AI
Senin, 20 Juli 2026 08:03 WIB

Indonesia jadi founder WAICO, organisasi AI internasional

Indonesia resmi jadi salah satu dari 29 negara pendiri organisasi AI internasional WAICO untuk dorong tata kelola global.
Indonesia bergabung jadi founder WAICO yang didirikan di Tiongkok.

 

Pemerintah Indonesia resmi mengukuhkan posisinya di panggung teknologi internasional dengan menjadi salah satu dari 29 negara pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO) yang resmi didirikan di Shanghai, Tiongkok, pada 16 Juli 2026. 

Deklarasi yang dihadiri langsung oleh Sekretaris Jenderal PBB António Guterres serta Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Angga Raka Prabowo mendampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto ini menandai lahirnya organisasi internasional antar-pemerintah yang bersifat independen dan non-profit di bawah kerangka kerja PBB.

Dibentuk dengan visi AI for good and for all, kehadiran WAICO diharapkan bisa menjadi katalitastor bagi akselerasi sektor ekonomi digital nasional sebagai mesin utama penggerak ekonomi baru Indonesia menuju sektor industri bernilai tambah. 

Momentum strategis Indonesia perkuat tata kelola AI nasional 

Keterlibatan aktif Indonesia dalam aliansi global ini merupakan langkah taktis yang selaras dengan kebijakan domestik yang sedang dirumuskan di dalam negeri. Saat ini, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) tengah memfinalisasi penetapan Regulasi Peta Jalan Kecerdasan Artifisial Indonesia 2026–2029 dan Etika AI, menjadikannya modal kuat bagi Indonesia untuk mempercepat transformasi digital yang inklusif sekaligus bertanggung jawab.

Selain itu, bergabungnya Indonesia sebagai negara pendiri WAICO membuat Indonesia kini menjadi regulator dan perumus kebijakan AI di tingkat dunia, bukan lagi sekadar target pasar atau pengguna teknologi. Sebagai organisasi internasional yang bernaung di bawah PBB, WAICO dirancang untuk menjadi jembatan penghubung antara pembuat kebijakan dan penyedia teknologi global. 

29 negara pendiri WAICO

  • Algeria 
  • Belarusia 
  • Brasil 
  • Kamboja
  • Kamerun
  • Kongo 
  • Kuba
  • Etiopia
  • Indonesia
  • Kazakhstan
  • Kenya
  • Kirgizstan
  • Laos
  • Lesotho
  • Malaysia
  • Mozambik
  • Myanmar
  • Nikaragua
  • Oman
  • Pakistan
  • Rusia
  • Senegal
  • Serbia
  • Afrika Selatan
  • Tajikistan
  • Uzbekistan
  • Venezuela
  • Zambia
  • Tiongkok

Usulan konkret Indonesia

Menindaklanjuti pembentukan WAICO, Wamen Komdigi Angga Raka Prabowo memimpin delegasi Indonesia dalam agenda Informal Preparatory Session on the establishment of WAICO.

Didampingi Direktur Kecerdasan Artifisial dan Ekosistem Teknologi Baru Kemkomdigi, Aju Widya Sari, serta Minister Counsellor KBRI Beijing, Indonesia secara agresif mengajukan tiga usulan kerja sama konkret:

  1. Pengembangan Riset dan Transfer Teknologi: Memastikan teknologi AI tidak dimonopoli oleh negara maju.
  2. Berbagi Pengetahuan Smart City: Kolaborasi pengembangan kota pintar berbasis AI.
  3. Pengembangan Talenta Digital: Program masif untuk mencetak sumber daya manusia terampil di bidang kecerdasan artifisial.

Dalam pertemuan itu, Indonesia menekankan bahwa tata kelola AI global harus diwujudkan lewat aksi nyata, bukan sekadar penyusunan norma.

Hal ini wajib mencakup pendanaan yang terjangkau untuk mempersempit kesenjangan digital, mendukung UMKM, melestarikan bahasa lokal, menerapkan pendekatan risiko sesuai konteks nasional, serta mendorong sinergi agar tidak terjadi duplikasi kerja dengan lembaga PBB lainnya. 

Pax insight

Keputusan menjadi salah satu pendiri WAICO menunjukkan kalau Indonesia saat ini menempatkan AI jadi salah satu perhatian penting. Dengan aktif dalam forum internasional, Indonesia bisa menyuarakan hal-hal penting terkait penggunaan AI dan dampaknya. 

Salah satu yang disuarakan adalah memastikan AI tidak dimonopoli negara maju, menunjukkan kalau teknologi ini harus bisa dimanfaatkan secara inklusif, tak hanya negara adidaya atau alat dari korporasi besar. 

Terlebih, Indonesia saat ini tengah menyusun Peta Jalan AI Indonesia 2026-2029 yang mendukung pemanfaatan AI di dalam negeri secara lebih bijak dan tepat guna, termasuk mendorong perkembangan pelaku usaha lokal.