Ilmuwan dari Universitas Teknologi Nanyang (NTU) Singapura berencana meluncurkan nanosatelit cerdas pada tahun 2026. Satelit ini akan dilengkapi teknologi AI edge computing yang mampu memproses data langsung di orbit, tanpa harus menunggu transmisi penuh ke stasiun bumi.
Kenapa ini penting: Pengiriman data dari luar angkasa memiliki keterbatasan besar, baik dari sisi bandwidth maupun waktu jendela kontak dengan stasiun bumi. Dengan memproses data langsung di satelit, waktu transmisi bisa dipangkas drastis. Hal ini sangat krusial untuk respons cepat terhadap bencana alam, seperti kebakaran hutan atau tumpahan minyak, di mana informasi real-time sangat dibutuhkan, sebagaimana dilansir dari Hardwarezone.
Cara kerja:
Alih-alih mengirimkan data mentah (misalnya foto yang tertutup awan) ke bumi, AI di dalam satelit akan melakukan beberapa langkah:
- Analisa: Memilah gambar yang berguna dan bebas awan secara otomatis.
- Prioritas: Menandai peristiwa yang dianggap mendesak.
- Kompres: Mengirimkan hanya koordinat penting dan ringkasan analisis dalam ukuran kecil (kilobyte/megabyte), bukan file mentah berukuran besar.
Apa kata mereka: “Satelit cerdas dapat memutuskan apa yang penting... memastikan bandwidth ruang angkasa yang berharga digunakan untuk memberikan jawaban, bukan gangguan,” ujar Lim Wee Seng, Direktur Eksekutif Pusat Penelitian Satelit (SaRC) NTU.
Spesifikasi:
- Ukuran: Sangat ringkas, hanya 30 cm x 10 cm x 10 cm, dengan berat kurang dari 5 kg.
- Orbit: Akan beroperasi di ketinggian 500 km di atas permukaan Bumi.
- Mitra: Satelit ini dibangun oleh perusahaan teknologi luar angkasa lokal, Satoro Space.
Langkah selanjutnya: Proyek ini merupakan bagian dari inisiatif besar yang didukung dana pemerintah Singapura lebih dari SGD200 juta (sekitar Rp2,6 triliun). Selain teknologi AI, misi ini juga akan menguji sel surya perovskite generasi baru. Rencana masa depan lainnya mencakup uji sistem propulsi satelit pada 2028 dan peluncuran kamera pencitraan canggih untuk Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada 2027.
Pax insight
Dengan nanosatelit AI ini, Singapura berusaha memimpin inovasi teknologi luar angkasa di kawasan Asia. Fokus pada pemrosesan data langsung di orbit bukan hanya efisiensi teknis, tetapi juga solusi nyata untuk menghadapi tantangan global seperti bencana lingkungan. Dukungan dana besar menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjadikan teknologi luar angkasa sebagai bagian penting dari strategi nasional.



