Para peneliti dari Universitas Shanghai Jiao Tong berhasil mengembangkan baterai natrium-sulfur generasi baru yang digadang-gadang bisa menyaingi dominasi baterai lithium-ion, sebagaimana dilansir dari Digitaltrends. Keunggulannya ada pada biaya produksi yang sangat rendah serta faktor keamanan yang lebih tinggi.
Kenapa penting: Dunia saat ini sangat membutuhkan solusi penyimpanan energi. Namun, harga lithium semakin mahal dan baterai berbasis lithium rentan mengalami kebakaran (thermal runaway). Natrium, yang jauh lebih melimpah di alam, menawarkan alternatif murah yang bisa mendorong adopsi massal teknologi baterai.
Cara kerja: Tim peneliti berhasil mengatasi kelemahan klasik baterai natrium, yaitu tegangan rendah, dengan desain kimia baru.
- Desain tanpa anoda: Menggunakan kolektor arus berbahan aluminium foil dan katoda S8.
- Kimia redoks: Memanfaatkan reaksi S0/S4+ untuk menghasilkan densitas energi tinggi.
- Elektrolit aman: Menggunakan campuran kloraluminum yang tidak mudah terbakar, sehingga menghilangkan risiko ledakan yang sering menghantui baterai lithium.
Angka-angka mengejutkan:
- USD5,03 (sekitar Rp80.500): Biaya produksi per kilowatt-jam, jauh lebih murah dibanding standar industri saat ini.
- 2.021 Wh/kg: Kepadatan energi maksimal yang bisa dicapai dengan katalis Bi-C.
- 23.773 W/kg: Tingkat kepadatan daya yang sangat tinggi, membuat performanya mencuri perhatian industri.
Tantangan: Meski menjanjikan, ada kendala besar sebelum bisa diproduksi massal. Elektrolit yang digunakan sangat korosif dan sulit ditangani dalam proses manufaktur. Selain itu, baterai ini belum stabil jika terpapar udara, sehingga daya tahan jangka panjangnya masih dipertanyakan.
Gambaran besar: Jika masalah korosi dan stabilitas udara bisa diatasi, baterai natrium-sulfur ini berpotensi menjadi solusi utama penyimpanan energi skala besar, terutama untuk jaringan listrik (grid). Inovasi ini bisa menggeser ketergantungan dunia pada tambang lithium dan membuka jalan menuju sistem energi yang lebih aman, murah, dan berkelanjutan.
Pax Insight
Penemuan baterai natrium-sulfur dari Universitas Shanghai Jiao Tong menunjukkan bahwa dengan inovasi kimia dan desain tanpa anoda, baterai alternatif pasca-lithium bisa mencapai kepadatan energi tinggi dengan biaya jauh lebih rendah sekaligus lebih aman. Jika tantangan terkait daya tahan dan penanganan bisa diatasi, teknologi ini berpotensi menjadi solusi besar untuk penyimpanan energi skala luas di masa depan.



