Para pengguna media sosial dibuat terkejut dengan pengumuman terbaru dari OpenAI. Soalnya, baru-baru ini, perusahaan yang fokus mengembangkan teknologi AI tersebut mengumumkan kehadiran platform media sosial baru, yang disebut-sebut akan menandingi TikTok.
Platform media sosial ini akan menampilkan format video vertikal, namun dengan sedikit plot twist. Platform ini akan didukung kemampuan Sora 2, yang dimana merupakan teknolgi pembuat gambar atau video terbaik yang perusahaan tersebut miliki.
Namun, ada satu hal yang membedakan media sosial OpenAI dengan TikTok. Aplikasi ini hanya akan menampilkan konten yang sepenuhnya dibuat oleh AI. Dilansir dari laman Engadget (30/9), pengguna dikabarkan tidak memiliki opsi untuk mengunggah foto atau video dari galeri ponsel mereka. Inilah yang menjadikan aplikasi ini eksperimen unik dalam dunia konten generatif, memposisikannya sebagai platform video sosial AI-saja.
Untuk penggunaan di dalam aplikasi, OpenAI akan membatasi Sora 2 untuk menghasilkan klip dengan durasi maksimal 10 detik atau kurang. Batasan ini cukup berbeda dengan TikTok, yang setelah memiliki batas asli 15 detik, kini memungkinkan pengguna mengunggah klip hingga 10 menit. Pembatasan durasi yang ketat ini menunjukkan fokus pada konten yang cepat, mudah dicerna, dan sepenuhnya AI-generatif.
Aplikasi baru ini juga dikabarkan akan menyertakan alat verifikasi identitas. Apabila seorang pengguna memanfaatkan fitur ini, Sora 2 akan dapat menggunakan rupa (likeness) mereka dalam video yang dihasilkan AI. Dengan kata lain, pengguna lain akan dapat me-tag pengguna tersebut dan menggunakan rupa mereka ketika me-remix salah satu video.
Sebagai tindakan pencegahan keamanan, OpenAI akan memberikan notifikasi kepada pengguna setiap kali rupa mereka digunakan oleh orang lain. Pemberitahuan ini akan dikirimkan bahkan dalam situasi di mana seseorang membuat video tetapi tidak pernah mempostingnya ke feed aplikasi. Langkah ini menunjukkan komitmen OpenAI terhadap privasi dan kontrol identitas di tengah perkembangan teknologi deepfake yang semakin canggih.
Mengenai isu hak cipta, software ini dikabarkan akan menolak menghasilkan beberapa video karena adanya batasan copyright. Namun, ketahanan perlindungan ini masih menjadi pertanyaan. The Wall Street Journal melaporkan bahwa OpenAI akan meminta pemegang hak untuk memilih keluar (opt out) agar konten mereka tidak muncul dalam video yang dihasilkan Sora 2.
Alasan mengapa OpenAI merilis aplikasi media sosial ini dikaitkan dengan momen strategis. Wired menduga bahwa perusahaan melihat peluang setelah Presiden Trump berulang kali memperpanjang batas waktu bagi ByteDance untuk mengalihkan bisnis TikTok di AS ke bawah kendali Amerika.
Dengan menambahkan komponen sosial ke Sora, OpenAI mungkin berharap dapat mencegah pengguna mencoba model AI lain. Meninggalkan aplikasi barunya berarti meninggalkan komunitas apa pun yang terbentuk di sekitarnya. Strategi ini menegaskan ambisi OpenAI untuk tidak hanya memimpin di teknologi Large Language Model, tetapi juga di dunia kreasi konten visual generatif.
Pax Insight
Di Indonesia sendiri, konten yang menggunakan AI tampaknya masih belum dapat diterima oleh masyarakat sepenuhnya. Belakangan ini, konten kreator yang sepenuhnya memanfaatkan AI sudah mulai berkurang, hanya menyisakan penggunaan voice over seperti sedia kala.
Selain itu, para pembuat konten berbasis AI mulai meninggalkan tipe video ini dikarenakan beberapa hal, yang dimana salah satunya adalah harga dari langganan teknologi AI tersebut yang juga tak murah.
Tapi, dengan kehadiran media sosial OpenAI yang sepenuhnya berbasis AI mungkin akan mulai mengembalikan gairah penggunaan AI untuk konten video sepenuhnya.



