrasi dengan Grab?

Kalau Gojek punya Gopay sebagai bagian dari bisnis teknologi finansial, Grab memilih tidak membuat e-wallet sendiri dari nol. Perusahaan besutan Anthony Tan ini menyuntikkan dana dan mengintegrasikan dompet digital lokal OVO ke aplikasinya. 

Imbasnya, strategi ini sukses besar, menjadikan OVO sebagai salah satu dompet digital terbesar di Indonesia. 

Sekadar informasi, Grab memiliki kepemilikan mayoritas di OVO. Hal ini membuat e-wallet yang khas dengan warna ungu itu sebagai salah satu dompet digital paling banyak terintegrasi dalam berbagai layanan di Indonesia. 

Sejak kapan Superbank bisa dipakai di aplikasi Grab?

Masih soal teknologi finansial, pada 18 Juni 2014, Grab dan Superbank mulai terintegrasi. Imbasnya, layanan Superbank bisa diakses langsung dari aplikasi Grab. 

Dengan begitu, pengguna bisa buka rekening, menabung, serta memakai rekening Superbank sebagai metode pembayaran di aplikasi Grab tanpa perlu unduh aplikasi terpisah. 

Tak cukup sampai situ, pada Mei 2026, Singtel Alpha mengalihkan saham ke GXS Bank, anak usaha Grab. Hal ini membuat kepemilikan Grab di Superbank naik jadi lebih dari 50 persen. Adapun saat ini, jumlah pengguna Superbank di Indonesia mencapai lebih dari 6 juta nasabah. 

Berapa jumlah driver Grab sekarang?

Grab tidak secara resmi membagikan informasi terkait jumlah mitra drivernya di Indonesia. Namun, perusahaan mengklaim kalau layanannya sudah menjangkau hingga 139 kota di Indonesia. 

Sementara, sumber lain menyebutkan secara regional Asia Tenggara, Grab didukung lebih dari 5-6 juta mitra pengemudi aktif. Khusus di Indonesia, jumlah mitra driver Grab diperkirakan antara 1-1,5 juta driver, gabungan pengemudi roda dua dan empat. 

Masalah apa saja yang pernah menimpa Grab di Indonesia?

Meski menguntungkan dari tahun ke tahun, operasional Grab di Indonesia tak selalu mulus. Dalam perjalanannya Grab menghadapi berbagai krisis. Apa saja?

  • Pada awal kemunculannya, Grab mendapatkan penolakan dari pelaku transportasi konvensional seperti ojek pangkalan, taksi, hingga angkot. Bahkan, pada Maret 2016, ribuan sopir taksi dan angkot melakukan demo besar-besaran di Jakarta yang berujung anarkis. Aksi sweeping hingga bentrokan fisik pun tak luput terjadi. 
  • Selain bermasalah dengan pelaku transportasi konvensional, mitra driver juga pernah “berteriak” terkait kebijakan skema bonus, insentif, hingga sistem suspend yang dinilai berlaku sepihak dan merugikan driver. 
  • Masalah lain adalah tindak kriminal oleh oknum mitra driver yang dinilai merusak reputasi Grab sebagai perusahaan. Kasus kekerasan seksual hingga perampokan misalnya, tak hanya terjadi sekali. 
  • Grab (bersama Gojek) juga pernah terancam blokir oleh regulator transportasi Indonesia, Kementerian Perhubungan, melalui permintaannya kepada Keminfo. Ini karena Grab dinilai melanggar UU Lalu Lintas: menggunakan kendaraan pelat hitam sebagai angkutan umum (tahun 2016). 
  • Bukan cuma itu, Grab juga mengalami tech winter akibat hantaman pandemi Covid-19, di mana perusahaan memangkas sekitar 5 persen karyawannya. Lebih lanjut, pada Juni 2023, CEO Grab, Anthony Tan, mengumumkan PHK massal terhadap lebih dari 1.000 karyawan, termasuk yang beroperasional di Grab Indonesia. 

Berapa pendapatan Grab di Indonesia?

Sayangnya Grab tidak merilis angka resmi untuk pendapatannya di Indonesia, namun Grab mempublikasikan kisaran pendapatan mitra driver dengan berbagai kategorinya. 

Misalnya untuk GrabBike tier Jawara, rata-rata mendapatkan sekitar Rp 6,8 juta per bulan. Sementara GrabCar tier Jawara bisa memperoleh sekitar Rp 18 juta per bulan di Bali. 

Untuk tier lebih rendah, angkanya bisa jauh di bawah itu. Misalnya, sekitar Rp 1,6 juta per bulan untuk pengemudi GrabBike dan Rp 3,2 juta per bulan untuk pengemudi GrabCar. 

Sumber lain, Mordor Intelligence, menyebutkan pada tahun 2025, Grab Indonesia membukukan USD 715 juta atau setara Rp 11,5 triliun. Angka ini mengalami pertumbuhan 11,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Pax Insight

Grab lewat pernyataan resmi menyebut pihaknya berkomitmen tetap bertahan di Indonesia. Dengan pernyataan ini, artinya jutaan mitra driver, merchants UMKM, dan konsumen di Tanah Air masih bisa mendapatkan manfaat dari Grab. Sebagai perusahaan, Grab juga mendapatkan keuntungan  besar dengan operasional bisnisnya di pasar Indonesia, sehingga  kecil kemungkinan kalau perusahaan Singapura ini akan hengkang dari pasar yang besar ini.