Counterpoint Research melaporkan anomali pasar chipset smartphone di tahun 2026. Data mereka menunjukkan volume pengiriman global diprediksi turun 7% akibat krisis harga DRAM, namun pendapatan industri justru akan tumbuh dua digit.
Kenapa ini penting?
Menurut Countepoint Research, saat ini tren "premiumisasi" menjadi penyelamat industri. Satu dari tiga smartphone yang dikirimkan tahun ini adalah perangkat high-end. Hal ini menguntungkan Apple dan Qualcomm yang mendominasi segmen atas, meskipun biaya komponen memori melonjak tajam.
Kenaikan harga DRAM dan NAND Flash memaksa pasar berkontraksi, namun nilai jual rata-rata (ASP) perangkat meningkat berkat adopsi AI dan transisi ke teknologi 2nm. Kenyataannya :
- MediaTek: Masih menjadi raja volume global meskipun paling terpukul oleh penurunan pengiriman kelas menengah.
- Samsung: Satu-satunya pemain utama yang diprediksi meningkatkan pangsa pasarnya tahun ini berkat peluncuran Exynos 2600 (2nm GAA).
Apa kata anga?
Dilansir dari laman Wccftech (29/1), menurut Proyeksi Pangsa Pasar 2026 Counterpoint, meski volume turun, hierarki pemain utama tetap stabil:
- MediaTek: 34% (Turun dari 34,4%).
- Qualcomm: 24,7% (Turun dari 25,1%).
- Apple: 18,1% (Turun dari 18,3%).
- Samsung: 12,1% (Naik dari 11,2%).

Pax insight
MediaTek memiliki kartu As dengan Dimensity 9600. Karena tetap menggunakan desain inti CPU dari ARM, mereka dapat menawarkan harga yang lebih kompetitif dibandingkan Qualcomm. Ini menjadikan MediaTek opsi menarik bagi produsen HP yang ingin menekan biaya produksi di tengah "badai" harga komponen.
Perlombaan teknologi 2nm pun diperkirakan akan dimulai tahun ini. Apple dikabarkan telah mengamankan pasokan awal TSMC untuk A20, sementara Samsung mencoba memulihkan reputasi dan kerugiannya melalui debut Exynos 2600.



