Ilmuwan Australia dari RMIT University mengembangkan tetes mata revolusioner menggunakan teknologi nano-cubosome untuk mengangkut senyawa lutein langsung ke retina tanpa memerlukan suntikan mata yang menyakitkan. Dilansir dari New Atlas, penelitian ini memberikan harapan baru bagi jutaan penderita age-related macular degeneration (AMD) di seluruh dunia.
Tim peneliti menggunakan sistem penghantar cubosome berteknologi nano yang bertindak seperti "kotak lipid kecil" untuk melindungi senyawa rapuh. Lutein yang diekstrak dari buah Gac (Momordica cochinchinensis), melon oranye-merah khas Asia Tenggara yang kaya karotenoid, dimuat ke dalam carrier nano dan berhasil menembus kornea hingga mencapai retina di bagian belakang mata.
"Carrier cubosome kami bertindak seperti perisai mini, menjaga senyawa tetap aman dan melepaskannya secara terkontrol setelah masuk ke dalam mata," kata Charlotte Conn, peneliti utama dari RMIT School of Science. Formulasi ini terbukti stabil pada suhu ruang selama berbulan-bulan, memberikan keunggulan praktis untuk penggunaan klinis.
Dalam studi preklinik menggunakan tikus Swiss ARC dengan kadar lutein retina rendah, tetes mata cubosome menunjukkan hasil menggembirakan. Meski injeksi intravitreal mencapai konsentrasi puncak dalam satu jam, tetes mata menunjukkan penumpukan bertahap di retina selama seminggu, memberikan efek berkelanjutan yang ideal untuk penggunaan jangka panjang.
Uji kultur sel menunjukkan bahwa lutein yang dihantarkan melalui cubosome dapat menurunkan konsentrasi senyawa toksik VEGF-A dan IL-6 yang menyebabkan inflamasi dan pertumbuhan pembuluh darah patologis. Efek ini dicapai melalui aktivasi jalur Nrf2/HO-1, sistem pertahanan antioksidan alami tubuh.
AMD saat ini diobati dengan suntikan anti-VEGF langsung ke mata setiap 4-12 minggu, prosedur yang menyakitkan dan traumatis bagi pasien. Dr. Dao Nguyen, co-leader penelitian yang kini di Deakin University, menegaskan: "Suntikan mata berulang menyakitkan dan membuat stres pasien. Formulasi ini bisa digunakan sebagai langkah preventif untuk mengurangi risiko penyakit stadium lanjut".
Tetes mata tidak sepenuhnya menggantikan suntikan, namun dapat menunda atau mencegah kebutuhan pengobatan invasif untuk AMD dan kondisi degeneratif retina lainnya. Ini sangat penting mengingat AMD menyerang ratusan juta orang global dan menjadi penyebab utama kebutaan pada lansia.



