Gawai
Rabu, 1 Juli 2026 17:05 WIB

Komdigi: spam judi online kini sasar influencer daerah

Komdigi ungkap operasi spam judi online telah meluas ke platform selain Instagram, dan menargetka influencer daerah.
Ilustrasi: Instagram

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menemukan perkembangan baru atas operasi spam judi online yang semakin mengkhawatirkan. 

Operasi tersebut kini tidak lagi terbatas pada satu platform media sosial, melainkan telah meluas secara bersamaan ke berbagai platform, sekaligus mengalami pergeseran target yang signifikan.
 
"Kami mendeteksi perluasan operasi spam judi online kini tidak lagi terbatas pada satu platform digital saja. Selain Instagram, aktivitas serupa juga teridentifikasi secara bersamaan di TikTok, Facebook, X, dan YouTube," ujar Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Komdigi Alexander Sabar. 

Kenapa ini penting? 

Dua perkembangan dalam temuan terbaru ini secara signifikan meningkatkan skala ancaman. Selain itu, sasaran penyebarannya juga mengalami pergeseran signifikan. 

Pertama, perluasan dari satu platform ke lima platform sekaligus menunjukkan bahwa jaringan ini bukan operasi kecil yang bereaksi terhadap tekanan, melainkan operasi yang tumbuh dan beradaptasi secara aktif. 

Lalu, pergeseran target ke influencer daerah mengungkap kecanggihan strategis yang mengkhawatirkan. Menurut Alexander, pelaku memahami psikologi kepercayaan digital dan mengeksploitasinya secara sistematis.

Lima platform yang kini diserang

  • Instagram: Target utama (volume tertinggi)
  • TikTok: Target utama (volume tertinggi)
  • Facebook: Teridentifikasi aktif
  • X (Twitter): Teridentifikasi aktif
  • YouTube: Teridentifikasi aktif
  • Threads: Belum jadi target utama (basis pengguna lebih kecil)

Komdigi mencatat, Instagram dan TikTok menjadi platform dengan volume serangan tertinggi karena tingginya penetrasi kreator konten daerah. Sebaliknya, Threads belum menjadi target utama karena basis penggunanya yang relatif lebih kecil.

Mengapa influencer daerah jadi target? 

Menurut Alexander, sekitar 52 persen target spam judi online mengarah pada akun-akun influencer daerah karena audiensnya dinilai memiliki tingkat kepercayaan yang lebih tinggi terhadap kreator, keterlibatan yang kuat dengan kreator konten, dan moderasi komentar lebih rendah dibanding akun resmi. 

"Kondisi ini membuat komentar promosi judi online berpotensi bertahan lebih lama dan menjangkau lebih banyak pengguna," tutur Alexander. 

Alexander juga mengungkap kalau seluruh operasi ini dijalankan menggunakan mesin otomatis berbasis bot dari India dan Brasil, serta dikendalikan oleh jaringan agen WNI yang merupakan bagian dari ekosistem white-label dengan lebih dari 138 agen aktif. 

Adapun modus operandinya ditandai dengan komentar berulang menggunakan berbagai variasi kata kunci, penggunaan tagar berbeda-beda untuk menghindari sistem moderasi otomatis, hingga memanfaatkan akun tak asli dan bot. 

Respons Komdigi

Sebagai tindak lanjut dari temuan tersebut, Komdigi terus memperkuat koordinasi dengan penyelenggara platform digital guna mempercepat penanganan akun-akun yang terindikasi menyebarkan promosi judi online.

Komdigi juga mengajak masyarakat agar tidak mengakses, membagikan, maupun melakukan interaksi dengan konten promosi judi online. Sebab, upaya pemberantasan judi online membutuhkan kolaborasi seluruh pihak, mulai pemerintah, platform digital, dan masyarakat. 

Pax insight

Temuan terbaru Komdigi ini mengungkap eskalasi yang lebih sistematis dan canggih dari yang sebelumnya terlihat. Pergeseran target dari akun pemerintah ke influencer daerah menggambarkan perubahan strategis yang dilakukan pelaku promosi judi online. 

Pelaku memahami bahwa akun pemerintah, meski memiliki jangkauan luas, juga memiliki moderasi yang lebih ketat dan pengguna yang lebih skeptis terhadap konten komentar.

Sementara influencer daerah menawarkan kombinasi yang mungkin dianggap lebih menarik, karena ada audiens yang percaya pada kreatornya, keterlibatan tinggi, dan moderasi rendah. 

Untuk itu, moderasi komentar yang proaktif kini harus mulai digalakkan oleh para kreator. Tidak hanya upaya untuk membersihkan komentar yang mencurigakan, tapi juga perlindungan pada audiens yang mempercayai mereka. 

Selain itu, audiens juga juga bersikap lebih kritis untuk tidak sembarangan mengklik tautan yang muncul di kolom komentar, meski terlihat organik atau relevan dengan konten yang mereka ikuti.