Hibura
Selasa, 13 Januari 2026 19:51 WIB

Minat mobil listrik menurun, pembeli kembali ke bensin

Sebuah studi menunjukkan bahwa banyak pengemudi masih ragu dengan mobil listrik sebagai pengganti mobil bensin.
Ilustrasi: Pinterest

Sebuah studi dari EY menunjukkan bahwa banyak pengemudi masih ragu dengan mobil listrik sebagai pengganti mobil bensin, sebagaimana dilansir dari Hardwarezone. Di Singapura, 32 persen responden berencana membeli mobil bensin dalam dua tahun ke depan. Angka ini naik dari 26 persen pada 2024.

Alasan utama mereka adalah kekhawatiran soal infrastruktur pengisian daya dan biaya tersembunyi. Temuan ini berasal dari Indeks Konsumen Mobilitas (MCI) 2025 EY yang dirilis pada 9 Januari. Tren di Singapura sejalan dengan kondisi global, di mana pengemudi kembali memilih mobil bensin. Meski begitu, para ahli menilai data penjualan 2025 kemungkinan tetap menunjukkan pendaftaran mobil listrik yang tinggi.

Namun, minat terhadap mobil bensin di Singapura masih lebih rendah dibanding rata-rata global. Secara global, 50 persen responden berencana membeli mobil bensin, naik dari 37 persen pada 2024.

Singapura selama ini dianggap sebagai pasar utama mobil listrik di Asia Tenggara. Tapi survei EY terhadap 300 pembeli mobil lokal menemukan bahwa kekhawatiran praktis (seperti jaringan pengisian daya yang belum matang dan harga penggantian baterai yang mahal) lebih kuat daripada optimisme awal terhadap mobil hijau.

Menurut Sriram Changali, pemimpin EY-Parthenon Asean dan Singapura, hasil survei tahun ini menunjukkan pembeli mobil di Singapura mulai mempertimbangkan kembali opsi bensin. Antusiasme yang menurun menandakan konsumen kini lebih berhati-hati dan realistis soal kepemilikan mobil.

Meski begitu, 58 persen pembeli mobil Singapura masih berminat membeli mobil listrik dalam dua tahun ke depan. Angka ini turun dari 73 persen pada 2024, tetapi tetap lebih tinggi dari rata-rata global 43 persen. Sementara itu, 10 persen responden belum menentukan pilihan.

Dari sisi pasar, BYD (produsen mobil listrik asal Tiongkok) menjadi merek terlaris di Singapura pada Mei 2025, mengalahkan Toyota untuk pertama kalinya. Pangsa pasarnya naik menjadi 19,7 persen dalam sembilan bulan pertama tahun itu. Namun, pada Juli, BYD juga meluncurkan mobil bensin di Singapura untuk pertama kalinya.

Mobil listrik sendiri menyumbang 43 persen pendaftaran mobil baru di Singapura pada sembilan bulan pertama 2025. Angka ini naik dari 33,8 persen pada 2024 dan 18,2 persen pada 2023.

Meski penjualan meningkat, masalah pengisian daya tetap jadi hambatan utama. Lebih dari separuh responden Singapura mengeluhkan kualitas pengisi daya publik dan masalah kompatibilitas antar jaringan. Secara global, hanya seperempat responden yang punya keluhan serupa.

Selain itu, lebih dari 40 persen responden di Singapura menyoroti biaya penggantian baterai yang tinggi, dan 40 persen lainnya menyebut kurangnya infrastruktur pengisian daya. Angka ini lebih tinggi dibanding rata-rata global, yaitu 28 persen.

Pax Insight

Penurunan minat terhadap mobil listrik di Singapura menunjukkan bahwa adopsi mobil hijau tidak hanya bergantung pada teknologi atau insentif pemerintah. Faktor praktis seperti kesiapan jaringan pengisian daya dan kepastian biaya kepemilikan lebih menentukan. Karena itu, pembuat kebijakan perlu fokus pada masalah konsumen, seperti standarisasi jaringan pengisian dan transparansi biaya penggantian baterai, agar kepercayaan terhadap transisi mobil listrik bisa kembali pulih.