Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa kecerdasan buatan (AI) masih jauh dari siap untuk menggantikan pekerjaan profesional tingkat tinggi seperti pengacara, konsultan, atau bankir, sebagaimana dilansir dari Digitaltrends.
Kenapa penting: Temuan ini meredam ketakutan akan hilangnya lapangan kerja akibat otomasi. Saat ini, AI lebih berperan seperti “peserta magang” yang sering melakukan kesalahan dan tetap membutuhkan pengawasan manusia.
Angka-angka utama: Uji coba yang dilakukan oleh Mercor dan Carnegie Mellon University memperlihatkan hasil yang jauh dari ekspektasi hype AI.
- <25%: Tingkat akurasi model AI terbaik, Claude 3.5 Sonnet, dalam menyelesaikan tugas kantor nyata.
- 11%: Tingkat keberhasilan Google Gemini.
- 1,7%: Tingkat keberhasilan Amazon Nova.
Masalah utama: Bukan soal kecerdasan mentah, melainkan konteks. Dalam dunia kerja nyata, karyawan harus bisa menyatukan informasi dari berbagai sumber sekaligus, misalnya obrolan Slack, dokumen PDF, dan lembar kerja Excel. Manusia bisa melakukan peralihan konteks ini secara alami, sementara AI sering bingung, menghasilkan jawaban fiktif (halusinasi), atau menyerah ketika data tersebar.
Perkembangan saat ini: Meski hasilnya masih rendah, laju pembelajaran AI cukup cepat. Tahun lalu, model-model ini hanya mencatat skor 5–10%. Kini, lonjakan ke 24% menunjukkan bahwa AI sedang belajar “mengemudi” lebih cepat dari perkiraan, meski belum layak mendapatkan “SIM penuh”.
Pax Insight
Revolusi otomasi total belum terjadi. Untuk dekade mendatang, masa depan pekerjaan kantor lebih realistis berupa kolaborasi manusia + AI, bukan penggantian sepenuhnya. AI masih tertinggal jauh dalam hal menangani ambiguitas, memahami konteks sosial, dan menggunakan akal sehat. Dengan kata lain, AI saat ini baru sebatas asisten magang yang bisa membantu, tetapi belum bisa berdiri sendiri menggantikan peran profesional manusia.



