Samsung tengah memperkuat posisinya di bisnis foundry lewat chipset 2nm GAA pertama mereka, Exynos 2600, meski laporan terbaru dari firma investasi meragukan tingkat keberhasilan produksinya.
Kenapa ini penting?
Dominasi TSMC membuat pasar tercekik. Klien kini rela membayar premi hingga 100% demi mengamankan slot produksi. Industri teknologi sangat membutuhkan alternatif yang layak, dan Samsung berusaha keras memposisikan diri sebagai "tali penyelamat" tersebut.
Tapi, apakah Samsung sanggup?
Dilansir dari laman Wccftech (25/1), meski Samsung merasa percaya diri untuk segera memproduksi chipset dengan teknologi 2nm, ada beberapa data yang saling bertentangan mengenai kesiapan perusahaan asal Korea Selatan tersebut.
- Skeptis: Firma investasi KeyBank memperkirakan yield 2nm Samsung masih di bawah 40%. Angka ini mengkhawatirkan jika Samsung ingin mencapai target profitabilitas pada 2027.
- Optimis: Sebelumnya, laporan industri menyebut yield sudah mencapai 50%. Fakta bahwa Samsung berhasil mengamankan kemitraan miliaran dolar dengan Tesla mengisyaratkan bahwa kualitas produksi mereka mungkin jauh lebih baik daripada estimasi konservatif analis.
Samsung menolak menanggapi angka dari KeyBank dan menyatakan kepada media bahwa perusahaan "tidak berkomentar mengenai rumor tak berdasar maupun spekulasi."
Pertaruhan yang bisa dimenangkan
Samsung saat ini sedang bertaruh besar pada infrastruktur mereka yang berada di Amerika Serikat. Pabrik mereka di Taylor, AS, yang awalnya disiapkan untuk produksi 4nm, kini dialihkan sepenuhnya untuk manufaktur 2nm. Dan mereka sudah melakukan uji coba operasional menggunakan mesin EUV dari ASML dijadwalkan mulai pada bulan Maret tahun ini.
Pax Insight
Chipset Exynos 2600 diproyeksikan akan menjadi debut teknologi 2nm ini, yang kabarnya sedang diuji coba untuk perangkat lipat masa depan seperti Galaxy Z Flip 8. Namun, masih banyak keraguan mengenai performa dari chipset yang satu ini mengingat performa dari chipset Exynos sebelumnya tidak sesuai ekspektasi pasar.



