Hibura
Kamis, 22 Januari 2026 19:06 WIB

Ubisoft batalkan remake Prince of Persia, rombak total struktur perusahaan

Langkah ini menunjukkan adanya masalah internal serius di raksasa game asal Prancis.

Ubisoft resmi membatalkan remake Prince of Persia: The Sands of Time bersama lima judul lain, di tengah pengumuman restrukturisasi besar yang membagi perusahaan menjadi lima unit bisnis baru, sebagaimana dilansir dari Engadget.

Kenapa ini penting: Langkah ini menunjukkan adanya masalah internal serius di raksasa game asal Prancis. Setelah bertahun-tahun pengembangan yang penuh kendala, Ubisoft memilih memangkas kerugian dan merampingkan operasional demi efisiensi jangka panjang.

Game yang dibatalkan dan ditunda:

  • Dibatalkan: Remake Prince of Persia (diumumkan sejak 2020), tiga IP orisinal baru, dan satu game mobile.
  • Ditunda: Tujuh game lain yang belum diumumkan. Salah satunya, yang seharusnya rilis kuartal ini, digeser jauh hingga sebelum April 2027.

Perubahan besar organisasi: Ubisoft kini dipecah menjadi lima “rumah kreatif” yang beroperasi secara independen.

  • Vantage Studios: Unit baru yang didukung Tencent, akan mengawasi franchise besar seperti Assassin’s Creed, Rainbow Six, dan Far Cry.
  • Penutupan Studio: Kantor di Stockholm dan Halifax resmi ditutup. Halifax sendiri baru saja membentuk serikat pekerja sebelum penutupan.
  • Massive Entertainment: Studio di balik Star Wars Outlaws juga akan mengalami restrukturisasi sesuai model baru.

Di balik layar: Rumor kuat menyebutkan bahwa remake Assassin’s Creed: Black Flag termasuk dalam daftar game yang ditunda. Sementara itu, Beyond Good & Evil 2 diklaim masih dalam pengembangan, meski statusnya semakin diragukan publik.

Hal yang perlu diperhatikan: Dampak terhadap tenaga kerja. Ubisoft menolak memberikan angka pasti mengenai jumlah PHK yang akan terjadi akibat penutupan studio dan reorganisasi besar ini.

Pax Insight

Pembatalan remake Prince of Persia dan restrukturisasi besar-besaran menunjukkan bagaimana Ubisoft berusaha menyelamatkan diri dari masalah internal dan finansial. Langkah ini sekaligus menegaskan bahwa ambisi besar dalam industri game harus diimbangi dengan strategi bisnis yang realistis dan struktur organisasi yang lebih efisien.